Jumat, 31 Januari 2014

SBP, Senin, 20 Januari 2014

Teladan dan Kebenaran,
Matius 23:23.

Bukan karena emosi Yesus mengecam pemuka agama Yahudi (yaitu para: ahli Torat, Kaum Farisi dan Saduki) di depan umat. Karena mereka berlagak suci mengajukan pertanyaan kepada Yesus, tetapi bukan untuk mengerti kehendak Allah. Melainkan sengaja menjerat Yesus agar dengan jawaban-Nya Ia bersalah (22:1-46), supaya bisa menghukum-Nya. Pedosa yang tidak tahu malu, sengaja ditelanjangi oleh Yesus agar insaf dan bertobat. Namun mereka sulit untuk bertobat.

Yesus berpesan kepada para pengikut-Nya: "turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi jangan kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya" (22:3).
 Yesus menyebut mereka "munafik", karena praktek manipulasi rohani mereka. Di depan mata umat, mereka melakukan aturan rohani tetapi ajaran yang paling utama dan prinsip dalam agama mengenai: keadilan, kasih dan kesetiaan diabaikan (ayat-23). Mereka menyembunyikan dosa di balik hidup rohaninya. Menurut Yesus, kedudukan setiap orang dihadapan Allah sama, baik imam ataupun umat. Siap melanggar adalah berdosa dan tidak akan luput dari hukuman Allah. Tetapi pemuka agama Yahudi tidak merasa bersalah melainkan selalu merasa suci. Itulah sebabnya Yesus mengecam mereka.

GP-ers, hiduplah sebagai pelayan Tuhan yang kudus. Hendaklah pemuka agama Yahudi yang dikecam Yesus itu menjadi cermin bagi kehidupan rohanimu. Jangan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kata Peribahasa Indonesia: "Menyembunyikan durian, baunya tercium", artinya menyembunyikan dosa akan terbongkar dan memalukan sekali.
Lakukanlah kebenaran dan jadilah teladan kebenaran bagi banyak orang disekitarmu. Dengan demikian hidupmu memuliakan Tuhan.

SBP, Minggu, 19 Januari 2014

Yesus Mencintai Pembaruan,
Lukas 11:27-28.

Dibanding dengan pengajaran para ahli Torat yang membingungkan, pengajaran Yesus terasa lebih hidup dan berkuasa. Pengajaran-Nya membangkitkan pengharapan. Seorang perempuan yang mendengar-Nya berkomentar, tetapi Yesus segera meralatnya. Ucapan-Nya bukan menampik pujian tetapi mengutamakan makna rohani dan menguatkan hati para pengikut-Nya.

Yesus mengutamakan pembaruan. Ia memuji para pendengar-Nya yang membuka hati kepada ajaran kebenaran-Nya dan mengamalkannya. Mengamalkan adalah memelihara Firman Tuhan, yang menandakan kematangan rohani dan pembaruan hidup untuk masuk ke kerajaan sorga. Menurut Yesus mereka itulah yang berbahagia, termasuk perempuan yang berkomentar itu. Ucapan-Nya membangkitkan semangat kepercayaan dan kesetiaan. Karena mereka mendengar dan memelihara firman itu maka diberkati Allah dan berkenan diselamatkan.
Sementara Ibu Yesus yang melahirkan dan membesarkan Yesus sebagai buah hatinya akan berdukacita, karena Yesus dianiaya di depan matanya oleh sebab ajaran kebenaran-Nya yang tidak disukai pemuka adat dan agama Yahudi. Ia rela berkorban bagi keselamatan pendengar-Nya.

GP-ers yang kekasih, Yesus meledani suatu pelayanan bagi kita. Ia memberitakan firman yang mengubah kehidupan banyak orang dan rela menderita demi keselamatan mereka.

Bersaksilah tentang kebenaran yang menyelamatkan itu melalui pelayanan GP-ers di tengah persekutuan. Anda tidak dituntut untuk menderita, tetapi kalau tantangan dan penderitaan itu datang, hadapilah dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Ia akan menaungi anda. Kata Yesus: "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga." Mat 5:11-12. Ucapan-Nya itu adalah jaminan-Nya yang memberi semangat dan kekuatan bagi kita dalam pelayanan.

