Selasa, 27 Mei 2014

SBP, Selasa 27 Mei 2014

Ia Tahu dan Mengawasi,
Amsal 5:21-23.

Dalam suatu proyek pekerjaan pengecoran jalan, seorang mandor mengawasi para tukang yang bekerja agar sesuai dengan perencanaan dan juga waktu yang ditentukan. Namun pada suatu saat sang mandor ada keperluan lain sehingga tidak dapat melakukan pengawasan di lapangan sepanjang hari. Hasilnya para tukang bekerja dengan santai, sehingga baja beton baru terpasang sebagian. Hal itu membuat mandor marah besar, karena para tukang bekerja seperti anak TK. Kalau diawasi rajin, kalau tidak diawasi seenaknya sendiri. Mestinya para pekerja itu, tetap melakukan segala sesuatu sebaik mungkin.
Demikianlah yang diharapkan kepada kita sebagai orang percaya untuk melakukan dan memikirkan hal-hal yang baik, terlebih ketika kita memahami bahwa apapun yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari, Tuhan selalu mengawasi lho perbuatan-perbuatan kita. Hal inilah yang ditekankan oleh bacaan kita, di tengah maraknya perbuatan daging (hawa nafsu) dapam kehidupan umat Tuhan. Inilah yang menjerumuskan mereka ke dalam perangkap dosa. Maka Amsal ini mengingatkan kita, khususnya orang muda, agar tidak terjebak kepada bentuk-bentuk penyimpangan seksual yang nyata-nyata bertentangan dengan kehendak Tuhan. Biasanya penyimpangan seseorang dalam hal seksual berawal dari keinginan hawa nafsu yang tak terkendali, kemudian terungkap dalam tindakan lahiriah. Akibatnya kehidupan menjadi pahit, merasa bersalah, masa depan dan kehormatannya tercabik-cabik.
Saudaraku, Tuhan memang memberi kebebasan kepada kita. Namun dalam kenyataan seringkali disalahgunakan, yaitu untuk kesenangan atau kenikmatan pribadi dan kurang memperhatikan keselamatan jiwa, entah jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain. Salah satu ciri kita memiliki kedewasaan adalah, kita melakukan segala sesuatu yang seharusnya kita kerjakan dengan hasil terbaik. Sebab Tuhan selalu mengawasi dan mengetahui apapun perbuatan kita, sehingga selalu jaga hati dan tindakan kita agar menghasilkan perbuatan-perbuatan yang memuliakan nama-Nya.

Senin, 26 Mei 2014

SBP, Senin, 26 Mei 2014

"Dengan Siapa Kita Bergaul, Itu Penting Lho!"
1 Kor 15:34.

Orang bijak Betawi berkata: "Tunjukkin siape sohib ente, maka ane akan tunjukkin siapa ente sebenarnya." Artinya Sedikit banyak siapa kita ditentukan oleh siapa teman-teman kita, siapa diri kita ditentukan oleh bagaimana lingkungan pergaulan kita, sehingga mudah untuk menerka siapa diri kita, dan ukurannya adalah siapa teman kita dan dengan siapa kita bergaul. Mengapa demikian? Sebab dengan siapa kita bergaul sangat mempengaruhi cara kita berpikir, bersikap dan bertindak. Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.
Jadi yang namanya pergaulan, sangat berpengaruh dalam hidup kita. Maka Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, sebuah jemaat yang cukup besar dan jemaat yang dikaruniai banyak kasih karunia dari TUHAN. Supaya berhati-hati dengan Hedonisme dan pergaulan buruk yang mencakup pergaulan bebas dan perbuatan-perbuatan dosa, supaya segera dibuang dan ditinggalkan. Apa yang Tuhan kehendaki agar kita tidak jatuh dan terjerumus dalam pergaulan yang buruk. Karena pergaulan yang buruk akan merugikan kita. Orang yang setia bisa berubah menjadi tidak setia, orang yang rajin bisa menjadi malas, orang yang biasa melakukan yang baik bisa berubah menjadi pelaku kejahatan dan orang yang hidup benar di mata Tuhan bisa berbalik hidup meninggalkan Tuhan hanya karena pergaulan.

Diakui, entah karena pelarian atau karena pengaruh lingkungan, banyak anak-anak muda yang terjebak dalam pergaulan yang salah. Pergaulan bebas, free sex, pesta miras/alkohol, serta menggunakan narkoba dll yang membawa kehancuran. Meski sering dibahas, tetapi pergaulan buruk terus berkembang. Lalu apa yang mesti kita lakukan sebagai pemuda/i kristiani? Mestinya kita memiliki kebiasaan baik yang selaras dengan tujuan Allah dalam hidup kita? Kita harus tanamkan hal-hal ini dalam hati kita: 1. Mulailah membuat komitmen dengan Tuhan 2. Pisahkanlah dirimu dari hal dosa 3. Tentukan tujuan hidup barumu 4. Berdirilah di atas kebenaran Firman Allah.

SBP, Minggu 25 Mei 2014

Bersatu dan Stop Egoisme!
Yohanes 17:20-21.

Seperti halnya orang tua yang bijaksana ketika mengetahui bahwa saat kematiaanya tidak lama lagi tiba, maka dalam kesempatan yang ada biasanya akan memberikan pesan-pesan atau wejangan terakhir. Karena itu pantas untuk mendapatkan perhatian dan sebisa mungkin dituruti. Tidak jarang kita melihat bahwa isi nasehat yang disampaikan adalah, suatu harapan yang sangat dalam yaitu supaya sepeninggalannya semua anak-anak beserta menantu dan cucu-cucu, hidup dalam kesatuan dan kerukunan. Sebab ada faktor yang sangat potensial penyebab terjadinya konflik bahkan perpecahan dalam keluarga, yaitu masalah pembagian harta warisan. Inilah tentu yang harus dihindari.

Demikianlah harapan Yesus yang sangat dalam kepada murid-muridNya sehingga menjadi bagian dari doa yang diungkapkan Yesus di saat-saat menjelang penangkapan, atau saat kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Ia tidak hanya menegaskan bahwa Ia dan Bapak-Nya adalah satu, tetapi Ia menghendaki agar kita juga satu dengan Tuhan kita (ay 21). Satu dengan Allah berarti: satu dalam kehendak, satu dalam kasih, satu dalam komitmen. Apa yang dikehendaki Allah, juga menjadi kehendak kita. Jangan dibalik: apa yang kita kehendaki, dikehendaki Allah. Demikian juga kesatuan yang dimaksud bukanlah keseragaman atau bahwa semua orang Kristen harus berpikir dan melakukan hal yang sama. Kesatuan justru terlihat dengan baik di dalam keragaman.

Diakui bahwa membangun kesatuan dan kebersamaan dalam persekutuan tidaklah mudah. Setiap kita harus menyangkal diri, atau bagaimana mencegah supaya naluri ego kita tidak menjadi egoisme, yang berdampak salah satunya menjadikan kita manusia EGP. Bukankah dalam kesatuan kita dipanggil agar bersukacita dengan mereka yang bersukacita, menangis bersama dengan mereka yang menangis, dan melayani mereka yang membutuhkan. Rekan-rekan pemuda, kesatuan kita adalah kekuatan. Kesatuan kita bersama dalam GP ini sesungguhnya merupakan kekuatan yang memelihara keber-imanan dari ancaman dunia ini.

SBP, Sabtu 24 Mei 2014

Umat Berdoa Bagi Gereja,
Roma 16:19-20.

Jemaat Yahudi di Roma telah menjadi Kristen oleh peristiwa Pentakosta di Yerusalem (Kis 2:7-11+41). Namun belum ada rasul yang membinanya sebagai persekutuan Kristen. Rasul Paulus melaksanakan misi pekabaran Injil ke Roma agar menjangkau pembinaan jemaat di Roma, dan diharapkan jemaat berbuah sebagaimana jemaat lainnya (Roma 1:13).

Dalam bacaan hari ini, rasul Paulus mengungkapkan sukacitanya karena ia telah memenuhi target misinya. Karena itu harapan dan doanya adalah supaya  jemaat di Roma memancarkan kesaksiannya. Kesaksian adalah memberitakan hidup dalam Yesus yang penuh kasih, pengampunan dan pembaruan untuk menjadi manusia baru yang bersih dari segala yang jahat di dunia ini. Paulus menutup pesannya dengan ucapan berkat bagi jemaat. Dalam berkat itu ia memeteraikan masa depan kemenangan gereja bahwa iblis akan dihancurkan Allah dan diletakkannya di bawah kaki jemaat. Dengan itu, gereja di Roma akan tetap berdiri dalam segala zaman.

GP-ers yang dikasihi Tuhan, setiap hamba Kristus yang diutus untuk membina dan menggembalakan jemaat Tuhan di manapun, tidak akan pernah pergi begitu saja. Mereka selalu meninggalkan doa dan berkat Allah bagi jemaat. Mereka berharap jemaat akan berkembang dan menjadi terang yang membawa keselamatan bagi lingkungannya. Gereja harus menjadi berkat sampai Tuhan datang. Oleh karena itu, sebagai warga gereja janganlah kuatir bila di gereja terjadi masalah besar yang merisaukan. Itu pertanda bahwa iman gereja sedang diuji untuk menjadi kritis agar bisa tetap eksis di tengah masyarakat. Berdoalah kepada Tuhan bagi gereja-Nya dalam menyelesaikan masalahnya. Tuhan sebagai pemilik gereja akan campur tangan. Dengan kuasa-Nya Ia akan mengatasi kerisauan itu dengan keajaiban yang mengherankan kita semua.

SBP, Jumat, 23 Mei 2014

Jangan Munafik,
Yesaya 1:15-20.

Israel sesungguhnya umat pilihan Allah untuk menjadi saksi dan membawa berkat Tuhan bagi dunia ini. Nyatanya Israel malah hidup dalam dosa yang merendahkan kemuliaan Tuhan dan dinista segala bangsa waktu itu. Allah merencanakan perhitungan dengan Israel berupa penghancuran dan pembuangan ke Babel.

Dalam bacaan hari ini, sebelum Allah melaksanakan penghukuman itu, Ia masih memberi kesempatan kepada Israel. Firman Tuhan mengingatkan Israel untuk bertobat dan menerima keselamatan. Firman Tuhan mengingatkan Israel untuk bertobat dari kejahatannya, melakukan pembaruan hidup, menjadi orang yang memiliki hati nurani yang berbelas kasih dengan melakukan keadilan, membela hak anak yatim-piatu dan memperjuangkan perkara para janda. Allah menjamin kepada Israel bahwa oleh perubahan itu Allah akan memberikan anugerah pengampunan dan pengudusan bagi Israel. Untuk meyakinkan bahwa Allah bersungguh-sungguh, Allah memeteraikan peringatak kepada Israel itu dengan berkat dan penghukuman. Jika mendengar dan merespon, mereka akan diberkati dengan kelimpahan. Bila tidak merespon akan terima hukuman Allah, mereka dimusnahkan dengan pedang musuh. Sejarah mencatat bahwa Israel tetap keras kepala dan menerima hukuman. Israel ditaklukkan oleh Kerajaan Babel dengan pertumpahan darah, lalu dibuang ke Babel setimpal dengan dosa mereka. Di Babel baru ada keluhan dan penyesalan (bacalah Maz 137).

GP-ers yang terkasih; Allah itu baik dan penuh pengasihan dan mau mengerti kelemahan umat-Nya serta mengampuninya. Roh Kudus yang Tuhan curahkan di hati kita sering membuat hati kita sadar akan kesalahan kita, tetapi kita berkeras untuk bertobat atau mengampuni. Berurusan dengan Tuhan bukanlah seperti dengan manusia, siapa kuat dia menang. Tuhan Yang Mahakuasa peringatan-Nya adalah kesempatan. Bertobat lebih baik dari pada hidup dalam kemunafikan.

SBP, Kamis, 22 Mei 2014

Nyanyian Rindu Umat,
Mazmur 42:7-12.

