Selasa, 27 Mei 2014

SBP, Selasa 27 Mei 2014

Ia Tahu dan Mengawasi,
Amsal 5:21-23.

Dalam suatu proyek pekerjaan pengecoran jalan, seorang mandor mengawasi para tukang yang bekerja agar sesuai dengan perencanaan dan juga waktu yang ditentukan. Namun pada suatu saat sang mandor ada keperluan lain sehingga tidak dapat melakukan pengawasan di lapangan sepanjang hari. Hasilnya para tukang bekerja dengan santai, sehingga baja beton baru terpasang sebagian. Hal itu membuat mandor marah besar, karena para tukang bekerja seperti anak TK. Kalau diawasi rajin, kalau tidak diawasi seenaknya sendiri. Mestinya para pekerja itu, tetap melakukan segala sesuatu sebaik mungkin.
Demikianlah yang diharapkan kepada kita sebagai orang percaya untuk melakukan dan memikirkan hal-hal yang baik, terlebih ketika kita memahami bahwa apapun yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari, Tuhan selalu mengawasi lho perbuatan-perbuatan kita. Hal inilah yang ditekankan oleh bacaan kita, di tengah maraknya perbuatan daging (hawa nafsu) dapam kehidupan umat Tuhan. Inilah yang menjerumuskan mereka ke dalam perangkap dosa. Maka Amsal ini mengingatkan kita, khususnya orang muda, agar tidak terjebak kepada bentuk-bentuk penyimpangan seksual yang nyata-nyata bertentangan dengan kehendak Tuhan. Biasanya penyimpangan seseorang dalam hal seksual berawal dari keinginan hawa nafsu yang tak terkendali, kemudian terungkap dalam tindakan lahiriah. Akibatnya kehidupan menjadi pahit, merasa bersalah, masa depan dan kehormatannya tercabik-cabik.
Saudaraku, Tuhan memang memberi kebebasan kepada kita. Namun dalam kenyataan seringkali disalahgunakan, yaitu untuk kesenangan atau kenikmatan pribadi dan kurang memperhatikan keselamatan jiwa, entah jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain. Salah satu ciri kita memiliki kedewasaan adalah, kita melakukan segala sesuatu yang seharusnya kita kerjakan dengan hasil terbaik. Sebab Tuhan selalu mengawasi dan mengetahui apapun perbuatan kita, sehingga selalu jaga hati dan tindakan kita agar menghasilkan perbuatan-perbuatan yang memuliakan nama-Nya.

Senin, 26 Mei 2014

SBP, Senin, 26 Mei 2014

"Dengan Siapa Kita Bergaul, Itu Penting Lho!"
1 Kor 15:34.

Orang bijak Betawi berkata: "Tunjukkin siape sohib ente, maka ane akan tunjukkin siapa ente sebenarnya." Artinya Sedikit banyak siapa kita ditentukan oleh siapa teman-teman kita, siapa diri kita ditentukan oleh bagaimana lingkungan pergaulan kita, sehingga mudah untuk menerka siapa diri kita, dan ukurannya adalah siapa teman kita dan dengan siapa kita bergaul. Mengapa demikian? Sebab dengan siapa kita bergaul sangat mempengaruhi cara kita berpikir, bersikap dan bertindak. Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.
Jadi yang namanya pergaulan, sangat berpengaruh dalam hidup kita. Maka Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, sebuah jemaat yang cukup besar dan jemaat yang dikaruniai banyak kasih karunia dari TUHAN. Supaya berhati-hati dengan Hedonisme dan pergaulan buruk yang mencakup pergaulan bebas dan perbuatan-perbuatan dosa, supaya segera dibuang dan ditinggalkan. Apa yang Tuhan kehendaki agar kita tidak jatuh dan terjerumus dalam pergaulan yang buruk. Karena pergaulan yang buruk akan merugikan kita. Orang yang setia bisa berubah menjadi tidak setia, orang yang rajin bisa menjadi malas, orang yang biasa melakukan yang baik bisa berubah menjadi pelaku kejahatan dan orang yang hidup benar di mata Tuhan bisa berbalik hidup meninggalkan Tuhan hanya karena pergaulan.