Kamis, 30 Januari 2014

SBP, Sabtu, 18 Januari 2014

Hikmat dari Allah,
1 Raja-raja 4:29-34.

Alkitab mencatat seorang anak manusia yang bernama Salomo yang dikaruniakan hikmat dan pengertian dari Allah. Tuhan memberikannya sebab Salomo meminta dari Tuhan (lih. Pasal 3). Dengan hikmat Allah, Salomo dengan cakap memutuskan perkara hukum yang sukar, mengembangkan sumber daya alam yang tersedia, mengelola tata pemerintahan yang baik, menuliskan sastra bermutu tinggi dan mengajarkan segala pengetahuan bagi banyak orang. Hikmat Allah mendatangkan kesejahteraan bagi diri sendiri dan orang lain.

Kisah hidup Salomo dengan hikmat yang luarbiasa dapat mengingatkan kita bahwa Tuhan satu-satunya sumber hikmat yang utama. Salomo tahu benar hal demikian dan tidak mau menghabiskan waktunya dengan mengandalkan kepandaiannya sendiri. Hikmat Allah yang membuat hidupnya menjulang serta dihormati banyak orang dari berbagai tempat. Dengan hikmat Allah, Salomo memberkati banyak orang yang ingin memperdalam pengetahuan mereka. Salomo tidak pelit berbagi ilmu dan terbuka untuk mengajarkan apa yang diperolehnya dari Allah. Hikmat Tuhan yang dimilikinya tidak menjadikan Salomo bak menara gading yang sukar dijumpai. Salomo menunjukkan kerendahan hati bahwa membagi ilmu dengan orang lain terdapat sukacita yang besar. Allah menghendaki Salomo bersukacita dalam hidupnya dengan pengetahuan luas yang dimiliki.

Jika saudara adalah pelajar atau mahasiswa dengan nilai memuaskan serta memiliki sejumlah prestasi membanggakan, kiranya saudara tetap rendah hati dan mau berbagi berkat dengan mereka yang perlu ditolong. Sejumlah orang mendidikasikan diri mereka dalam Gerakan Indonesia Mengajar sehingga mereka mau terlibat dalam mendidik anak-anak bangsa dengan harapan agar mereka kelak menjadi kebanggaan bagi keluarga, bangsa dan Tuhan. Mintalah hikmat dari Allah dan kembangkan seluas-luasnya bagi kemajuan bangsa.

SBP, Jumat, 17 Januari 2014

Janji Iman,
Nehemia 5:12-13.

Nehemia menyelidiki keluhan yang begitu keras dari saudara sebangsanya yang kondisi sosial ekonominya memprihatinkan. Mereka terpuruk sebab tagihan pajak dan hutang mustahil dapat dilunasi. Ladang dan rumah sudah terjual, bahkan anak-anak harus bekerja dan menjadi budak bagi orang lain. Mereka diperas justru oleh pemimpin mereka sendiri. Nehemia mengumpulkan pemuka dan penguasa itu dan menasihati mereka untuk tidak melakukan kejahatan demikian. Nehemia meminta mereka menghapuskan seluruh hutan dan mengembalikan kebun dan rumah yang sudah mereka sita. Mereka pun berkomitmen kepada Allah dan siap menanggung akibatnya jika ingkar atas janji mereka.

Pemimpin seperti Nehemia dihadirkan Allah agar bangsa Israel menyadari status mereka sebagai umat tebusan Tuhan yang diselamatkan dan diberkati. Hidup mereka tidak boleh sama seperti bangsa-bangsa lain yang menindas dan memeras sesamanya tanpa hati nurani. Sebagai saudara seiman, mereka patut memperlihatkan kasih Tuhan dengan cara menolong mereka keluar dari tekanan besar yang menghimpit hidup. Apa artinya lagi jika mereka bersaudara hanya di mulut, sementara sebagian lagi hidup dalam kemewahan? Bukankah kenyataan ini hanya jadi bahan tertawaan dan ejekan dari orang-orang berkeyakinan lain? Bukankah hal demikian sangat memalukan?