Mazmur sebenarnya adalah suatu curahan isi hati melalui nyanyian, dengan menggunakan iringan alat musik petik (dulu: kecapi, gambus, dsb). Sekarang alat musik petik yang populer adalah gitar. Dengan ditemani gitar, seseorang bisa bermazmur mencurahkan isi hatinya dalam nyanyian yang gembira atau sedih kepada Tuhan.

Bacaan kita hari ini, pemazmur mengungkapkan bahwa ia adalah umat Allah yang hidup di perantauan dan menderita, sehingga ia curhat kepada Tuhan bahwa ia rindu kepada Tanah Perjanjian Allah yang ditinggalkannya. Karena imannya berbeda dengan orang-orang di masyarakat, ia tidak disukai dan ditekan. Banyak orang mencemoohnya dan menjadi musuhnya. Ia merasa tertekan dan seakan Tuhan melupakannya dan tidak menolongnya. Namun dalam hatinya ia tetap percaya dan berharap kepada Tuhan bahwa Tuhan adalah Allahnya yang akan datang menyatakan pertolongan-Nya.

GP-ers yang dikasihi Tuhan. Saat di tanah rantau, keadaan kita sering tidak lebih baik dan mengalami banyak masalah pelik. Di perantauan kita tidak kenal siapa-siapa sebagai teman atau saudara dalam Tuhan, yang bisa mengajak kita beribadah pada suatu lingkungan jemaat yang baru. Akhirnya kita tidak pernah bersekutu dan iman kita goyah ketika menghadapi masalah kehidupan, termasuk memilih pacar, gadis atau pemuda idaman yang tidak seiman. Iman merupakan perkara yang sensitif bagi lingkungan dan pergaulan di mana kita merantau. Bisa terjadi reaksi yang menolak terhadap kita. Sebagai umat Allah diperantauan, adakah jiwa kita rindu untuk beribadah dengan sukacita kepada Allah? Keselamatan ditentukan oleh iman kita masa kini. Berfikirlah: nanti bagaiman? Bukan, bagaimana nanti saja! Melalui Mazmur ini, pemazmur mengajak kita merenungi masa depan dan nasib kita sebagai perantau.

SBP, Rabu, 21 Mei 2014

Fasik dan Bodoh,
Amsal 10:20-21.

Kitab Amsal boleh disamakan dengan pepatah, atau ucapan bijak yang berhikmat. Isinya merupakan panduan hidup atau teladan bagi penggemarnya agar menjadi orang yang berhasil. Pokok yang dibicarakan bermacam-macam tentang: orang malas, kemiskinan, kerajinan, kekayaan, raja, perempuan, anak-anak, dsb.
Bacaan kita pada hari ini, mengenai orang benar dan orang fasik. Kata fasik berasal dari kata Arab : al-fisk, yang artinya melanggar norma atau peraturan dan hukum. Orang fasik selalu keluar dari jalur kebenaran. Menurut Amsal 10:20, orang benar itu pemikirannya cemerlang. Diumpamakan seperti perak pilihan. Apabila dibakar, semakin nyata mutunya. Artinya pandangan orang benar itu bisa diuji kebenarannya, menjadi arahan hidup yang membawa ketentraman. Sementara pemikiran orang fasik sedikit nilainya, nilai adalah makna atau manfaatnya. Karena lebih banyak tidak benarnya dan menyimpang dari norma yang baik. Pemikiran mereka sangat beresiko pelanggaran dan mencelakakan. Pada ayat-21, orang fasik disejajarkan dengan orang bodoh, kurang pengetahuannya yang baik dan pendapatnya tidak bisa diharapkan dapat memberikan jalan keluar.

GP-ers yang dikasihi Tuhan, menjadi orang benar atau orang fasik bukan disebabkan oleh faktor keturunan. Penyebabnya ialah sikap hati dalam pergaulan. Seorang pemuda bisa menjadi fasik, jika ia membiasakan diri mengikuti sifat egois yang mau menang sendiri dan cemburu pada kesuksesan orang lain. Dia akan bertindak di luar kendali/kontrol. Kekristenan mengajarkan kita hidup berdasarkan firman Tuhan, sebab firman Tuhan itu merupakan kendali kelakuan kepada kebenaran dan suluh bagi jalan menuju hidup bahagia dalam anugerah Tuhan. GP-ers jauhilah kefasikan, sebab kefasikan itu adalah hidup yang menyimpang dari harapan sesama dalam pergaulan yang rukun dan damai.

SBP, Selasa, 20 Mei 2014

Solider Terhadap Sesama,
Roma 12:1-2.

Hari ini, tanggal 20 Mei merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, yakni peringatan Hari Kebangkitan Nasional Indonesia. Pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo, sebagai akibat tumbuhnya semangat nasionalisme (kebangsaan). Mulanya Budi Utomo bertujuan meningkatkan kesejahteraan bangsa, kemudia merubah perjuangannya untuk mencapai Indonesia Merdeka (dari penjajahan Belanda). Karena penjajahan tidak sesuai dengan peri-keadilan dan kemanusiaan.

Berkenaan dengan itu, dalam bacaan kita pada hari ini rasul Paulus mengingatkan kita untuk menjadi manusia baru dalam Kristus yang hidup menurut kehendak Allah. Bukan menjadi serupa dengan dunia yang penuh nafsu yang pada akhirnya terseret dalam kejahatan.
Peringatannya itu penting bagi kita, karena dalam era Indonesia yang merdeka ini ternyata telah terjadi suatu kehidupan yang bertentangan dengan tujuan kemerdekaan. Yang pandai dan kuat hidup bahagia atas penderitaan yang lemah. Dalam hidup manusia Indonesia masa kini dirasakan bahwa terjadi penjajahan oleh bangsa sendiri yang lebih kejam daripada penjajahan bangsa asing. Tenaga kerja murah menjadi budak majikan, yang harus kerja keras untuk mencapai target yang dikehendaki untuk menjadikannya konglomerat terkaya. Konglomerat tetapi mengabaikan prinsip perburuhan Pancasila yang memperjuangkan kesejahteraan buruh sebagai penggerak perekonomian Indonesia.

GP-ers yang dikasihi Tuhan, jadilah pemimpin masa depan yang berhati nurani. Berpegang pada prinsip kesetaraan dan keadilan. Tolak suap yang membutakan hati nurani dan membiarkan penderitaan berlangsung terus. Jadilah pemimpin yang peduli pada kemajuan dan keadilan, solidaritas kepada yang lemah dan membela kesejahteraannya. Bukan menjadi pendemo bayaran yang hanya memikirkan perut sendiri saja tetapi membuat kemacetan, tersendatnya transportasi dan akhirnya berujung pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat.

SBP, Senin,19 Mei 2014

Tulus dan Jujur,
Kis 5:9-11.
Safira adalah isteri Ananias. Suami isteri ini telah sepakat untuk berbohong kepada para rasul mengenai hasil penjualan tanah mereka, yang akan diamalkan untuk pelayanan kasih. Nampaknya, mereka tidak tulus dan tidak jujur, hanya memikirkan perut sendiri bukan pro solidaritas. Dengan PeDe, Safira menjalankan niat berdusta kepada para rasul Tuhan.
Bacaan hari ini, mengungkapkan bahwa Safira meletakkan hasil penjualannya di kaki para rasul untuk didoakan dan dibagikan. Rasul Petrus mengenal Safira sebagai isteri Ananias dan menegur perbuatannya: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan ?" (Ayat-9) Benar kata rasul Petrus - berdusta kepada para rasul Tuhan yang dipenuhi oleh Roh Kudus untuk melayani pekerjaan Tuhan adalah mencobai Roh Tuhan yang menuntun para rasul itu. Mendustai Roh Kudus karena pementingan diri sendiri, menunjukkan bahwa iman belum tentu milik orang yang rajin ke persekutuan. Iman hanya akan menjadi miliknya bila sungguh bertobat dan menjadi manusia dalam Tuhan. Safira terkejut bahwa para rasul mengetahui perbuatannya. Ia merasa malu dan ketakutan, sehingga barangkali ia kena serangan jantung mendadak dan mati. Ananias dan Safira mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan ketidak tulusan dan ketidak jujurannya demi kepentingan sendiri yang bertentangan dengan kehendak Roh Kebenaran yang selama ini memimpin mereka dalam persekutuan.

GP-ers yang terkasih, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan menuntut pertobatan dari nafsu dan memasuki pembaruan. Roh Kudus yang dicurahkan Tuhan Yesus di hati kita selalu menghendaki agar hidup baru kita berbuahkan kebenaran, ketulusan dan kejujuran.
Berpura-pura dalam tuntunan Roh Kudus adalah menghujat Roh Kudus, suatu perbuatan melawan kebenaran yang sangat fatal.

Sabtu, 17 Mei 2014

SBP, Minggu, 18 Mei 2014

Bertumbuh dalam Persekutuan,
Kisah 2:44-47.

Kita tidak dapat melihat serbuk besi di antara pasir. Tetapi kalau kita taruh pasir itu di atas kertas dan dibawah kertas itu kita tempelkan besi magnet, maka serbuk besi akan diinduksi oleh magnet saling tarik menarik dan berdiri tegak dengan rapat. Lalu pasirnya bisa dibuang, tinggal serbuk besi yang murni.

Dalam bacaan hari ini, diungkapkan bahwa orang percaya sebagai gerwja bersekutu di sekitar firman Tuhan. Firman menumbuhkan dan mendewasakan iman gereja serta membentuk kepribadian baru orang percaya. Roh kudus bekerja dan menuntun hidup mereka dengan hikmat Tuhan. Mereka hidup bersatu, saling peduli san mengorbankan hartanya untuk pelayanan kasih (ay 44-45). Setiap hari mereka berkumpul di Bait Allah untuk memuliakan Allah dan menyambut Firman sebagai pedoman kehidupan. Mereka tampil dengan cara hidup baru, dengan gembira dan tulus hati secara bergilir dirumah masing-masing mengadakan jamuan kasih (ay 46a). Mereka bagaikan cahaya terang di tengah kegelapan pada waktu itu.
Karena itu mereka disukai banyak orang, seperti terinduksi magnet, tiap-tiap hari jumlah mereka bertambah dengan orang-orang yang diselamatkan (ay 47). Gereja berkembang pesat dan menjadi besar melalui misi pelayanan kasih/sosial terhadap masyarakat.

GP-ers yang terkasih, hari minggu ini kita belajar dari kehidupan gereja pertama yang dipimpin oleh para rasul Tuhan. Kesetiaan bersekuty di sekitar firman Tuhan mengarahkan hidup baru kita semakin sempurna. Kisah itu mengajar kita untuk meneruskan misi injil sosial, untuk membantu orang susah yang disebabkan oleh kemiskinan. Kemiskinan sering kali merupakan penghambat bagi banyak orang untuk mengikut Tuhan. Dengan mengatasi kesusahannya, hati mereka akan terbuka untuk mengerti makna keselamatan.

Jumat, 16 Mei 2014

SBP, Sabtu, 17 Mei 2014

Menjadi Teladan,
Efesus 5:15-16.

Mahatna Gandhi, sudah pernah begitu dekat dengan Kristus. Ketika ia ditembak mati, di sakunya ada secarik kertas yang isinya adalah khotbah Yesus di Bukit. Ia mengatakan bahwa Yesus adalah teladan di dalam perjuangannya. Tetapi sampai ia mati ia dengan sadar menolak untuk menjadi Kristen. Mengapa? Bukan karena apa yang dikhotbahkan oleh orang-orang Kristen, terutama di Afrika Selatan, tetapi karena apa yang mereka perlihatkan melalui tingkah-laku mereka.