Diakui, entah karena pelarian atau karena pengaruh lingkungan, banyak anak-anak muda yang terjebak dalam pergaulan yang salah. Pergaulan bebas, free sex, pesta miras/alkohol, serta menggunakan narkoba dll yang membawa kehancuran. Meski sering dibahas, tetapi pergaulan buruk terus berkembang. Lalu apa yang mesti kita lakukan sebagai pemuda/i kristiani? Mestinya kita memiliki kebiasaan baik yang selaras dengan tujuan Allah dalam hidup kita? Kita harus tanamkan hal-hal ini dalam hati kita: 1. Mulailah membuat komitmen dengan Tuhan 2. Pisahkanlah dirimu dari hal dosa 3. Tentukan tujuan hidup barumu 4. Berdirilah di atas kebenaran Firman Allah.

SBP, Minggu 25 Mei 2014

Bersatu dan Stop Egoisme!
Yohanes 17:20-21.

Seperti halnya orang tua yang bijaksana ketika mengetahui bahwa saat kematiaanya tidak lama lagi tiba, maka dalam kesempatan yang ada biasanya akan memberikan pesan-pesan atau wejangan terakhir. Karena itu pantas untuk mendapatkan perhatian dan sebisa mungkin dituruti. Tidak jarang kita melihat bahwa isi nasehat yang disampaikan adalah, suatu harapan yang sangat dalam yaitu supaya sepeninggalannya semua anak-anak beserta menantu dan cucu-cucu, hidup dalam kesatuan dan kerukunan. Sebab ada faktor yang sangat potensial penyebab terjadinya konflik bahkan perpecahan dalam keluarga, yaitu masalah pembagian harta warisan. Inilah tentu yang harus dihindari.

Demikianlah harapan Yesus yang sangat dalam kepada murid-muridNya sehingga menjadi bagian dari doa yang diungkapkan Yesus di saat-saat menjelang penangkapan, atau saat kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Ia tidak hanya menegaskan bahwa Ia dan Bapak-Nya adalah satu, tetapi Ia menghendaki agar kita juga satu dengan Tuhan kita (ay 21). Satu dengan Allah berarti: satu dalam kehendak, satu dalam kasih, satu dalam komitmen. Apa yang dikehendaki Allah, juga menjadi kehendak kita. Jangan dibalik: apa yang kita kehendaki, dikehendaki Allah. Demikian juga kesatuan yang dimaksud bukanlah keseragaman atau bahwa semua orang Kristen harus berpikir dan melakukan hal yang sama. Kesatuan justru terlihat dengan baik di dalam keragaman.

Diakui bahwa membangun kesatuan dan kebersamaan dalam persekutuan tidaklah mudah. Setiap kita harus menyangkal diri, atau bagaimana mencegah supaya naluri ego kita tidak menjadi egoisme, yang berdampak salah satunya menjadikan kita manusia EGP. Bukankah dalam kesatuan kita dipanggil agar bersukacita dengan mereka yang bersukacita, menangis bersama dengan mereka yang menangis, dan melayani mereka yang membutuhkan. Rekan-rekan pemuda, kesatuan kita adalah kekuatan. Kesatuan kita bersama dalam GP ini sesungguhnya merupakan kekuatan yang memelihara keber-imanan dari ancaman dunia ini.

SBP, Sabtu 24 Mei 2014

Umat Berdoa Bagi Gereja,
Roma 16:19-20.

Jemaat Yahudi di Roma telah menjadi Kristen oleh peristiwa Pentakosta di Yerusalem (Kis 2:7-11+41). Namun belum ada rasul yang membinanya sebagai persekutuan Kristen. Rasul Paulus melaksanakan misi pekabaran Injil ke Roma agar menjangkau pembinaan jemaat di Roma, dan diharapkan jemaat berbuah sebagaimana jemaat lainnya (Roma 1:13).