Membantu saudara yang susah jangan hanya sebatas niat, tetapi juga dengan komitmen iman yang kuat. Dengan janji iman, kita bertanggungjawab dalam mengasihi saudara-saudara kita yang membutuhkan dukungan segera. Jika saudara diberkati Tuhan, berjanjilah membantu saudaramu yang sakit, yang miskin, yang putus asa, yang kehilangan pekerjaan dan putus sekolah. Nyatakan kasih Kristus kepada saudara kita agar nama Tuhan Yesus dipermuliakan.

SBP, Kamis, 16 Januari 2014

Ingat Tuhan,
Ulangan 8:18.

Kekayaan bisa menjerat manusia pada kesombongan diri. Kenyataan ini sudah diantisipasi sehingga Allah berfirman agar bangsa Israel tidak jatuh dalam dosa pemberhalaan diri dengan mengatakan bahwa segala kekayaan yang ada sebab kehebatan pribadi. Kecenderungan semacam ini merupakan gejala umum dalam diri setiap manusia yang mulai membusungkan dada dan berkata angkuh saat kehidupan ekonomi dan keuangannya semakin baik. Bahkan dengan tajam dan emosional si sombong bisa berkata, "kamu juga bisa aku beli!".

Bangsa Israel diingatkan untuk tidak melupakan kebaikan Tuhan yang memberkati hidup mereka. Bangsa ini sebelumnya hanya budak di tanah Mesir yang kehilangan status dan hak mereka sebagai manusia merdeka. Mereka bekerja tanpa batas dan diperlakukan dengan rendah tanpa harga diri. Keluhan dan kesesakan mereka dalam doa didengat Tuhan sehingga diutus Musa untuk terlibat dalam rencana pembebasan dan penyelamatan Allah. Selama empat puluh tahun mereka melintasi padang gurun yang sarat dengan tantangan: kelaparan, kehausan, dan serangan binatang buas. Tuhan menjaga, melindungi dan memelihara mereka dengan selamat. Akhir perjalanan mereka adalah tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu. Tanah itu subur sehingga mereka dapat memanen hasil bumi dengan berlimpah. Hidup mereka diberkati Allah dengan luar biasa.

Hidup kita bisa berujung sama seperti bangsa Israel yang diberkati Tuhan. Syaratnya: hidup mengandalkan Tuhan dan bersyukur atas semua prestasi dan keberhasilan yang diraih. Kesombongan kadang datang begitu saja tanpa disadari sebab kita lengah dan tersanjung dengan pujian manusia. Kita perlu waspada dan untuk itu jangan lalaikan firman Allah dan selalu berdoa dengan tekun. Bersyukurlah dan permuliakan Tuhan dengan perkataan, perbuatan dan harta yang saudara miliki.

SBP, Rabu 15 Januari 2014

Sungguh Mencari Tuhan,
Ibrani 11:6.

Mudah bagi siapa saja berkata bahwa ia hidup beriman. Beriman lebih dari sekedar perkataan agamawi. Beriman berarti melakukan perkara-perkara yang menyenangkan hati Tuhan dalam ketaatan dan bersedia membayar harga atas tantangan mengikuti perintah Allah. Beriman kepada Allah berarti hidup dalam ketergantungan mutlak dalam pimpinan Tuhan dan tidak berubah dari jalan yang ditunjukkan Tuhan.

Pasal 11 menggambarkan beberapa tokoh Alkitab yang memiliki totalitas iman yang luar biasa. Kehidupan beriman mereka mengalami kesempurnaan sehingga mereka dipuji. Habel disebut sebagai orang beriman sebab ibadahnya berkenan kepada Allah. Dia beribadah dengan mempersiapkan persembahan yang terbaik bagi Allah. Habel datang beribadah bukan sebagai kebiasaan agama. Dia beribadah dengan tujuan menyembah Tuhan dan mengucap syukur atas berkat Tuhan dalam pekerjaannya. Habel menempatkan Allah dalam prioritas yang tinggi sehingga mampu mempersembahkan korban bakaran yang berbau harum bagi Allah. Habel bersungguh-sungguh mencari kemuliaan Tuhan dalam hidupnya. Begitu juga semua orang beriman yang dipuji karena kesungguhan mereka seperti yang dilakukan Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Gideon, para nabi dan semua martir yang mati demi nama Tuhan Yesus.