Ayat 15 dan 16 menggambarkan keteladanan sebagai hidup, saat orang tidak menjalani hidupnya sebagai orang yang bebal, tetapi sebagai orang arif dan yang dapat mempergunakan waktu yang Tuhan sediakan dengan bijak. Kearifan dan kebijaksanaan dalam bersikap bisa nampak dalam sikap hidup dimana semua orang dapat hidup damai, rukun, harmonis. Tidak saling benci, saling dengki, saling iri, saling mendepak. Hidup ketika yang kuat tidak menindas yang lemah, yang kaya tidak memakan yang miskin, yang pintar tidak mencurangi yang bodoh, yang berkuasa tidak menekan rakyat kecil. Keteladanan itu nyata, tidak hanya dalam omongan yang muluk-muluk, tetapi dalam perbuatan, dalam tindakan nyata (bdk ay. 17 dyb). Lebih lanjut Paulus juga mengingatkan untuk mempergunakan waktu yang Tuhan berikan dengan semakimal mungkin. Artinya jangan sampai ada hari yang terlewatkan untuk menyatakan kebaikan dan menjadi teladan bagi orang lain.

Sebagai amggota GP baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, harus mampu menjadi teladan, menjadi contoh, menjadi panutan-tidak cuma menjadi sorotan. Sebagai orang Kristen dan AGP diajak untuk menyadari tugas keteladannya di tengah-tengah masyarakat, sehingga tidak menjadi beban atau batu sandungan melainkan menjadi berkat melalui sikap hidup yang arif.

Kamis, 15 Mei 2014

SBP, Jumat, 16 Mei 2014

Rumah Tuhan,
Hagai 1:9-11.

Tanpa disadari, kehidupan manusia dipenuhi dengan kegiatan membangun. Kegiatan membangun tidak hanya secara fisik, manusia berusaha untuk membangun karir dari nol hingga mencapai kesuksesan. Kita berusaha keras membangun reputasi dan citra baik agar orang lain menghormati kita. Kita juga berusaha menbangun kekuatan finansial yang kokoh. Kita terus sibuk membangun dan membangun kehidupan kita sehingga kita melupakan satu pembangunan yang seharusnya juga menjadi fokus kita yaitu pembangunan rumah Tuhan.
Pasca Pembuangan, Israel mempunyai prioritas untuk membangun Bait Suci. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah adanya sikap pro dan kontra dari rakyat Israel mengakibatkan pekerjaan pembangunan Bait Suci terhenti selama 16 tahun lamanya. Bukan hanya sikap pro dan kontra, tetapi mentalitas dan gaya hidup Umat Israel, sepertu: sibuk dengan kepentingan diri sendiri, adanya kelesuan rohani yang mengakibatkan umat Israel bersikap acuh tak acuh terhadap pembangunan Bait Suci. Dampak kelalaian pembangunan Bait Suci mengakibatkan kehidupan sosial-ekonomi Israel tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tuhan menegur dengan keras orang-orang yang melupakan pembangunan rumah Tuhan karena sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Rumah Tuhan bukan hanya menjadi urusan pelayan Tuhan ataupun warga jemaat dewasa, namun adalah kewajiban setiap orang percaya termasuk AGP. Itulah sebabnya mengapa kita seringkali mengalami keadaan "pundi-pundi yang berlobang".
Yang terpenting dari hal ini adalah keseimbangan. Bekerja keras adalah kehendak Tuhan dalam hidup kita, namun demikian jangan biarkan kesibukan itu menggeser hal terutama dalam hidup kita yakni "memperhatikan rumah Tuhan". Ketika bangunan rumah Tuhan kuat, percayalah kita akan selalu dapat menikmati buah pekerjaan kita dengan rasa syukur.

Rabu, 14 Mei 2014

SBP, Kamis, 15 Mei 2014

Nama Tuhan,
Kejadian 27:20.

Ambisi adalah hasrat yang kuat terhadap sesuatu. Sesuatu itu bisa apa saja -kekuasaan, ketenaran, kekayaan, pangkat, jabatan, dll. Namun apapun itu, ambisi adalah dorongan yang memotivasi orang untuk mengejar apa yang mereka inginkan. Tergantung pada apa sasarannya, ambisi itu bisa baik maupun buruk. Untuk mewujudkan ambisinya tidak jarang orang rela menghalalkan berbagai macam cara, termasuk memakai nama Tuhan.

Kisah ini menggambarkan bagaimana untuj mewujudkan ambisinya, Ribka bersama Yakub memakai segala cara untuk mengelabui Yakub demi mendapatkan dan merebut hak kesulunhan yang seharusnya diberikan kepada Esau. Bahkan Yakub sampai mengucapkan nama Tuhan demi melancarkan ambisinya. Mengucapkan nama Tuhan dengan sembarangan adalah lebih daripada mengutuk. Itu sama saja dengan tidak menghargai nama Allah. Itu sama saja dengan mengejek Allah, menghinaNya ketimbang memperlihatkan sikap hormat kepada-Nya. Ada lebih dari satu cara untuk menghinakan nama Allah. Setiap kali kita membicarakan Allah dengan cara yang tidak terhormat, kita menghina-Nya. Setiap kali kita melakukan hal-hal yang tidak kudus dengan memakai nama Tuhan, kita mempermalukan nama Allah.
Tuhan menuntut kita untuk serius dalam berkata-kata mencerminkan kekudusan dan kemuliaan-Nya. Menurut Amsal 6:16-19. 'Enam perkara ini dibenci Tuhan, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya; mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara". Karena itu, jangan asal bicara! Berbicara memang gampang. Tinggal membuka mulut. Tapi akibatnya itu lo!

Selasa, 13 Mei 2014

SBP, 14 Mei 2014

Terlihat Seluruhnya,
Amsal 5:21-23.

Tak ada gunanya berpura-pura di hadapan Allah! Tak ada yang tersembunyi dari-Nya. Ia mengetahui segala yang anda pikirkan, katakan, dan lakukan. Anda bisa saja menyembunyikan hal-hal dari orangtua, guru, teman anda. Mereka tidak dapat membaca pikiran anda, dan anda dapat menyembunyikan perbuatan-perbuatan anda dari mereka. Anda mungkin saja berpura-pura sehingga mengecoh semua orang yang anda jumpai. Sekali-sekali, anda bisa saja menghibur diri denhan pikiran: untung tak seorangpun tahu seperti apa aku sebenarnya. Betapa leganya bahwa tak seorangpun tahu apa yang kupikirkan atau kurasakan. Jangan terlalu yakin!

Jika anda menyembunyikan dosa anda, Allah melihatnya. Tidak ada gunanya untuk mencari-cari alasan mengapa anda melakukannya: Ia juga tahu motif-motif anda. Sungguh menghibur mengetahui bahwa Alah selalu mengawasi anda untuk melindungi serta membimbing anda. Namun kadang-kadang juga terasa mengganjal hati mengetahui bahwa Ia melihat segalanya yang anda lakukan jelas. Nasehat ini ditujukan bagi orang muda berkaitan dengan pergaulan yang tidak bermoral dengan perempuan pelacur. Tuhan bukan saja mengetahui, tetapi juga mengawasi dalam arti menimbang dan mengadili serta menyatakan hukuman atas tingkah laku yang buruk. Pergaulan yang menyesatkan ini tergolong kejahatan, tindakan orang fasik yang berdosa, yang akan menjadi malapetaka baginya. Malapetaka yang akan menimpa si orang bodoh, yaitu maut. Makna kata "maut" bukan saja berarti "umur yang pendek", tetapi juga "hidup penuh kekurangan dan kesusahan".

Lain kali anda perlu mempertimbangkan sesuatu yang anda tahu tidak benar. Ingatlah bahwa ada yang melihatnya. Sebelum anda melakukan sesuatu yang anda rasa tidak benar, tanyakanlah kepada diri sendiri, apakah aku mau Allah melihatku melakukannya? Karena Ia selalu mengawasi.

SBP, Selasa, 13 Mei 2014

Bersedia Menderita,
2 Timotius 2:1-7.

2 Timotius 2:3 mengatakan, "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus". Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk ikut menderita bersama Kristus dan untuk Kristus. Karena itu sering dikatakan, kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi pemberita injil, tetapi juga untuk menjadi penderita injil. Ayat 9 dari 2 Timotius 2 berkata,"karena pemberitaan injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat.

Dipanggil tidak hanya menjadi pemberita, tetapi juga untuk menjadi penderita. Pertanyaannya adalah: kok mau-maunya? Kalau dipanggil untuk pesta, siapa yang tidak mau? Dipanggil untuk menerima hadiah, semua orang mau. Tetapi kalau dipanggil hanya untuk menderita siapa yang mau? Kerahu-raguan inilah yang melahirkan antara lain ajaran Injil sukses itu ! Siapa yang tertarik kalau orang dipanggil untuk menderita? Tetapi kalau dipanggil untuk sukses-asal percaya, sakit penyakit akan hilang, persoalan akan lenyap, masa depan terang benderang!- siapa yang tidak mau? Mengikut Yesus jelas bukan dijanjikan hidup yang sukses, gampang, enak, segala sesuatu beres! Ini perlu ditekankan karena ada kekuatiran : keadaan orang Kristen yang semakin lama semakin sulit. Tantangan semakin besar. Oleh karena itu, kita harus menjadi orang Kristen yang gigih, yang kuat, yang ulet, yang tahan banting ! atau kita akan tersisih dan bukan tidak mungkin tersapu bersih !
Orang Kristen itu bukan orang yang menikmati penderitaan. Namun kalau demi iman kita harus menderita, jangan lari ! Mengapa? Dalam surat 2 Korintus 4:17, Paulus menulis "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami". Setialah sampai akhir!

Minggu, 11 Mei 2014

SBP, Senin, 12 Mei 2014

Uang tidak menentukan baik buruknya seseorang. Jadi, tidak benar kalau orang kaya selalu diidentikkan dengan orang yang diberkati Tuhan, dan orang miskin selalu dianggap sebagai orang yang dikutuk Tuhan. Betul, Tuhan bisa melimpahi seseorang dengan kekayaan sebagai wujud berkatNya. Tetapi jangan lupa, iblis juga bisa memberi kekayaan asal mau sujud menyembah iblis (Ma. 4:8-9). Bila iblis menawarkan begitu, berarti ia bisa memberikannya.

Keliru kalau kita mengagung-agungkan uang; menganggap uang sebagai yang pertama dan utama dalam hidup. Tapi juga keliru kalau kita menganggap uang sebagai benda jahat dan harus dijauhi. Yang harus dijauhi bukan uangnya, tetapi sikap yang salah terhadap uang, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka" (1 Tim. 6:10). Uang memang penting, tapi bukan yang terpenting. Dalam hidup ini ada banyak hal lain yang lebih penting dari uang. Keluarga, misalanya. Kita boleh punya banyak uang tapi kalau keluarga kita berantakan, hidup kita tidak akan bahagia. Kesehatan juga lebih penting dari uang. Bahkan seandainya pun kita mempunyai segudang uang, tapi kalau tubuh kita rapuh dan sakit-sakitan, kita tidak akan bisa menikmatinya. Hal lain yang lebih penting dari uang adalah martabat, harga diri, kepercayaan orang lain, dan tentu juga iman.

Hidup seumpama perjalanan mengumpulkan bekal untuk keperluan perjalanan selanjutnya. Dalam kaitannya dengan uang; yang akan menjadi bekal bukan berapa banyaknya, tetapi bagaimana cara kita mempergunakannya. Tuhan tidak akan bertanya, berapa banyak uang yang kita miliki; Dia akan bertanya, apa yang sudah kita perbuat dengan uang yang kita miliki.

SBP, Minggu, 11 Mei 2014

Pilihan Iman,
Matius 22 : 15-22.

