Ia Tahu dan Mengawasi,
Amsal 5:21-23.
Dalam suatu proyek pekerjaan pengecoran jalan, seorang mandor mengawasi para tukang yang bekerja agar sesuai dengan perencanaan dan juga waktu yang ditentukan. Namun pada suatu saat sang mandor ada keperluan lain sehingga tidak dapat melakukan pengawasan di lapangan sepanjang hari. Hasilnya para tukang bekerja dengan santai, sehingga baja beton baru terpasang sebagian. Hal itu membuat mandor marah besar, karena para tukang bekerja seperti anak TK. Kalau diawasi rajin, kalau tidak diawasi seenaknya sendiri. Mestinya para pekerja itu, tetap melakukan segala sesuatu sebaik mungkin.
Demikianlah yang diharapkan kepada kita sebagai orang percaya untuk melakukan dan memikirkan hal-hal yang baik, terlebih ketika kita memahami bahwa apapun yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari, Tuhan selalu mengawasi lho perbuatan-perbuatan kita. Hal inilah yang ditekankan oleh bacaan kita, di tengah maraknya perbuatan daging (hawa nafsu) dapam kehidupan umat Tuhan. Inilah yang menjerumuskan mereka ke dalam perangkap dosa. Maka Amsal ini mengingatkan kita, khususnya orang muda, agar tidak terjebak kepada bentuk-bentuk penyimpangan seksual yang nyata-nyata bertentangan dengan kehendak Tuhan. Biasanya penyimpangan seseorang dalam hal seksual berawal dari keinginan hawa nafsu yang tak terkendali, kemudian terungkap dalam tindakan lahiriah. Akibatnya kehidupan menjadi pahit, merasa bersalah, masa depan dan kehormatannya tercabik-cabik.
Saudaraku, Tuhan memang memberi kebebasan kepada kita. Namun dalam kenyataan seringkali disalahgunakan, yaitu untuk kesenangan atau kenikmatan pribadi dan kurang memperhatikan keselamatan jiwa, entah jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain. Salah satu ciri kita memiliki kedewasaan adalah, kita melakukan segala sesuatu yang seharusnya kita kerjakan dengan hasil terbaik. Sebab Tuhan selalu mengawasi dan mengetahui apapun perbuatan kita, sehingga selalu jaga hati dan tindakan kita agar menghasilkan perbuatan-perbuatan yang memuliakan nama-Nya.