Sudah Sejauh mana saudara menjalani hidup beriman bersama Tuhan Yesus? Apakah saudara mencari Tuhan sebagai prioritas penting dan utama? Apakah saudara selalu berdoa saat bangun pagi dan mencari Tuhan lewat pembacaan Alkitab dan renungan pribadi? Adakah saudara mencari Tuhan ketika pergi beribadah di hari minggu? Atau saudara malah lebih senang mengorbankan waktu ibadah demi alasan olah raga, hang out atau istirahat di rumah? Kesungguhan mencari Tuhan mendatangkan upah yang dijanjikan Allah. Allah tahu bagaimana kita menjalani hidup hari ini.

SBP, Selasa, 14 Januari 2014

Lakukan Dalam Nama Yesus,
Kolose 3:17.

Kasih Kristus mengubah hidup manusia secara menyeluruh. Pertobatan sebagai wujud penyesalan yang mengubah hati serta perilaku dengan tujuan mempermuliakan Allah. Penyembahan kepada Allah tidak lagi dipahami secara sempit dalam sebuah ritus agama, tetapi dalam semua kegiatan hidup orang beriman yang mengindikasikan bahwa hidupnya dalam kemurahan Allah yang mendatangkan rasa syukur mendalam. Rasul Paulus menjelaskan semuanya dengan lengkap sebagai hakikat manusia baru yang sesungguhnya.

Ciri manusia baru disebutkan sebagai pribadi yang menanggalkan semua perbuatan duniawi yang menyesatkan. Manusia baru dipertentangkan dengan tajam dengan manusia lama dengan segala kelakuannya yang buruk. Manusia baru dalam Kristus adalah proses yang berlangsung seumur hidup di mana kasih dan damai sejahtera menjadi bagian integral dari hidup orang percaya. Nama Yesus tidak hanya disebut saat berdoa, tetapi diikutsertakan ketika berencana, berbisnis, berkomunikasi, bergembira dan di saat bergumul tentang suatu perkara yang berat. Nama Yesus menguasai seluruh jagat hidup orang percaya sehingga kehidupannya benar-benar di dalam Tuhan. Mungkinkah pribadi yang menyenangkan Tuhan ini dapat dihadirkan? Tentu saja dapat, jika kita memiliki komitmen dan pengalaman indah bersama dengan Tuhan Yesus. Kebenaran firman Tuhan ini dapat menjadi resep ampuh saat saudara hendak mencari pasangan hidup. Saudara tidak lagi memulainya semata-mata karena cinta, tetapi karena calon kita itu mengasihi Tuhan Yesus. Jika saudara melibatkan Yesus saat berpacaran dan rencana perkawinan, maka saudara benar-benar mengasihi Tuhan Yesus dalam hidup saudara. Dengan nama Yesus, saudara menolak hidup dalam percabulan dan hawa nafsu kedagingan yang memalukan. Nama Yesus itu dapat mengantar saudara pada perkawinan yang kudus dan kebahagiaan yang langgeng sampai maut memisahkan.

SBP, Senin, 13 Januari 2014

Kawin, Berkat; Tidak Kawin, Juga Berkat.
I Korintus 7 : 35 -38.

Dalam persekutuan, sering ditemukan ada laki-laki dan perempuan yang semasa muda aktif ber-GP, juga bergaul dengan banyak teman, tampan, cantik namun sampai pada usia telah memasuki separuh baya belum juga kawin. Berbagai anggapan spekulatif yang cenderung mendiskriminasi pun bermunculan. Ada yang mengatakan, 'si A tidak kawin karena pada waktu muda bergaul terlalu memilih-milih;' 'si B tidak kawin karena gaya hidupnya dulu terlalu mewah dan mahal.' Ada yang juga yang berkata, 'si C tidak kawin karena ortunya terlalu galak sehingga banyak yang takut pacaran, apalagi mau kawin dengannya;' 'si D tidak kawin karena ia pernah dikecewakan oleh pacarnya.' Adalagi yang bilang, 'si E tidak kawin karena ia trauma dengan keadaan yang menimpa ibunya, yang selalu dipukul, ditelantarkan dan diceraikan oleh ayahnya;' ' si F tidak kawin karena ia memilij untuk tidak kawin.' Anggapan-anggapan spekulatif, subjektif, negatif dan diskriminatif seperti tersebut di atas terkadang membuat suasana persekutuan menjadi tidak harmonis karena mereka.