Dalam hidup ini kita tidak pernah lepas dari suatu pilihan. Suatu keputusan yang harus dipilih dengan mengatakan "ya" atau "tidak". Persoalannya menjadi lebih sulit jika pilihan yang ada bukan hanya yang bersifat dualitis-dikotomis, baik-buruk, atau benar-salah. Namun jika apa yang ada di hadapan kita sama-sama baik atau sama-sama buruk, kita ditantang memilih mana yang lebih baik di antara yang baik atau yang lebih sedikit bernilai buruk di antara yang sama buruk.
Kisah di mana Yesus dicobai dalam soal membayar pajak (Mat 22:15-22), mengajak kita untuk mampu bersikap bijaksana dalam suatu pilihan. Yesus tidak langsung menjawab persoalan itu dengan hanya melihat secara benar-salah, baik-buruk, persoalan surgawi-duniawi; melainkan Ia mengajak orang untuk menempatkan perkara yang ada secara bijaksana dan ditempatkan pada porsinya yang sesuai. Arahnya pada kebaikan bersama. "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisan dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" (ayt. 21). Yesus ingin mengatakan bahwa Allah telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; kalau uang yang menunjukkan gambar Kaisar harus dikembalikan kepada Kaisar, pastilah manusia yang menunjukkan gambar Allah, wajib memperhambakan dirinya kepada Tuhan karena Tuhan lebih tinggi daripada Kaisar. Jelas bahwa menurut Yesus kewajiban terhadap Tuhan merupakan kewajiban yang tertinggi.

Bersama Yesus kita belajar melihat pilihan dalam hidup ini bukan sebagai kebebasan dari peraturan, kewajiban dan tanggungjawab tetapi kita ditantang untuk mampu bersikap mengembangkan kebebasan sesuai dengan ukurannya. Selain itu, kita pun ditantang untuk memiliki keterbukaan dalam menempatkan segala perkara duniawi demi kepentingan bersama dan terarah kepada kemuliaan Allah.

SBP, Sabtu, 10 Mei 2014

Ideku Baik, Belum Tentu Baik Bagi Tuhan,
Yeremia 29:11-13.

Aldrich ponakan saya saat sedang belajar berjalan, berpegang pada meja makan dan senang menarik taplak tersebut. Sedikit demi sedikit sambil tertawa kegirangan, ia pun bertambah semangat menarik taplak itu. Saya bergegas mengambil Aldrich dan melepaskan genggaman tangannya dari taplak meja. Ia menangis sebab ia merasa terganggu. Aldrich tidak tahu bahwa ia sedang menarik taplak meja itu beserta barang-barang diatasnya. Bila sedikit terlambat barang pecah belah tadi menimpa dan mencelakakannya.
Pernahkah GP-ers merencanakan sesuatu untuk masa depan dalam study, kerja atau rencana lainnya dan tiba-tiba terjadi sesuatu peristiwa dimana impikan itu gagal total dan Anda harus memulai semuanya dari awal? Anda sedih dan mempertanyakan pada Tuhan, mengapa semuanya bisa gagal padahal sudah dibawa dalam doa? Tidak selamanya rencana atau ide baik kita sejalan dengan rencana Tuhan yang sempurna. Kalau pun rencana kita tidak sebagaimana yang kita impikan, ingatlah selalu bahwa Tuhan merupakan Bapa yang penuh kasih. Ia tahu apa yang akan terjadi. Bila itu membahayakan kita maka Ia akan segera turun tangan menyelamatkan kita dari mara bahaya. Pembuangan ke Babel adalah final, Yeremia meyakinkan umat di pembuangan untuk menerima situasi mereka dengan percaya bahwa hal itu adalah rancangan damai sejahtera Allah untuk mereka bukan rancangan mencelakakan. Hanya dengan menerima ajaran Allah untuk menuntun mereka kepada pertobatan, mereka dapat kembali merasakan tangan kasih dan penyertaan-Nya.
Janji pemulihan bagi kita akan digenapi oleh Tuhan, jika kita setia datang mencari wajahNya, berseru kepadaNya dalam doa dan setia berada di dalam hadiratNya. Masa depan yang penuh harapan dan rancangan damai sejahtera telah disediakan bagi kita.

SBP, Kamis, 8 Mei 2014

Musim Kehidupan,
Amsal 10:5.

Di Indonesia dikenal ada dua musin, musim hujan dan musim kemarau. Terkecuali musim panen buah-buah yang sangat banyak macamnya. Berbeda dengan musim yang ada di negeri lain, musim semi, musim gugur, musim dingin dan musim panas. Meskipun hanya dua musim tapi akhir-akhir ini malah membuat penduduk dan pemerintah kita gelisah dibuatnya. Musim kemarau yang sangat lama, atau musim hujan yang menyebabkan banjir sampai banjir bandang. Apakah sebabnya? Banyak hal yang menyebabkan hal-hal tersebut terjadi.
Demikian jugalah kita. Segala musin dlam kehidupan kita akan menjadi indah kalau kita sadar di musim apa kita berada dan siap menghadapinya. Apakah GP-ers sadar sedanh berada di musim kehidupan yang bagaimana GP-ers sekarang ini? Kalau kita menyadarinya dan siap dengan musim yang sedang kita hadapi saat ini, maka kita akan bisa menghadapinya dengan baik. Kalau saat ini kita sedang menantikan janji Tuhan, maka kita bisa lebih sadar dalam menantikan janji Tuhan itu, sehingga masa penantian itu menjadi indah. Kalau saat ini kita sedang berada di masa kesempatan, maka kita tidak akan bersantai ria, tapi kita akan berjuang dengan segenap kekuatan untuk menangkap kesempatan yang ada, sehingga kita mengalami kemajuan yang pesat.

Kalau saat ini kita sedang berada di masa kehilangan dan percaya bahwa Tuhan sedang mempersiapkan yang lebih baik, maka kita akan kuat menghadapi masa kehilangan ini, bahkan tanggap dalam menerima berkat baru yang lebih baik. Biarlah mata roh kita terbuka dan bisa memahami di musim apa kita berada sekarang ini, sehingga kita bisa meresponi dengan benar, dam mengalami anugerah Tuhan yang besar dalam hidup kita.

SBP, Rabu, 7 Mei 2014

Belajar Sederhana,
Roma 12:16.

"Jelas saja Mama dan Papa beda zaman" jawab seorang anak manja kepada orang tuanya pada saat diceramahi akan kebiasaan hidup high teknologi bahkan pada saat makan bersama keluarga ia tidak bisa lepas dari gadget yang dimilikinya. Kehidupan moderen saat ini jika tidak disikapi dengan benar maka akan menjerumuskan kita pada pola hidup yang tidak sesuai kehendak Allah Modernisasi banyak menawarkan beragam pola hidup yang pada esensinya adalah kesenangan sementara.
Ada banyak hamba Tuhan yang tidak lagi antusias melayani dikarenakan tergiur pola hidup mewah padahal manusia disekelilingnya memerlukan terang berita Allah . Seorang hamba yang sejati pastilah meneladani kesederhanaan Yesus serta cinta kasihNya pada tiap orang tanpa pandang bulu. Pribadi hamba sejati bukan mencerminkan kepongahan, kebencian, serta sifat pemuja materi. Pantas memang jika kita kecewa apabila mendapati atau menemukan hamba Tuhan yang tak lagi mencerminkan teladan Kristen. Rasul Paulus mengatakan, "Arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana" (Roma 12:16). Jika kita hidup menuruti kesederhaan Yesus maka disitulah sebenarnya kita dikehendaki Allah.
Memang sikap yang diperintahkan dalam nats ini, di mana kita mengabaikan orang kecil, sangat sulit bagi manusia di luar Kristys, tetapi jutru merupakan wujub pembaharuan pikiran yang dikerjakan oleh Roh Allah. Dengan mudah sekali kesombongan yang dilarang dalam nats ini merusak kesatuan jemaat dan sikap saling menghargai yang mutlak diperlukan untuk merealisir pemakaian karunia-karunia rohani secara efektif. Jangan sampai menyakiti Allah atas perbuatanmu. Hiduplah sesuai kesederhanaan Yesus, saling mengasihi, melayani Tuhan, bersukacita senantiasa, sabar dan tekun dalam doa.

Sabtu, 10 Mei 2014

SBP, Selasa, 6 Mei 2014

Bermula Dari Hal Kecil,
Lukas 16:10-13.

Seorang pendaki bisa mencapai puncak gunung diawali oleh pijakan pertama. Seorang pelari mampu mencapai garis finish dan menjadi juara jug bermula dari langkah awal yang baik. Pohon nangka yang besar dan berbuah lebat serta tampak rindang di belakang rumah kita pun juga berasal dari satu biji nangka yang kecil. Coba renungkanlah itu.
Dalam perumpamaan tentang biji sesawi Tuhan Yesus berkata, "Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." (Matius 13:32). Untuk menjadi besar kita harus bersedia memulai dari perkara yang kecil. Apa yang kita miliki adalah permulaan dari segala sesuatu yang akan kita miliki di masa yang akan datang: pekerjaan atau profesi yang kita jalani, pelayanan yang dipercayakan kepada kita, talenta, harta yang kita miliki dan lain-lain. Jangan sampai kita seperti orang yang memiliki satu talenta, yang hanya menyimpan talentanya dan tidak mengembangkannya.

Yesus juga memulai pelayananNya dari bawah. Karen kesetiaan dan ketaatanNya pada Bapa dari hal-hal kecil, akhirnya Yesus menjadi yang terbesar dan "... Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama," (Filipi 2:9). Yusuf, sebelum menjadi the second man di Mesir, terlebih dahulu setia dan tekun melakukan perkara-perkara kecil, sehingga pada saatnya ia beroleh kepercayaan terhadap hal-hal yang besar. Mari kita kerjakan dengan setia apa pun yang dikaruniakan Tuhan bagi kita, supaya pada saatnya, perkara-perkara besar atau hal-hal yang tidak terpikirkan, akan disediakanNya bagi kita dan kita pun siap melaksanakannya.

SBP, Senin, 5Mei 2014

Merdeka Se
cara De Facto,
Galatia 5:13.

Apakah arti dari merdeka? Merdeka berarti bebas dari perhambaan, penjajahan atau tidak bergantung kepada orang atau pihak lain. Dalam kata merdeka terkandung dua pengertian, yaitu merdeka secara de jure (hukum) dan merdeka secara de facto (nyata). Contohnya adalah keberadaan negara kita ini yang secara de jure telah merdeka pada 17 Agustus 1945, tetapi secara de facto (kenyataannya) masyarakat Indonesia belum benar-benar merdeka, masih terjajah secara ekonomi sehingga jurang pemisah antara si kàya dan si miskin kian dalam.
Pada saat seseorang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, secara de jure ia sudah dimerdekakan dari dosa. Tapi secara de facto masih banyak orang percaya yang belum merdeka, masih saja terikat oleh berbagai macam keinginan daging. Rasul Paulus menegaskan bahwa kita ini adalah orang-orang merdeka, karena "...Kristus telah memerdekàkan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.' (Galatia 5:1). Tuhan Yesus telah mengorbankan nyawaNya di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Melalui pengorbananNya kita diselamatkan dilepaskan dari segala kutuk dosa dan menjadi hamba kebenaran." (Roma 6:18).
Jika kemerdekaan melekat dalam panggilan Kristen untuk keselamatan, maka kemerdekaan jangan diubah menjadi kebebasan untuk berbuat dosa. Inilah yang terjadi jika kemerdekaan dianggap sebagai kesempatn bagi daging untuk memuaskan keinginannya. Satu-satunya cara melawannya adalah dengan melayani seorang akan yang lain oleh kasih seperti membantu yang kurang mampu, mengadakan bakti sosial, kegiatan pelkes, dan lain sebagainya. Sebagai pemuda Kristen kita janganlah bersenang-senang karena keinginan duniawi kita terpenuhi tetapi marilah kita bersenang-senang karena kita sudah melakukan sesuatu untuk Tuhan.

SBP, Minggu, 4 Mei 2014

Masa Depan Penuh Harapan,
Amsal 23:18.

