Taat,
Efesus 6:1-2.
Sewaktu masih ABG dulu, saya tergolong anak yang keras kepala. Segala yang disuruh ibu saya, jarang sekali saya turuti. Disuruh menyiram tanaman, saya malah asyik membaca komik. Disuruh potong rambut, saya malah tetap membiarkan rambut saya panjang. Alhasil di sekolah malah guru saya yang mencukur habis rambut saya sampai coak-coak nggak karuan. Dengan bahasa belanda yang belum fasih, Ibu saya sering menyebut saya koppig: kepala batu. Tentu saja sikap kepala batu ini merupakan sebuah contoh yang buruk.
Kepada Jemaat di Efesus Rasul Paulus memberi penekanan mengenai kehidupan sebuah keluarga, dan bacaan kita pada hari ini penekanannya mengenai sikap taat yang harus dimiliki seorang anak kepada orang tuanya. Uraian ini sebetulnya sangat normatif, "karena haruslah demikian," kata Paulus. Akan tetapi hal yang normatif seperti taat dan hormat pada orang tua kita bukan sekedar sebuah "kewajiban", melainkan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Tuhan. Maka itulah Paulus memberi penekanan lagi: "Ini adalah suatu perintah yang penting." Perintah siapa? Tentu saja perintah Tuhan sebagaimana tercantum dalam Dasa Titah.
Dewasa ini tak sedikit kita mendengar konflik terjadi antara anak dan orang tua. Hal ini bisa jadi karena nilai-nilai Ketuhanan tadi belum sepenuhnya melingkupi kehidupan keluarga ini. Kehadiran Tuhan di tengan kehidupan keluarga hanya dipandang sambil lalu saja. Padahal, kita tahu, "berbahagia tiap rumah tangga, di mana Kaulah tamu yang tetap." Ketaatan dan sikap hormat kepada orang tua pun haru dilandasi nilai-nilai Ketuhanan tadi. Karena Tuhanlah yang menganugerahkan kedua orang tua kita, sehingga seyogyanya, kita menghormati mereka dengan sikap taat seperti kepada Tuhan.
Efesus 6:1-2.
Sewaktu masih ABG dulu, saya tergolong anak yang keras kepala. Segala yang disuruh ibu saya, jarang sekali saya turuti. Disuruh menyiram tanaman, saya malah asyik membaca komik. Disuruh potong rambut, saya malah tetap membiarkan rambut saya panjang. Alhasil di sekolah malah guru saya yang mencukur habis rambut saya sampai coak-coak nggak karuan. Dengan bahasa belanda yang belum fasih, Ibu saya sering menyebut saya koppig: kepala batu. Tentu saja sikap kepala batu ini merupakan sebuah contoh yang buruk.
Kepada Jemaat di Efesus Rasul Paulus memberi penekanan mengenai kehidupan sebuah keluarga, dan bacaan kita pada hari ini penekanannya mengenai sikap taat yang harus dimiliki seorang anak kepada orang tuanya. Uraian ini sebetulnya sangat normatif, "karena haruslah demikian," kata Paulus. Akan tetapi hal yang normatif seperti taat dan hormat pada orang tua kita bukan sekedar sebuah "kewajiban", melainkan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Tuhan. Maka itulah Paulus memberi penekanan lagi: "Ini adalah suatu perintah yang penting." Perintah siapa? Tentu saja perintah Tuhan sebagaimana tercantum dalam Dasa Titah.
Dewasa ini tak sedikit kita mendengar konflik terjadi antara anak dan orang tua. Hal ini bisa jadi karena nilai-nilai Ketuhanan tadi belum sepenuhnya melingkupi kehidupan keluarga ini. Kehadiran Tuhan di tengan kehidupan keluarga hanya dipandang sambil lalu saja. Padahal, kita tahu, "berbahagia tiap rumah tangga, di mana Kaulah tamu yang tetap." Ketaatan dan sikap hormat kepada orang tua pun haru dilandasi nilai-nilai Ketuhanan tadi. Karena Tuhanlah yang menganugerahkan kedua orang tua kita, sehingga seyogyanya, kita menghormati mereka dengan sikap taat seperti kepada Tuhan.
0 komentar:
Posting Komentar