Dalam bacaan hari ini, rasul Paulus menjelaskan bahwa keadaan setiap orang-orang berbeda-beda sewaktu dipanggil Allah untuk percaya kepada-Nya dan melayani pekerjaan-Nya. Ada orang dipanggil dalam keadaan telah kawin; ada juga yang dipanggil dalam keadaan tidak kawin. Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang tidak boleh merubah atau membaharui keadaan. Jika ada kesempatan, tiap orang bisa merubah keadaanya. Orang yang tidak kawin bisa kawin; tetapi orang yang sudah kawin, jangan kawin lagi.

Keadaan masing-masing orang sangat berpengaruh dan mempunyai konsekuensi dalam setiap pekerjaan pelayanan. Karena itu, menurut Paulus, lebih baik setiap orang tetap hidup dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil, supaya ia dapat melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan. Kalau ia memilih tidak kawin, baiklah ia tetap tidak kawin; tetapi jika ia memilih untuk kawin dengan pacarnya, hendaklah ia kawin agar jangan mempermainkan atau memperdayakan pacarnya. Sebab KAWIN adalah berkat; TIDAK KAWIN juga berkat.

SBP, Minggu, 12 Januari 2014



Yesus dan Perceraian,
Matius 19 : 4-6.

Salah satu realitas sosial yang menonjol belakangan ini adalah perpecahan dalam rumah tangga yang menyebabkan perceraian antara suami dan isteri. Tidak sedikit suami-isteri Kristen yang memutuskan untuk mengakhiri perkawinan melalui perceraian. Ada yang secara sah bercerai melalui proses dan keputusan pengadilan negeri. Ada pula yang tidak sah karena salah satu – suami atau isteri – pergi meninggalkan pasangan dan keluarga begitu saja dan tidak kembali. Ketika ditanya, “Mengapa terjadi perceraian?” Berbagai alasan dikemukakan. Beberapa di antaranya : a) Salah satu merasa tidak cocok dengan pasangannya, sehingga menimbulkan ketidakharmonisan dalam hubungan; b) Terjadi tindakan kekerasan dalam rumah tangga; c) Perselingkuhan/perzinahan yang dilakukan suami atau isteri dengan orang lain; d) Perkawinan yang berlangsung tanpa cinta-kasih; e) Masalah ekonomi.

Dari dulu sampai sekarang, pemerintah maupun para pemimpin agama berusaha menyikapi masalah perceraian. Berbagai aturan dan hukum dibuat, yang umumnya melegitimasi perceraian. Aturan dan hukum itu juga lebih menguntungkan kelompok yang kuat, termasuk laki-laki dan mendiskreditkan kelompok lemah, yakni perempuan. Para pemimpin Yahudi juga memberlakukan aturan dan hukum seperti itu.

Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus ingin merekonstruksi semua aturan dan hukum agama Yahudi yang menurut-Nya, tidak adil, termasuk masalah perceraian. Menurut Tuhan Yesus, seperti tampak dalam jawaban-Nya kepada para pemimpi Yahudi bahwa perceraian merupakan penghinaan, bahkan penodaan terhadap lembaga keluarga yang dibentuk dan dibangun oleh Allah sejak semula. Tuhan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk mempersatukan mereka menjadi satu daging sebagai suami-isteri. Lembaga keluarga yang Tuhan Allah bentuk, menurut Tuhan Yesus, tidak boleh diceraikan manusia.

Para pemuda gereja perlu memahami hal ini, agar kelak ketika mereka kawin dan berkeluarga, mereka tetap menjaga keutuhan lembaga yang dibentuk Allah dan tidak bercerai. Mereka juga bisa meneladani Tuhan Yesus dalam hal merekonstruksi aturan dan hukum gereja yang dirasa tidak adil dan mendiskreditkan.

SBP, Sabtu, 11 Januari 2014



Percaya Pada Janji Tuhan,
Yosua 2:24.

Yosua mengatur strategi perang dengan melepas dua mata-mata mengamati kota Yerikho. Kehadiran keduanya diketahui. Para petugas pulang dengan tangan kosong sebab kedua pengintai itu diselamatkan Rahab. Laporan akhir memperlihatkan bahwa Tuhan pasti memberikan kota Yerikho bagi bangsa Israel. Kondisi sosial-kejiwaan menunjukkan rasa takut hebat mereka menghadapi bangsa Israel. Mereka ternyata sudah kalah sebelum berperang.