Masa depan adalah dua kata yang bernilai sangat besar dalam kehidupan manusia. Setiap orang tua akan berharap anaknya mempunyai masa depan dalam study, pekerjaan, karir dan jodoh. Setiap anak-anak Allah harus yakin telah memiliki masa depan yang penuh harapan.
Beberapa yang dapat kita lakukan untuk meraih msa depan yang Tuhan janjikan, yaitu:
1. Percaya; percaya bukan sesuatu yang mudah, namun ketika kita terus melangkah dengan percaya kepada janji Tuhan, hal yang mustahil sekalipun dapat terjadi dalam kehidupan kita.
2. Berdoa; hanya percaya saja tidak cukup kita harus berdoa. Karena dengan berdoa kita bisa berbincang dengan Tuhan tentang masa depan yang kita inginkan. Jawabannya bisa iya, tidak atau menunggu. Tapi jangan khawatir karena Tuhan paling tahu yang terbaik untuk kita, Ia akan menjawab setiap doa kita tepat pada waktunya.
3. Bekerja/berusaha; percaya sudah, berdoa sudah, hal lain yang juga sangat penting adalah bekerja. Orang yang sukses di masa depan adalah orang yang rajin, tekun dan berusaha.
4. Takut akan Tuhan; Ini yang paling penting!! Takut akan Tuhan menekankan hubungan kita sebagau anakNya dan Tuhan sebagai pemilik hidup kita. Jadi, saat kita percaya kepada Tuhan, kita bekerja dan berdoa, semuanya harus kita lakukan sesuai dengan jalan yang Tuhan tetapkan.

Semangatlah dalam meraih impian, janganlah berhenti mengejarnya karena firman TUHAN berkata..."Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (Amsal 23:18). Datanglah pada Tuhan Yesus, dan memohonlah petunjuk-Nya. Berharaplah hanya kepada janji Tuhan. Lakukan apa yang bisa kita kerjakan saat ini, dan Dia akan mengerjakan apa yang menjadi bagian-Nya.

SBP, Sabtu, 3 Mei 2014

Badai Pasti Berlalu,
Mazmur 69:14-19.

Syalom GePeers.. Bagaimana kondisimu hari ini? Lebih sehatkah? Mungkin seminggu kemarin sangat padat dengan tugas kuliah dan ujian atau ada proyek yang harus diselesaikan sehingga kondisi tubuh melemah. Tapi hari ini kita mengucap syukur karena masih ada nafas kehidupan ini dan masih banyak hal lainnya yang baik terjadi.

Memang ada saat-saat yang begitu sulit yang harus kita lewati. Misalnya saat ingin masuk perguruan tinggi terbaik. Berbagai usaha dilakukan, mulai dari belajar sendiri, bersama teman, ikut les dll. Saat kuliah pun tidak mudah. Jelang ujian akhir, belajar pun sampai tengah malam istulahnya sampai mati-matianlah demi mendapat nilai yang terbaik. Hingga tiba pada tahapan penyusunan skripsi. Memilih judul, membuat proposal, mengadakan penelitian atay survey, memulai penulisan bab demi bab. Proses panjang, yang menguras tenaga, pikiran, emosi hingga dana, terkadang membuat kita bertanya-tanya kepada Tuhan. Belum lagi kalau ditambah masalah keluarga atau hubungan dengan pacar. Lengkap sudah rasanya. Kondisi yang menyesakkan ini dirasakan oleh Daud, dan dituangkan lewat mazmurnya. Sesuatu yang ingin menelan dan menghanyutkannya, bertubi-tubi seperti gelombang air. Apakah kita pernah merasakan hal seperti itu? Tuhan seakan begitu jauh dari kita. Tidak dengan Daud, pengalaman iman membuatnya senantiasa berharap kepada Allah yang hidup.

Kita hendaknya belajar dari Daud dalam menjalani kehidupan ini. Harapan yang sering kali tidak seiring dengan kenyataan membuat hidup ini lebih berwarna. Senantiasa berharap dan berserah kepada Tuhan setiap saat, saat susah maupun senang. Menjaga komunikasi yang baik dengan Tuhan bak menjalin hubungan antar pribadi yang intim. Maka hidup berasa ringan karena berjalan bersama Tuhan Yesus.

SBP, Jumat, 2 Mei 2014

Pendidikan Untuk Semua,
Amsal 1:7.

Puji Tuhan! Hari ini kita memasuki hari ke-2 di bulan ini. Serasa belum lama kita merayakan Natal dan Tahun Baru. Hari ini kita merayakan ulang tahun tokoh pahlawan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Tokoh yang dikenal pegiat di bidang pendidikan hingga Pemerintah menganugerahi HUT beliau menjadi Hari Pendidikan Nasional. Dalam usia yang masih muda, beliau sudah berbicara tentang isu pendidikan dan belum genap usia 35 tahun, beliau sudah mendirikan perguruan Taman Siswa.

Sama halnya dengan Salomo, raja yang terkenal karena kebijaksanaannya, sudah bicara soal pendidikan dan pengetahuan sejak lama. Amsal yang dibuat bertujuan mengetahui hikmat dan didikan serta memberikan kecerdasan. Dan dari semua pengalaman hidup, dia berkesimpulan bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Semua proses pendidikan dan keinginan hidup untuk maju ternyata dia wali dengan takut akan Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menggunakan waktu muda kita dengan baik untuk belajar? Apakah kita sudah mensyukuri studi sebagai berkat dari Tuhan? Hendaknya hari demi hari diisi dengan menimba ilmu demi sebuah cita-cita sembari meyakini proses hidup ini sebagai berkat Tuhan. Karena itu mari menjalani masa muda sebaik-baiknya dengan penuh syukur, sambil terus pedulikan kondisi lingkungan sekitar. Mengapa demikian? Sadarkah ada berapa anak bangsa yang belum mengenyam pendidikan seperti kita? Ada banyak cara kreatif untuk mencerdaskan kehidupan, mulai dari mengajarkan keterampilan praktis bahasa Inggris atau computer hingga mendirikan sanggar belajar seni. Jadi, pendidikan yang kita terima bukan semata-mata untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk orang lain. Menjadi saluran berkat bagi bangsa Indonesia adalah panggilan kita sebagai orang percaya.

SBP, Kamis, 1 Mei 2014

MENEROPONG KE DEPAN DARI HARI BURUH
Efesus 6:5-8

Basah karena air. Terbakar karena api. Segala sesuatu pasti ada penyebabnya dan segala sesuatu dapat melahirkan suatu akibat. Begitupun dengan Hari Buruh yang dikenal dengan sebutan May Day, ada penyebabnya dan ada akibatnya. May Day lahir dari sebuah perjalanan panjang perjuangan buruh dalam hak-hak industrial yang terkait dengan hak asasi manusia yang dimulai sejak awal abad 19 dengan isu pengurangan jam kerja menjadi 8 jam per hari. Di Indonesia, isunya tentang karyawan kontrak, upah dan hak-hak lainnya. Pemerintah sendiri menghormati hari Buruh dengan menjadikannya sebagai hari libur nasional setiap tanggal 1 Mei.

Menjadi pertanyaan berikutnya, yaitu apa akibat yang diharapkan dari May Day ini? Tentunya terjaganya hak-hak buruh. Peran serta buruh dalam pembangunan tidak dipandang sebelah mata. Peran serta buruh dalam pembangunan menjadi sama penting dengan para pemodal dan pembuat kebijakan. Belajar dari latar belakang lahirnya May Day sepertinya kita harus mengingat kembali hakikat keadilan antara hak dan kewajiban. Keadilan antara hak buruh dengan hak pemberi kerja. Keadilan antara kewajiban buruh dan kewajiban pemberi kerja. Segala sesuatunya bisa saja ada kendala, oleh karena itu kita diberikan oleh Tuhan berupa nurani dan nalar untuk memakai hikmat-Nya.

Semoga saja kita dapat memakai hikmat Tuhan. Bagi kita semua baik sebagai pekerja maupun pemberi kerja, mari kita melakukannya sebagai hamba Kristus yang sedang menuruti kemauan Allah dengan sepenuh hati. Mari kita melakukannya seolah-olah Tuhanlah yang kita layani. Kita patut mengingat bahwa setiap kita baik pekerja maupun pemberi kerja sama-sama mempunyai satu majikan, yaitu Tuhan yang disurga. Ia tidak memandang muka. MAY DAY!!!

Rabu, 12 Februari 2014

SBP, Rabu, 29 Januari 2014

Takluk,
Ibrani 11:17-19.

Saya membayangkan langkah laki-laki tua itu begitu lesu. Di sampingnya seorang anak remaja yang sedang tumbuh besar dan cakap, menjajari langkahnya dengan penuh tanda tany. Puncak gunung di tanah Moria masih samar di balik tatapannya yang gamang berkaca-kaca. Tuhan memerintahkannya mempersembahkan anaknya semata wayang sebagai korban bakaran. Ada rasa cemas dibalik dadanya yang renta. Aku ingin taat, tapi aku juga takut. Mungkin demikian jerit batin sang ayah.
Soren Kierkegaard, seorang filsuf asal Denmark, memotret peristiwa ini dalam tulisannya berjudul "Fear and Trembling". Judul buku ini dikutip dari Filipi 2:12. Secara khusus Kierkegaard membedah situasi batin seorang ayah yang harus melepas anak satu-satunya di mezbah persembahan. Di satu sisi sang ayah harus menaati perintah Tuhan, namun di sisi lain ia harus membunuh anak kandungnya sendiri. Sebuah ujian iman yang menakutkan dan menggentarkan, kata Kierkegaard.  Menakutkan karena peristiwa ini berpotensi menghadirkan tragedi berdarah: seorang ayah membunuh anaknya sendiri. Namun, sekaligus menggetarkan, karena di dalamnya terkandung sikap takluk kepada Allah secara utuh dan penuh.
Iman tanpa didasari sikap takluk, bukanlah iman yang sempurna. Takluk di sini berarti meletakkan segala-galanya pada kekuasaan Tuhan. Ini bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesiapan bergumul, kesiapan bergelut dengan rasa cemas, rasa takut, rasa gentar. Manusia memiliki kecenderungan narsistik, mencintai dirinya sendiri secara berlebihan, senantiasa dipenuhi keinginan duniawi. Olehnya, manusia terus bergumul melawan keinginan dirinya sendiri untuk bisa taat kepada Allah secara utuh dan penuh. Di sinilah pertempuran yang sesungguhnya. Keinginan daging yang membawa kepada kebinasaan harus tunduk di bawah keinginan Roh yang mendatangkan damai sejahtera, kata Paulus. Roh Tuhan yang kudus akan senantiasa menguatkan kita berada di bawah kuasa Tuhan dalam gentar dan takluk.

SBP, Selasa, 28 Januari 2014

Taat,
Efesus 6:1-2.

Sewaktu masih ABG dulu, saya tergolong anak yang keras kepala. Segala yang disuruh ibu saya, jarang sekali saya turuti. Disuruh menyiram tanaman, saya malah asyik membaca komik. Disuruh potong rambut, saya malah tetap membiarkan rambut saya panjang. Alhasil di sekolah malah guru saya yang mencukur habis rambut saya sampai coak-coak nggak karuan. Dengan bahasa belanda yang belum fasih, Ibu saya sering menyebut saya koppig: kepala batu. Tentu saja sikap kepala batu ini merupakan sebuah contoh yang buruk.
Kepada Jemaat di Efesus Rasul Paulus memberi penekanan mengenai kehidupan sebuah keluarga, dan bacaan kita pada hari ini penekanannya mengenai sikap taat yang harus dimiliki seorang anak kepada orang tuanya. Uraian ini sebetulnya sangat normatif, "karena haruslah demikian," kata Paulus. Akan tetapi hal yang normatif seperti taat dan hormat pada orang tua kita bukan sekedar sebuah "kewajiban", melainkan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Tuhan. Maka itulah Paulus memberi penekanan lagi: "Ini adalah suatu perintah yang penting." Perintah siapa? Tentu saja perintah Tuhan sebagaimana tercantum dalam Dasa Titah.

Dewasa ini tak sedikit kita mendengar konflik terjadi antara anak dan orang tua. Hal ini bisa jadi karena nilai-nilai Ketuhanan tadi belum sepenuhnya melingkupi kehidupan keluarga ini. Kehadiran Tuhan di tengan kehidupan keluarga hanya dipandang sambil lalu saja. Padahal, kita tahu, "berbahagia tiap rumah tangga, di mana Kaulah tamu yang tetap." Ketaatan dan sikap hormat kepada orang tua pun haru dilandasi nilai-nilai Ketuhanan tadi. Karena Tuhanlah yang menganugerahkan kedua orang tua kita, sehingga seyogyanya, kita menghormati mereka dengan sikap taat seperti kepada Tuhan.