Dalam bacaan hari ini, rasul Paulus mengungkapkan sukacitanya karena ia telah memenuhi target misinya. Karena itu harapan dan doanya adalah supaya  jemaat di Roma memancarkan kesaksiannya. Kesaksian adalah memberitakan hidup dalam Yesus yang penuh kasih, pengampunan dan pembaruan untuk menjadi manusia baru yang bersih dari segala yang jahat di dunia ini. Paulus menutup pesannya dengan ucapan berkat bagi jemaat. Dalam berkat itu ia memeteraikan masa depan kemenangan gereja bahwa iblis akan dihancurkan Allah dan diletakkannya di bawah kaki jemaat. Dengan itu, gereja di Roma akan tetap berdiri dalam segala zaman.

GP-ers yang dikasihi Tuhan, setiap hamba Kristus yang diutus untuk membina dan menggembalakan jemaat Tuhan di manapun, tidak akan pernah pergi begitu saja. Mereka selalu meninggalkan doa dan berkat Allah bagi jemaat. Mereka berharap jemaat akan berkembang dan menjadi terang yang membawa keselamatan bagi lingkungannya. Gereja harus menjadi berkat sampai Tuhan datang. Oleh karena itu, sebagai warga gereja janganlah kuatir bila di gereja terjadi masalah besar yang merisaukan. Itu pertanda bahwa iman gereja sedang diuji untuk menjadi kritis agar bisa tetap eksis di tengah masyarakat. Berdoalah kepada Tuhan bagi gereja-Nya dalam menyelesaikan masalahnya. Tuhan sebagai pemilik gereja akan campur tangan. Dengan kuasa-Nya Ia akan mengatasi kerisauan itu dengan keajaiban yang mengherankan kita semua.

SBP, Jumat, 23 Mei 2014

Jangan Munafik,
Yesaya 1:15-20.

Israel sesungguhnya umat pilihan Allah untuk menjadi saksi dan membawa berkat Tuhan bagi dunia ini. Nyatanya Israel malah hidup dalam dosa yang merendahkan kemuliaan Tuhan dan dinista segala bangsa waktu itu. Allah merencanakan perhitungan dengan Israel berupa penghancuran dan pembuangan ke Babel.

Dalam bacaan hari ini, sebelum Allah melaksanakan penghukuman itu, Ia masih memberi kesempatan kepada Israel. Firman Tuhan mengingatkan Israel untuk bertobat dan menerima keselamatan. Firman Tuhan mengingatkan Israel untuk bertobat dari kejahatannya, melakukan pembaruan hidup, menjadi orang yang memiliki hati nurani yang berbelas kasih dengan melakukan keadilan, membela hak anak yatim-piatu dan memperjuangkan perkara para janda. Allah menjamin kepada Israel bahwa oleh perubahan itu Allah akan memberikan anugerah pengampunan dan pengudusan bagi Israel. Untuk meyakinkan bahwa Allah bersungguh-sungguh, Allah memeteraikan peringatak kepada Israel itu dengan berkat dan penghukuman. Jika mendengar dan merespon, mereka akan diberkati dengan kelimpahan. Bila tidak merespon akan terima hukuman Allah, mereka dimusnahkan dengan pedang musuh. Sejarah mencatat bahwa Israel tetap keras kepala dan menerima hukuman. Israel ditaklukkan oleh Kerajaan Babel dengan pertumpahan darah, lalu dibuang ke Babel setimpal dengan dosa mereka. Di Babel baru ada keluhan dan penyesalan (bacalah Maz 137).

GP-ers yang terkasih; Allah itu baik dan penuh pengasihan dan mau mengerti kelemahan umat-Nya serta mengampuninya. Roh Kudus yang Tuhan curahkan di hati kita sering membuat hati kita sadar akan kesalahan kita, tetapi kita berkeras untuk bertobat atau mengampuni. Berurusan dengan Tuhan bukanlah seperti dengan manusia, siapa kuat dia menang. Tuhan Yang Mahakuasa peringatan-Nya adalah kesempatan. Bertobat lebih baik dari pada hidup dalam kemunafikan.

SBP, Kamis, 22 Mei 2014

Nyanyian Rindu Umat,
Mazmur 42:7-12.

Mazmur sebenarnya adalah suatu curahan isi hati melalui nyanyian, dengan menggunakan iringan alat musik petik (dulu: kecapi, gambus, dsb). Sekarang alat musik petik yang populer adalah gitar. Dengan ditemani gitar, seseorang bisa bermazmur mencurahkan isi hatinya dalam nyanyian yang gembira atau sedih kepada Tuhan.