Mengapa bangsa Yerikho mengalami tekanan hebat? Bukankah mereka memiliki pasukan perang terlatih, persenjataan lengkap dan penguasaan lapangan yang lengkap? Rupanya mereka gemetar sebab bangsa Israel telah dapat membebaskan diri dari bangsa Mesir yang lebih besar dan lebih kuat dari bangsa Yerikho. Penilaian mereka tidak salah. Mereka benar-benar ketakutan menghadapi serangan dari bangsa Israel. Suasana kebatinan demikian dapat ditangkap dengan mudah. Tidak ada yang dapat disembunyikan saat ketakutan datang. Tuhan terlibat dalam peperangan bersama bangsa-Nya. Kemenangan demi kemenangan menjadi bukti pertolongan Tuhan. Dampaknya jelas menggetarkan siapa saja, tak terkecuali bangsa Yerikho. Segala kehebatan dan kebanggaan yang mereka miliki tak ada artinya, sebab kemampuan mereka tak sebanding dengan kuasa Allah yang luar biasa.

Tantangan seberat apapun dengan lawan setangguh apapun, hendaknya tidak melemahkan dan mengecilkan kekuatan kita dalam menghadapinya. Jika kita lemah dan menganggap diri kecil, akibatnya sangat memprihatinkan. Kita bisa kalah sebelum berperang. Kita sudah lempar handuk sebelum berkeringat. Maukah kita bayar harga dengan berlaku setia dan berani menghadapi tantangan yang datang dengan kekuatan Allah? Kedua mata-mata memberikan kesaksian iman yang positif. Mereka memperkatakan berkat Allah. Yang sama harus kita perbuat dengan selalu memperkatakan kuasa Yesus yang hebat. Mujizat Allah pasti terjadi dalam hidup kita.


SBP, Jumat, 10 Januari 2014.



Kudusnya Pelayanan,
Imamat 10:6-7.

Kekudusan begitu sentral dalam praktek ibadah bangsa Israel. Allah menetapkan aturan dengan batasan jelas dan pelaku yang tak boleh sembarangan. Penyelenggaraan ibadah hanya diberikan kepada orang-orang yang sudah ditentukan dengan aturan yang mengikat. Tidak ada kebebasan dan pengecualian. Jika semua diabaikan, hukuman fatal jadi kenyataan. Allah tidak bermain-main dengan aturan-Nya. Kematian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu menjelaskan akibat dari tindakan yang melanggar kekudusan Allah.

Ibadah kepada Allah jelas mengandung kekudusan dan kebenaran. Kita hanya dapat berkenan kepada Tuhan selama kita hidup dalam pertobatan dan mempraktekkan kasih Kristus dalam hidup dengan sesama. Keterlibatan keluarga harus semata-mata anugerah Allah dan bukan kesempatan untuk menyombongkan diri. Kedua anak Harun salah mengartikan panggilan pelayanan yang dipercayakan Allah dengan bertindak serampangan dan melanggar kekudusan. Murka Tuhan begitu dahsyat dan tidak terduga sama sekali. Api Tuhan menghanguskan keduanya. Pelayanan mereka tidak menyenangkan hati Allah sehingga Allah bertindak menyatakan kedaulatan-Nya. Tanpa rasa takut dan sikap hormat pada Allah, pelayanan ibadah bisa disamakan dengan perbuatan duniawi yang sifatnya sekuler. Kematian mereka bukan untuk ditangisi tetapi sebagai  pembelajaran agar di kemudian hari siapapun yang melayani Tuhan berhati-hati dan selalu menghormati kekudusan Allah.

Peristiwa ini mengajarkan kita untuk bertanggungjawab dalam kerja pelayanan yang sudah diterima dan dipercayakan Allah. Kiranya kita tidak seenaknya menghindar dari pelayanan gereja sebab alasan kesibukan dan melayani tanpa persiapan yang mendalam. Sikap anggap enteng dalam pelayanan bukan tanpa resiko. Allah memperhatikan kesungguhan kita dalam menghormati kekudusan pelayanan. Jika anak-anak Harun mati terbakar oleh api Tuhan, maka sepatutnya kita bertobat dan setia melayani dengan berlaku hormat kepada Allah.