Selasa, 11 Februari 2014

SBP, Senin, 27 Januari 2014

Tetap,
Bilangan 23 : 17-20.

Masih tertinggal dalam ingatan saya potongan lagu yang  diplesetkan itu: "Lauk pauk tidak berubah, tidak berubah, tidak berubah...." Aksi Bakti Sosial Pemuda di Cikaso, tahun 1997. Ratusan pemuda menyanyikan itu ketika tim konsumsi dari atas tronton atau mobil bak terbuka membagi-bagikan makanan yang isinya selalu sama dari hari ke hari. Nasi putih, sayur daun singkong dan telur rebus. Tentu saja plesetan yang berulang-ulang dinyanyikan saban menjelang makan siang itu sekedar guyon, bukan bermaksud nyinyir atas berkat Tuhan yang telah disediakan panitia.
Lauk pauk di kegiatan ABSP tadi tidak berubah. Begitu juga sikap TUHAN Allah terhadap umat Israel. Kendati umat Israel terkenal tegar tengkuk, janjiNya untuk senantiasa memberkati umat Israel tidak berubah. Itulah yang disampaikan Bileam kepada Balak, raja orang Moab, manakala Balak meminta Bileam menyerapahi umat Israel dengan kutuk. Dikatakan Bileam, bahwa firman Tuhan tak pernah berubah. Tiga kali banyaknya Balak meminta Bileam mengucapkan sumpah serapah yang diwarnai kutuk, berkali-kali pula Bileam mengatakan bahwa TUHAN Allah tetap memberkati Israel. Allah telah berjanji untuk memberkati umat Israel, dan janji itu tak akan lekang.
Barangkali kita merasa bahwa Tuhan telah ingkar janji karena kehidupan kita yang tak kunjung berhasil. Kegagalan demi kegagalan kadangkala kita alami. Justru ditengah situasi seperti itu, sebaiknya kita mengingat kembali Amanat Agung yang pernah disampaikan Tuhan Yesus. Ia akan menyertai kita sampai akhir zaman. Artinya, tidak sedikit pun peristiwa dalam hidup kita yang lepas dari campur tanganNya. Allah terus berkarya dalam hidup kita. Demikianlah inti iman kita, yakni dengan senantiasa membiarkan Allah berkarya dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang hidup dalam rencana Allah. Langit dan bumi akan lenyap, tetapi firman Allah tinggal tetap.

SBP, Minggu, 26 Januari 2014

Telaten,
Lukas 11 : 27-28.

Kakak saya senang berkebun. Walaupun jenis tanaman yang dia miliki tidak terlalu banyak, namun ia merawatnya dengan telaten. Halaman rumah yang tidak seberapa luas jadi tampak asri dan enak dipandang. Kalau pagi datang, embun yang menetes di daun-daunnya menambah kesegaran mata. Saat senja menjelang, cahaya temaram sore menerpa daun-daun itu pula, memantulkan warna keperakan yang anggun. Segala keindahan itu bisa tetap terjaga tak lain karena kakak saya begitu peduli dengan tanaman-tanamannya, sehingga sebutir debu pun tak pernah luput dari perhatiaannya.
Segala sesuatu yang kita rawat dengan teliti lahir dari sikap peduli. Kepedulian itulah yang membuat kita begitu telaten memberi perhatian penuh. Kepedulian menjauhkan kita dari sikap setengah-setengah. Kalau hal-hal seperti layaknya tanaman saja bisa begitu kita pelihara, rawat dan jaga, terlebih lagi firman Allah. Memelihara firman Allah tak bisa setengah-setengah. Kata "memelihara" yang dipakai di Injil Lukas ini bisa juga berarti menjaga dengan sungguh-sungguh menjaga dengan penuh perhatian.
Firman Allah yang kita baca, dengar, renungkan, haruslah menjadi perhatian utama kita. Karena firman itu berasal dari Allah. Segala yang berasal dari Allah jangan pernah kita sia-siakan, atau kita pandang sambil lalu. Dikatakan bahwa mereka yang berbahagia adalah mereka yang mendengar firman Allah dan memeliharaNya. Hal ini mengandung pengertian, hidup kita akan senantiasa dipenuhi sukacita ketika kita membiarkan firman Allah melekat dalam hidup kita.

Memelihara firman Allah juga berarti kita peduli. Kita mendengarnya dengan penuh perhatian, bukan malah melantur dengan pikiran yang mengembara kemana-mana. Dunia  ini begitu penuh dengan berbagai hal yang sering mengalihkan kita dari firman Tuhan. Maka itu, belajarlah untuk terus peduli, tekun dan penuh perhatian terhadap firman Allah yang kita dengar, kita baca, kita terima.

SBP, Sabtu, 25 Januari 2014

Strategi Perang Israel,
Hakim-Hakim 7:17-18.

Bangsa Midian adalah anak Abraham dengan gundiknya: Ketura. Namun, Abraham tidak ingin anak-anak gundiknya menjadi umat perjanjian bersama anaknya, Ishak. Abraham memberi mereka kekayaan lalu menyuruh mereka pergi dan tinggallah mereka di timur Kanaan (Kej 25:1-6).
Bangsa Midian sebagai keturunan Abraham sakit hati tidak menjadi bagian dari perjanjian Allah dengan Abraham, maka bangsa Midian memusuhi bangsa Israel dan hendak menghancurkannya. Di samping itu, apa yang dialami Israel adalah karena dosa perilahannya di hadapan Tuhan.

Setelah bertobat, Israel mengusir bangsa Midian yang mengganggu ketentramannya dipimpin oleh Gideon.
Gideon dan pasukannya hanya memakai strategi : mengelilingi kemah bangsa Midian, lalu dengan kompak bersama-sama memasang obor - meniup sangkakala perang - sambil memecahkan buyung, dan berteriak "Pedang demi Tuhan dan Gideon" !
Bunyi sangkakala dan buyung pecah serta teriakan yang serba tiba-tiba itu mengejutkan bangsa Midian. Bangsa Midian berhamburan keluar kemah dengan pedang terhunus. Ketika melihat obor sekeliling kemah mereka, Tuhan membuat mereka saling ketakutan melihat kilat pedang sesamanya, dikira musuh hendak membantai mereka. Akhirnya mereka lari meninggalkan kemah.

GP-ers yang terkasih, Tuhan menghukum dosa perilahan Israel melalui kehadiran bangsa Midian untuk menjajah mereka. Tetapi pertobatan Israel membuat Tuhan berkenan memberikan strategi perang besar kepada Gideon dan pasukan Israel untuk memerangi bangsa Midian, tanpa saling membunuh atau pertumpahan darah.

Akar peperangan Israel dan Midian itu adalah dosa Israel. Perang berakhir karena pertobatan Israel. Perhatikanlah bahwa Tuhan dapat berbuat apa saja untuk menghukum umat-Nya yang berdosa. Jadi, janganlah berbuat dosa, supaya terhindar dari kesusahan.

Sabtu, 08 Februari 2014

SBP, Jumat, 24 Januari 2014

Strategi Misioner,
1 Korintus 9:19-23.

Rasul Paulus bukan munafik kalau ia mengungkapkan bahwa ia bersikap seperti segala orang di lingkungannya. Sikap merendahkan diri dan penyesuaian, bagi rasul Paulus merupakan jalan masuk untuk diterima dalam masyarakat. Tujuannya agar memperoleh peluang bagi melaksanakan misi. Banyak cara yang baik dan tepat sesuai situasi sebagai strategi missioner dalam rangka memenangkan  jiwa bagi Kristus.

Sekarang ini, memberitakan injil kepada sesama di masyarakat telah dibatasi atau ditutup dengan berbagai peraturan, oleh pihak yang merasa kuatir kehilangan kwantitas umat. Mereka melarang pekabaran injil dan menggiring penginjilan ke pedalaman serta beribadah di hutan atau gunung. Sikap ini adalah tindakan yang mencegah orang untuk memperoleh keselamatan dalam Kristus.
Berbeda dengan sikap gereja, yang tidak perlu melarang misi agama apapun di sekitar gereja. Gereja mengutamakan pembinaan umat untuk memelihara kwalitas iman dan setiap orang bertanggungjawab atas iman pribadinya kepada Tuhan.
Gereja cukup mengingatkan umat tentang firman Kristus bahwa gereja hadir di dunia adalah seperti domba di tengah serigala, karena itu gereja harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat 10:16). Maksudnya, supaya umat selalu waspada, setia atau murtad ada risikonya.

GP-ers yang kekasih, kita harus mengabarkan injil kepada sesama di lingkungan masyarakat kita. Tetapi tidak perlu sakit hati atau melawan larangan misi yang ada. Berdoalah dan gunakan akal sehat untuk melakukan misi. Tuhan yang bersama kita akan membuka jalan bagi kita untuk memberitakan injilNya seperti sikap yang diungkapkan oleh rasul Paulus.

SBP, Kamis, 23 Januari 2014

Tuhan Menggenapi Janjinya,
2 Tawarikh 6:10-11.

Ada nyanyian: "Tinggi Gunung sribu janji, tak terbatas kata-kata." Itulah janji manusia, banyak bohongnya dari pada benarnya. Tetapi tidak demikian janji Tuhan. Tuhan berjanji kepada Daud bahwa Salomo akan menjadi raja menggantikannya dan akan mendirikan rumah bagi nama Tuhan. Tuhan menepati janjiNya kepada Daud dan Kebenaran janji Tuhan dialami oleh raja Salomo sendiri.

Dalam bacaan kita, 2 Tawarikh 6:10-11, raja Salomo bersaksi bahwa ia membangun rumah bagi nama Tuhan dan meletakkan tabut perjanjian Tuhan dengan Israel dalam nama Tuhan. Tabut berisi dua loh batu mengenai "Sepuluh Firman Tuhan" dan "tongkat Musa" yang bertunas. Makna tabut adalah kehadiran Tuhan yang mengikat perjanjian dengan Israel (pada "Sepuluh Firman" itu), akan selalu menjadi sandaran dan pedoman hidup bangsa Israel. Sebab janji Tuhan itu benar dan menjadi cermin pengharapan.
Dengan demikian Israel akan selalu setia pada Tuhan dan menjalankan kehidupannya bagi kebesaran nama Tuhan.
Ini merupakan suatu citra rohani seorang raja yang takut akan Tuhan dan memimpin rakyat sebagai umat Tuhan dalam terang kebenaran serta percaya kepada janji Tuhan.

GP-ers, bila anda melihat berkat Tuhan menyertai karya anda, maka hendaklah anda bersyukur dan bersandarlah pada firman Tuhan yang merupakan janji bagi kesuksesan anda. Janji Tuhan merupakan sandaran yang teguh bagi masa depan yang tidak mengecewakan.
Belajarlah dari iman raja Salomo dan sikap hidupnya yang memperhatikan perbuatan Tuhan dalam hidupnya, sehingga ia menyelaraskan hidupnya terhadap janji Tuhan. Dan raja salomo menjadi raja Israel yang besar dan sukses bahkan sebelum dan sesudahnya tidak ada yang seperti dia.

SBP, Rabu 22 Januari 2014

Tuhan Menggenapi Janjinya,
Yohanes 14:12-14.

Yesus membicarakan tentang "permintaan" (=doa) para murid, bila Ia telah kembali ke Rumah Bapa. Identitas permintaan atau doa pengikut Kristus adalah "menyebut nama Yesus" sebagai meterai doa itu. Nama Yesus menjadi jaminannya. Para pembina rohani atau pengajar iman kita, membimbing kita untuk memeteraikan doa dalam nama Yesus, bisa di awal doa, dan, bisa di akhir doa. Yang terpenting doa orang kristen tidak mencerminkan egoisnya. Apa maksudnya? Doa yang egois adalah yang hanya memikirkan diri sendiri, tidak peduli kepada orang lain dan tidak mendoakannya.