Bacaan kita hari ini, pemazmur mengungkapkan bahwa ia adalah umat Allah yang hidup di perantauan dan menderita, sehingga ia curhat kepada Tuhan bahwa ia rindu kepada Tanah Perjanjian Allah yang ditinggalkannya. Karena imannya berbeda dengan orang-orang di masyarakat, ia tidak disukai dan ditekan. Banyak orang mencemoohnya dan menjadi musuhnya. Ia merasa tertekan dan seakan Tuhan melupakannya dan tidak menolongnya. Namun dalam hatinya ia tetap percaya dan berharap kepada Tuhan bahwa Tuhan adalah Allahnya yang akan datang menyatakan pertolongan-Nya.

GP-ers yang dikasihi Tuhan. Saat di tanah rantau, keadaan kita sering tidak lebih baik dan mengalami banyak masalah pelik. Di perantauan kita tidak kenal siapa-siapa sebagai teman atau saudara dalam Tuhan, yang bisa mengajak kita beribadah pada suatu lingkungan jemaat yang baru. Akhirnya kita tidak pernah bersekutu dan iman kita goyah ketika menghadapi masalah kehidupan, termasuk memilih pacar, gadis atau pemuda idaman yang tidak seiman. Iman merupakan perkara yang sensitif bagi lingkungan dan pergaulan di mana kita merantau. Bisa terjadi reaksi yang menolak terhadap kita. Sebagai umat Allah diperantauan, adakah jiwa kita rindu untuk beribadah dengan sukacita kepada Allah? Keselamatan ditentukan oleh iman kita masa kini. Berfikirlah: nanti bagaiman? Bukan, bagaimana nanti saja! Melalui Mazmur ini, pemazmur mengajak kita merenungi masa depan dan nasib kita sebagai perantau.

SBP, Rabu, 21 Mei 2014

Fasik dan Bodoh,
Amsal 10:20-21.

Kitab Amsal boleh disamakan dengan pepatah, atau ucapan bijak yang berhikmat. Isinya merupakan panduan hidup atau teladan bagi penggemarnya agar menjadi orang yang berhasil. Pokok yang dibicarakan bermacam-macam tentang: orang malas, kemiskinan, kerajinan, kekayaan, raja, perempuan, anak-anak, dsb.
Bacaan kita pada hari ini, mengenai orang benar dan orang fasik. Kata fasik berasal dari kata Arab : al-fisk, yang artinya melanggar norma atau peraturan dan hukum. Orang fasik selalu keluar dari jalur kebenaran. Menurut Amsal 10:20, orang benar itu pemikirannya cemerlang. Diumpamakan seperti perak pilihan. Apabila dibakar, semakin nyata mutunya. Artinya pandangan orang benar itu bisa diuji kebenarannya, menjadi arahan hidup yang membawa ketentraman. Sementara pemikiran orang fasik sedikit nilainya, nilai adalah makna atau manfaatnya. Karena lebih banyak tidak benarnya dan menyimpang dari norma yang baik. Pemikiran mereka sangat beresiko pelanggaran dan mencelakakan. Pada ayat-21, orang fasik disejajarkan dengan orang bodoh, kurang pengetahuannya yang baik dan pendapatnya tidak bisa diharapkan dapat memberikan jalan keluar.

GP-ers yang dikasihi Tuhan, menjadi orang benar atau orang fasik bukan disebabkan oleh faktor keturunan. Penyebabnya ialah sikap hati dalam pergaulan. Seorang pemuda bisa menjadi fasik, jika ia membiasakan diri mengikuti sifat egois yang mau menang sendiri dan cemburu pada kesuksesan orang lain. Dia akan bertindak di luar kendali/kontrol. Kekristenan mengajarkan kita hidup berdasarkan firman Tuhan, sebab firman Tuhan itu merupakan kendali kelakuan kepada kebenaran dan suluh bagi jalan menuju hidup bahagia dalam anugerah Tuhan. GP-ers jauhilah kefasikan, sebab kefasikan itu adalah hidup yang menyimpang dari harapan sesama dalam pergaulan yang rukun dan damai.