Selasa, 28 Januari 2014

SBP, Kamis, 9 Januari 2014

Melayani Dengan Sungguh,
Galatia 2:7-10.

Dalam sesi orientasi mahasiswa baru teologi STT Jakarta tahun 1989, lagu 'melayani lebih sungguh' begitu akrab di telinga. Semua mahasiswa begitu mudah menyanyikannya dengan emosional sebab memiliki kerinduan yang sama untuk memberi diri melayani Tuhan. Dari angkatan kami, hampir 90 persen terjun dalam pelayanan di berbagai jemaat Tuhan yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Beberapa di antara rekan kami berkonsentrasi dalam ilmu teologi dengan belajar di luar negeri. Sekarang mereka sudah menjadi dosen teologi pada almamater tercinta di Proklamasi 27.

Konsentrasi pelayanan Paulus dengan Petrus berlainan dalam hal sasaran penginjilan. Rasul Petrus melayani jemaat Yahudi dan Paulus melayani jemaat non-Yahudi. Isu diskriminasi rasial dapat dipecahkan dengan baik. Mereka memperoleh solusi tepat sehingga tidak ada pihak yang dikorbankan. Semua manusia wajib menerima pelayanan dari hamba Kristus. Kepelbagaian suku bukan jadi penghambat, tetapi jadi peluang dan kesempatan baik dalam memberitakan Injil Yesus dengan leluasa. Konsentrasi pelayanan itu sudah disepakati bersama dan mereka semua tetap hidup dalam ikatan persekutuan yang solid.

Perkembangan terbaru memperlihatkan luasnya cakupan pelayanan. Sangat dibutuhkan tenaga-tenaga pelayan yang mau memberi diri bagi pekerjaan Tuhan secara khusus dengan kecakapan dan pengetahuan yang luas. Jika saudara memang memiliki hati untuk menjadi hamba Tuhan, kiranya saudara memohon hikmat Allah dalam doa dan meminta dukungan dari kaum keluarga serta jemaat Tuhan. Pendidikan teologi menjadi bagian penting agar pelayanan dan kesaksian gereja berlangsung dengan baik dan memberkati semua anggota jemaat Tuhan. Berikan yang terbaik dari hidupmu bagi Yesus. Tuhan pasti membuat kita berhasil dalam memberitakan injil Kerajaan Allah bagi keselamatan banyak orang.

Senin, 27 Januari 2014

SBP, Rabu, 8 Januari 2014

Penginjilan Pribadi,
Kisah Para Rasul 8 : 26-31.

Roh Kudus bekerja dalam pelayanan hamba Kristus yang setia memberitakan Injil Kristus. Filipus mendapat pewahyuan pribadi untuk menjumpai seorang pejabat penting disebuah jalan sunyi. Perintah Allah merupakan penugasan khusus dengan tujuan menjelaskan kebenaran firman Tuhan tentang Juruselamat yang dinubuatkan nabi Yesaya. Tugas itu mendesak sebab malaikat Tuhan datang menyampaikannya. Filipus menanggapi pesan itu dengan kesungguhan emberitakan nama Yesus.

Allah menggunakan dan menggerakkan hamba-hamba-Nya untuk memberitakan Injil. Stefanus dengan setia menyerahkan dirinya bagi Tuhan dan mati dalam tugas yang mulia. Walau dianiaya, namun kebenaran firman Allah tak dapat dihalangi oleh kekuatan apa pun. Roh Kudus berkarya dalam hidup Filipus dan menjadi pelayan Tuhan yang taat tanpa sungut-sungut. Filipus tidak mengabaikan perintah itu dengan alasan tidak punya waktu, belum tahu alamat atau malu berhadapan dengan seorang pembesar yang sama sekali asing. Filipus tidak mengeluh sedikit pun walau yang dilayani hanya seseorang. Ia mau taat pada Allah dan pergi menginjili di tempat yang sepi dan hanya kepada satu orang. Penginjilan Filipus berhasil karena kuasa Tuhan bekerja atas pelayanannya.