Yesus menjadikan nama-Nya jaminan atas doa kita. Apakah jaminan itu doa kita pasti akan "dijawab-Nya?"
 ataukah "tidak?" Tergantung pada cara kita berdoa.
Doa dalam meterai nama Yesus harus dilakukan dengan "kesungguhan" (= karena butuh atau penting). Kemudian dengan "kesucian" (= untuk maksud baik). Selanjutnya harus dengan "iman" (=keyakinan), yaitu percaya bahwa Tuhan mendengar, mengetahui kebutuhan dan akan menjawabnya.
Dan yang paling penting adalah "menanti dengan sabar jawaban Tuhan" (Sebab Tuhan tidak pernah lambat untuk menjawab, tetapi selalu tepat pada waktunya). Itulah cara berdoa yang baik dan berkenan kepada Tuhan.

GP-ers, kita sering salah berdoa. Mencemarkan doa dengan nafsu (Yak 4:3). Kalimat doa yang tidak jelas, panjang dan bahasa yang muluk (Mat 6:7-8). Sebaiknya doa itu fokus, tepat dan singkat.
Jadi sekarang kita perlu merubah cara berdoa kita, agar doa kita itu berkenan kepada Tuhan dan dijawab-Nya.

Minggu, 02 Februari 2014

SBP, Selasa, 21 Januari 2013

Pembenaran,
Roma 4:20-25.

Rasul Paulus membicarakan tentang janji Allah kepada Abraham, untuk memperoleh keturunan dan tempat tinggalnya. Karena percaya kepada janji Allah dan mengandalkannya, maka Abraham beroleh pembenaran dari Allah dan janji-Nya diwujudkan. Sehingga keturunannya disebut bangsa Israel dan tempat tinggalnya disebut Tanah Perjanjian.
Jadi, kunci pembenaran Allah adalah percaya atau mengimani segala yang Allah janjikan.

Pembenaran juga akan kita alami karena percaya atau beriman pada firman janji Allah. Allah menjanjikan keselamatan dan masa depan sorgawi yang bahagia, bagi kita yang mau hidup bersama Dia. Pembenaran itu menetapkan kita sebagai umat perjanjian-Nya di dalam Yesus Kristus dan kehidupan sorgawi sebagai Tanah Perjanjian Tuhan bagi kita.
Tetapi Pembenaran karena iman itu jangan disalah artikan, bukan asal percaya saja sudah beres. Pembenaran mengharuskan kita menjadi umat-Nya yang setia.
Setia berarti berasa dalam ketaatan kepada Allah, baik menyangkut ibadah, kebenaran, kasih, keadilan, dan melakukan kehendak-Nya. Kehendak Allah tercermin dalam firman-Nya bagi kita yang tersurat didalam Alkitab.
Pembenaran menuntut sikap hidup dan perbuatan itu selaras dengan pengakuan iman kepada Tuhan.

GP-ers yang kekasih, tak seorangpun dari kita yang mau ditolak Tuhan. Ditolak berarti kehilangan anugerah Allah dan masa depan sorgawi. Untuk itu, janganlah mengabaikan Tuhan dalam kegiatan hidup kita. Janganlah mengandalkan kekuatan kita sendiri dalam pelayanan. Mengabaikan Tuhan dan mengandalkan diri sendiri adalah penyangkalan iman kepada Tuhan.
Pembenaran adalah kesetiaan kepada Tuhan dalam segala hal, karena Dia selalu setia bersama kita dalam hidup dan perjuangan iman kita.

Jumat, 31 Januari 2014

SBP, Senin, 20 Januari 2014

Teladan dan Kebenaran,
Matius 23:23.

Bukan karena emosi Yesus mengecam pemuka agama Yahudi (yaitu para: ahli Torat, Kaum Farisi dan Saduki) di depan umat. Karena mereka berlagak suci mengajukan pertanyaan kepada Yesus, tetapi bukan untuk mengerti kehendak Allah. Melainkan sengaja menjerat Yesus agar dengan jawaban-Nya Ia bersalah (22:1-46), supaya bisa menghukum-Nya. Pedosa yang tidak tahu malu, sengaja ditelanjangi oleh Yesus agar insaf dan bertobat. Namun mereka sulit untuk bertobat.

Yesus berpesan kepada para pengikut-Nya: "turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi jangan kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya" (22:3).
 Yesus menyebut mereka "munafik", karena praktek manipulasi rohani mereka. Di depan mata umat, mereka melakukan aturan rohani tetapi ajaran yang paling utama dan prinsip dalam agama mengenai: keadilan, kasih dan kesetiaan diabaikan (ayat-23). Mereka menyembunyikan dosa di balik hidup rohaninya. Menurut Yesus, kedudukan setiap orang dihadapan Allah sama, baik imam ataupun umat. Siap melanggar adalah berdosa dan tidak akan luput dari hukuman Allah. Tetapi pemuka agama Yahudi tidak merasa bersalah melainkan selalu merasa suci. Itulah sebabnya Yesus mengecam mereka.

GP-ers, hiduplah sebagai pelayan Tuhan yang kudus. Hendaklah pemuka agama Yahudi yang dikecam Yesus itu menjadi cermin bagi kehidupan rohanimu. Jangan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kata Peribahasa Indonesia: "Menyembunyikan durian, baunya tercium", artinya menyembunyikan dosa akan terbongkar dan memalukan sekali.
Lakukanlah kebenaran dan jadilah teladan kebenaran bagi banyak orang disekitarmu. Dengan demikian hidupmu memuliakan Tuhan.

SBP, Minggu, 19 Januari 2014

Yesus Mencintai Pembaruan,
Lukas 11:27-28.

Dibanding dengan pengajaran para ahli Torat yang membingungkan, pengajaran Yesus terasa lebih hidup dan berkuasa. Pengajaran-Nya membangkitkan pengharapan. Seorang perempuan yang mendengar-Nya berkomentar, tetapi Yesus segera meralatnya. Ucapan-Nya bukan menampik pujian tetapi mengutamakan makna rohani dan menguatkan hati para pengikut-Nya.

Yesus mengutamakan pembaruan. Ia memuji para pendengar-Nya yang membuka hati kepada ajaran kebenaran-Nya dan mengamalkannya. Mengamalkan adalah memelihara Firman Tuhan, yang menandakan kematangan rohani dan pembaruan hidup untuk masuk ke kerajaan sorga. Menurut Yesus mereka itulah yang berbahagia, termasuk perempuan yang berkomentar itu. Ucapan-Nya membangkitkan semangat kepercayaan dan kesetiaan. Karena mereka mendengar dan memelihara firman itu maka diberkati Allah dan berkenan diselamatkan.
Sementara Ibu Yesus yang melahirkan dan membesarkan Yesus sebagai buah hatinya akan berdukacita, karena Yesus dianiaya di depan matanya oleh sebab ajaran kebenaran-Nya yang tidak disukai pemuka adat dan agama Yahudi. Ia rela berkorban bagi keselamatan pendengar-Nya.

GP-ers yang kekasih, Yesus meledani suatu pelayanan bagi kita. Ia memberitakan firman yang mengubah kehidupan banyak orang dan rela menderita demi keselamatan mereka.

Bersaksilah tentang kebenaran yang menyelamatkan itu melalui pelayanan GP-ers di tengah persekutuan. Anda tidak dituntut untuk menderita, tetapi kalau tantangan dan penderitaan itu datang, hadapilah dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Ia akan menaungi anda. Kata Yesus: "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga." Mat 5:11-12. Ucapan-Nya itu adalah jaminan-Nya yang memberi semangat dan kekuatan bagi kita dalam pelayanan.

Kamis, 30 Januari 2014

SBP, Sabtu, 18 Januari 2014

Hikmat dari Allah,
1 Raja-raja 4:29-34.

Alkitab mencatat seorang anak manusia yang bernama Salomo yang dikaruniakan hikmat dan pengertian dari Allah. Tuhan memberikannya sebab Salomo meminta dari Tuhan (lih. Pasal 3). Dengan hikmat Allah, Salomo dengan cakap memutuskan perkara hukum yang sukar, mengembangkan sumber daya alam yang tersedia, mengelola tata pemerintahan yang baik, menuliskan sastra bermutu tinggi dan mengajarkan segala pengetahuan bagi banyak orang. Hikmat Allah mendatangkan kesejahteraan bagi diri sendiri dan orang lain.

Kisah hidup Salomo dengan hikmat yang luarbiasa dapat mengingatkan kita bahwa Tuhan satu-satunya sumber hikmat yang utama. Salomo tahu benar hal demikian dan tidak mau menghabiskan waktunya dengan mengandalkan kepandaiannya sendiri. Hikmat Allah yang membuat hidupnya menjulang serta dihormati banyak orang dari berbagai tempat. Dengan hikmat Allah, Salomo memberkati banyak orang yang ingin memperdalam pengetahuan mereka. Salomo tidak pelit berbagi ilmu dan terbuka untuk mengajarkan apa yang diperolehnya dari Allah. Hikmat Tuhan yang dimilikinya tidak menjadikan Salomo bak menara gading yang sukar dijumpai. Salomo menunjukkan kerendahan hati bahwa membagi ilmu dengan orang lain terdapat sukacita yang besar. Allah menghendaki Salomo bersukacita dalam hidupnya dengan pengetahuan luas yang dimiliki.

Jika saudara adalah pelajar atau mahasiswa dengan nilai memuaskan serta memiliki sejumlah prestasi membanggakan, kiranya saudara tetap rendah hati dan mau berbagi berkat dengan mereka yang perlu ditolong. Sejumlah orang mendidikasikan diri mereka dalam Gerakan Indonesia Mengajar sehingga mereka mau terlibat dalam mendidik anak-anak bangsa dengan harapan agar mereka kelak menjadi kebanggaan bagi keluarga, bangsa dan Tuhan. Mintalah hikmat dari Allah dan kembangkan seluas-luasnya bagi kemajuan bangsa.

SBP, Jumat, 17 Januari 2014

Janji Iman,
Nehemia 5:12-13.

Nehemia menyelidiki keluhan yang begitu keras dari saudara sebangsanya yang kondisi sosial ekonominya memprihatinkan. Mereka terpuruk sebab tagihan pajak dan hutang mustahil dapat dilunasi. Ladang dan rumah sudah terjual, bahkan anak-anak harus bekerja dan menjadi budak bagi orang lain. Mereka diperas justru oleh pemimpin mereka sendiri. Nehemia mengumpulkan pemuka dan penguasa itu dan menasihati mereka untuk tidak melakukan kejahatan demikian. Nehemia meminta mereka menghapuskan seluruh hutan dan mengembalikan kebun dan rumah yang sudah mereka sita. Mereka pun berkomitmen kepada Allah dan siap menanggung akibatnya jika ingkar atas janji mereka.

Pemimpin seperti Nehemia dihadirkan Allah agar bangsa Israel menyadari status mereka sebagai umat tebusan Tuhan yang diselamatkan dan diberkati. Hidup mereka tidak boleh sama seperti bangsa-bangsa lain yang menindas dan memeras sesamanya tanpa hati nurani. Sebagai saudara seiman, mereka patut memperlihatkan kasih Tuhan dengan cara menolong mereka keluar dari tekanan besar yang menghimpit hidup. Apa artinya lagi jika mereka bersaudara hanya di mulut, sementara sebagian lagi hidup dalam kemewahan? Bukankah kenyataan ini hanya jadi bahan tertawaan dan ejekan dari orang-orang berkeyakinan lain? Bukankah hal demikian sangat memalukan?

Membantu saudara yang susah jangan hanya sebatas niat, tetapi juga dengan komitmen iman yang kuat. Dengan janji iman, kita bertanggungjawab dalam mengasihi saudara-saudara kita yang membutuhkan dukungan segera. Jika saudara diberkati Tuhan, berjanjilah membantu saudaramu yang sakit, yang miskin, yang putus asa, yang kehilangan pekerjaan dan putus sekolah. Nyatakan kasih Kristus kepada saudara kita agar nama Tuhan Yesus dipermuliakan.

SBP, Kamis, 16 Januari 2014

Ingat Tuhan,
Ulangan 8:18.

Kekayaan bisa menjerat manusia pada kesombongan diri. Kenyataan ini sudah diantisipasi sehingga Allah berfirman agar bangsa Israel tidak jatuh dalam dosa pemberhalaan diri dengan mengatakan bahwa segala kekayaan yang ada sebab kehebatan pribadi. Kecenderungan semacam ini merupakan gejala umum dalam diri setiap manusia yang mulai membusungkan dada dan berkata angkuh saat kehidupan ekonomi dan keuangannya semakin baik. Bahkan dengan tajam dan emosional si sombong bisa berkata, "kamu juga bisa aku beli!".

Bangsa Israel diingatkan untuk tidak melupakan kebaikan Tuhan yang memberkati hidup mereka. Bangsa ini sebelumnya hanya budak di tanah Mesir yang kehilangan status dan hak mereka sebagai manusia merdeka. Mereka bekerja tanpa batas dan diperlakukan dengan rendah tanpa harga diri. Keluhan dan kesesakan mereka dalam doa didengat Tuhan sehingga diutus Musa untuk terlibat dalam rencana pembebasan dan penyelamatan Allah. Selama empat puluh tahun mereka melintasi padang gurun yang sarat dengan tantangan: kelaparan, kehausan, dan serangan binatang buas. Tuhan menjaga, melindungi dan memelihara mereka dengan selamat. Akhir perjalanan mereka adalah tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu. Tanah itu subur sehingga mereka dapat memanen hasil bumi dengan berlimpah. Hidup mereka diberkati Allah dengan luar biasa.

Hidup kita bisa berujung sama seperti bangsa Israel yang diberkati Tuhan. Syaratnya: hidup mengandalkan Tuhan dan bersyukur atas semua prestasi dan keberhasilan yang diraih. Kesombongan kadang datang begitu saja tanpa disadari sebab kita lengah dan tersanjung dengan pujian manusia. Kita perlu waspada dan untuk itu jangan lalaikan firman Allah dan selalu berdoa dengan tekun. Bersyukurlah dan permuliakan Tuhan dengan perkataan, perbuatan dan harta yang saudara miliki.

SBP, Rabu 15 Januari 2014

Sungguh Mencari Tuhan,
Ibrani 11:6.

Mudah bagi siapa saja berkata bahwa ia hidup beriman. Beriman lebih dari sekedar perkataan agamawi. Beriman berarti melakukan perkara-perkara yang menyenangkan hati Tuhan dalam ketaatan dan bersedia membayar harga atas tantangan mengikuti perintah Allah. Beriman kepada Allah berarti hidup dalam ketergantungan mutlak dalam pimpinan Tuhan dan tidak berubah dari jalan yang ditunjukkan Tuhan.

Pasal 11 menggambarkan beberapa tokoh Alkitab yang memiliki totalitas iman yang luar biasa. Kehidupan beriman mereka mengalami kesempurnaan sehingga mereka dipuji. Habel disebut sebagai orang beriman sebab ibadahnya berkenan kepada Allah. Dia beribadah dengan mempersiapkan persembahan yang terbaik bagi Allah. Habel datang beribadah bukan sebagai kebiasaan agama. Dia beribadah dengan tujuan menyembah Tuhan dan mengucap syukur atas berkat Tuhan dalam pekerjaannya. Habel menempatkan Allah dalam prioritas yang tinggi sehingga mampu mempersembahkan korban bakaran yang berbau harum bagi Allah. Habel bersungguh-sungguh mencari kemuliaan Tuhan dalam hidupnya. Begitu juga semua orang beriman yang dipuji karena kesungguhan mereka seperti yang dilakukan Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Gideon, para nabi dan semua martir yang mati demi nama Tuhan Yesus.

Sudah Sejauh mana saudara menjalani hidup beriman bersama Tuhan Yesus? Apakah saudara mencari Tuhan sebagai prioritas penting dan utama? Apakah saudara selalu berdoa saat bangun pagi dan mencari Tuhan lewat pembacaan Alkitab dan renungan pribadi? Adakah saudara mencari Tuhan ketika pergi beribadah di hari minggu? Atau saudara malah lebih senang mengorbankan waktu ibadah demi alasan olah raga, hang out atau istirahat di rumah? Kesungguhan mencari Tuhan mendatangkan upah yang dijanjikan Allah. Allah tahu bagaimana kita menjalani hidup hari ini.

SBP, Selasa, 14 Januari 2014

Lakukan Dalam Nama Yesus,
Kolose 3:17.

Kasih Kristus mengubah hidup manusia secara menyeluruh. Pertobatan sebagai wujud penyesalan yang mengubah hati serta perilaku dengan tujuan mempermuliakan Allah. Penyembahan kepada Allah tidak lagi dipahami secara sempit dalam sebuah ritus agama, tetapi dalam semua kegiatan hidup orang beriman yang mengindikasikan bahwa hidupnya dalam kemurahan Allah yang mendatangkan rasa syukur mendalam. Rasul Paulus menjelaskan semuanya dengan lengkap sebagai hakikat manusia baru yang sesungguhnya.

Ciri manusia baru disebutkan sebagai pribadi yang menanggalkan semua perbuatan duniawi yang menyesatkan. Manusia baru dipertentangkan dengan tajam dengan manusia lama dengan segala kelakuannya yang buruk. Manusia baru dalam Kristus adalah proses yang berlangsung seumur hidup di mana kasih dan damai sejahtera menjadi bagian integral dari hidup orang percaya. Nama Yesus tidak hanya disebut saat berdoa, tetapi diikutsertakan ketika berencana, berbisnis, berkomunikasi, bergembira dan di saat bergumul tentang suatu perkara yang berat. Nama Yesus menguasai seluruh jagat hidup orang percaya sehingga kehidupannya benar-benar di dalam Tuhan. Mungkinkah pribadi yang menyenangkan Tuhan ini dapat dihadirkan? Tentu saja dapat, jika kita memiliki komitmen dan pengalaman indah bersama dengan Tuhan Yesus. Kebenaran firman Tuhan ini dapat menjadi resep ampuh saat saudara hendak mencari pasangan hidup. Saudara tidak lagi memulainya semata-mata karena cinta, tetapi karena calon kita itu mengasihi Tuhan Yesus. Jika saudara melibatkan Yesus saat berpacaran dan rencana perkawinan, maka saudara benar-benar mengasihi Tuhan Yesus dalam hidup saudara. Dengan nama Yesus, saudara menolak hidup dalam percabulan dan hawa nafsu kedagingan yang memalukan. Nama Yesus itu dapat mengantar saudara pada perkawinan yang kudus dan kebahagiaan yang langgeng sampai maut memisahkan.

SBP, Senin, 13 Januari 2014

Kawin, Berkat; Tidak Kawin, Juga Berkat.
I Korintus 7 : 35 -38.

Dalam persekutuan, sering ditemukan ada laki-laki dan perempuan yang semasa muda aktif ber-GP, juga bergaul dengan banyak teman, tampan, cantik namun sampai pada usia telah memasuki separuh baya belum juga kawin. Berbagai anggapan spekulatif yang cenderung mendiskriminasi pun bermunculan. Ada yang mengatakan, 'si A tidak kawin karena pada waktu muda bergaul terlalu memilih-milih;' 'si B tidak kawin karena gaya hidupnya dulu terlalu mewah dan mahal.' Ada yang juga yang berkata, 'si C tidak kawin karena ortunya terlalu galak sehingga banyak yang takut pacaran, apalagi mau kawin dengannya;' 'si D tidak kawin karena ia pernah dikecewakan oleh pacarnya.' Adalagi yang bilang, 'si E tidak kawin karena ia trauma dengan keadaan yang menimpa ibunya, yang selalu dipukul, ditelantarkan dan diceraikan oleh ayahnya;' ' si F tidak kawin karena ia memilij untuk tidak kawin.' Anggapan-anggapan spekulatif, subjektif, negatif dan diskriminatif seperti tersebut di atas terkadang membuat suasana persekutuan menjadi tidak harmonis karena mereka.

Dalam bacaan hari ini, rasul Paulus menjelaskan bahwa keadaan setiap orang-orang berbeda-beda sewaktu dipanggil Allah untuk percaya kepada-Nya dan melayani pekerjaan-Nya. Ada orang dipanggil dalam keadaan telah kawin; ada juga yang dipanggil dalam keadaan tidak kawin. Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang tidak boleh merubah atau membaharui keadaan. Jika ada kesempatan, tiap orang bisa merubah keadaanya. Orang yang tidak kawin bisa kawin; tetapi orang yang sudah kawin, jangan kawin lagi.

Keadaan masing-masing orang sangat berpengaruh dan mempunyai konsekuensi dalam setiap pekerjaan pelayanan. Karena itu, menurut Paulus, lebih baik setiap orang tetap hidup dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil, supaya ia dapat melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan. Kalau ia memilih tidak kawin, baiklah ia tetap tidak kawin; tetapi jika ia memilih untuk kawin dengan pacarnya, hendaklah ia kawin agar jangan mempermainkan atau memperdayakan pacarnya. Sebab KAWIN adalah berkat; TIDAK KAWIN juga berkat.

SBP, Minggu, 12 Januari 2014



Yesus dan Perceraian,
Matius 19 : 4-6.

Salah satu realitas sosial yang menonjol belakangan ini adalah perpecahan dalam rumah tangga yang menyebabkan perceraian antara suami dan isteri. Tidak sedikit suami-isteri Kristen yang memutuskan untuk mengakhiri perkawinan melalui perceraian. Ada yang secara sah bercerai melalui proses dan keputusan pengadilan negeri. Ada pula yang tidak sah karena salah satu – suami atau isteri – pergi meninggalkan pasangan dan keluarga begitu saja dan tidak kembali. Ketika ditanya, “Mengapa terjadi perceraian?” Berbagai alasan dikemukakan. Beberapa di antaranya : a) Salah satu merasa tidak cocok dengan pasangannya, sehingga menimbulkan ketidakharmonisan dalam hubungan; b) Terjadi tindakan kekerasan dalam rumah tangga; c) Perselingkuhan/perzinahan yang dilakukan suami atau isteri dengan orang lain; d) Perkawinan yang berlangsung tanpa cinta-kasih; e) Masalah ekonomi.

Dari dulu sampai sekarang, pemerintah maupun para pemimpin agama berusaha menyikapi masalah perceraian. Berbagai aturan dan hukum dibuat, yang umumnya melegitimasi perceraian. Aturan dan hukum itu juga lebih menguntungkan kelompok yang kuat, termasuk laki-laki dan mendiskreditkan kelompok lemah, yakni perempuan. Para pemimpin Yahudi juga memberlakukan aturan dan hukum seperti itu.

Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus ingin merekonstruksi semua aturan dan hukum agama Yahudi yang menurut-Nya, tidak adil, termasuk masalah perceraian. Menurut Tuhan Yesus, seperti tampak dalam jawaban-Nya kepada para pemimpi Yahudi bahwa perceraian merupakan penghinaan, bahkan penodaan terhadap lembaga keluarga yang dibentuk dan dibangun oleh Allah sejak semula. Tuhan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk mempersatukan mereka menjadi satu daging sebagai suami-isteri. Lembaga keluarga yang Tuhan Allah bentuk, menurut Tuhan Yesus, tidak boleh diceraikan manusia.

Para pemuda gereja perlu memahami hal ini, agar kelak ketika mereka kawin dan berkeluarga, mereka tetap menjaga keutuhan lembaga yang dibentuk Allah dan tidak bercerai. Mereka juga bisa meneladani Tuhan Yesus dalam hal merekonstruksi aturan dan hukum gereja yang dirasa tidak adil dan mendiskreditkan.