Penginjilan pribadi sering dipandang sebelah mata jika yang dikejar hanya popularitas pribadi. Penginjilan pribadi memiliki bobot tersendiri dan mulia bagi Tuhan. Allah merencanakan seseorang untuk mengenal Yesus lebih dekat lagi. Allah menggunakan firman-Nya supaya seorang yang cerdas dan berpangkat dapat dituntun kepada Juruselamat. Jangan saudara malu dan rendah diri atau beralasan ketika ditugaskan berbicara tentang firman Allah. Jika saudara mau mendedikasikan hidup saudara bagi Tuhan, layanilah secara pribadi setiap orang yang Tuhan perkenankan berbicara dengan saudara. Persiapkan diri saudara dengan sungguh dan layani Tuhan dengan sukacita.

SBP, Selasa, 7 Januari 2014

Menuai Berkat,
Yohanes 4 : 34 - 38.

Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di Sikhar menghasilkan pertobatan dan respon positif dengan pengakuan Yesus adalah Juruselamat manusia. Dengan penyampaian lembut dan tepat, Tuhan Yesus menanamkan benih firman Allah pada perempuan yang hidup dalam penyembahan berhala. Dialog Yesus menukik pada persoalan iman. Yesus mengarahkan perempuan Samaria itu untuk percaya kepada Sumber Air hidup yang kekal. Sementara murid-murid didorong untuk menjadi penuai atas jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus.

Percakapan simpatik, persuasif dan mendalam mengalir dengan baik antara Yesus dengan perempuan Samaria itu. Tuhan Yesus menghancurkan tembok-tembok pemisah dan penghalang apapun dalam berkomunikasi. Bahasa yang digunakan tidak memperlihatkan arogansi kekuasaan, apalagi penghakiman yang keras. Yesus membuka semua sisi tersembunyi dari pribadi perempuan itu dan memberi undangan kepadanya agar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Percakapan Yesus telah menghancurkan hal-hal tabu yang selama ini dipelihara dan memberi wawasan baru agar murid-murid aktif menginjili manusia supaya bertobat dan menjadi milik Tuhan. Murid-murid diajarkan untuk hidup mengerjakan perintah Tuhan membawa manusia diselamatkan kepada Yesus dan melakukan tugas perutusan itu dengan sukacita.

Seringkali kita bertemu dengan orang-orang baru dan terlibat dalam percakapan. Apa yang perlu kita ingat bahwa pertemuan itu bukan sekedar pertemuan biasa. Pertemuan itu diatur Allah dan bisa jadi kesempatan melayani firman Allah sehingga siapa pun yang menjadi lawan bicara dapat mengenal Yesus dan lebih jauh mengikut Yesus dalam hidupnya. Tuhan mengutus kita untuk menuai berkat yang disediakan oleh-Nya. Mohon Roh Tuhan agar kita dapat menjadi penuai berkat Tuhan yang setia sehingga banyak orang diselamatkan dan kita dapat memberikan hormat serta kemuliaan hanya bagi Allah.

SBP, Senin, 6 Januari 2014

Pertolongan Tuhan,
Keluaran 15 : 25-27.

Hidup bersama Tuhan itu indah ketika segala sesuatu berjalan baik dan memuaskan. Semua bisa berkata dengan gembira: puji Tuhan, Tuhan memberkati atau Tuhan baik. Nyatanya hidup tidak selalu berjalan mulus. Persoalan bisa datang tanpa diundang dan menghadang didepan hidung kita. Kita terkejut, gelisah, kuatir dan marah jika persoalan itu tidak segera selesai. Persoalan boleh datang, tetapi jangan terlalu lama. Jawabannya harus datang seketika. Jangan sampai muncul stress bagi banyak orang!

Harapan demikian bagus, namun kenyataannya bertolak belakang. Contohnya adalah pengalaman bangsa Israel menempuh padang gurun yang luas setelah melewati Laut Teberau. Tiga hari berjalan dan kebutuhan air menipis. Mustahil dapat berjalan terus tanpa pasokan air yang cukup. Mereka butuh air untuk menyegarkan stamina dan memberi kekuatan baru dalam menempuh perjalanan panjang. Air menjadi kebutuhan vital bagi umat dan binatang yang mereka bawa. Karena itu mereka menjadi marah kepada Musa ketika air yang didapat terasa pahit. Air pahit tidak ada gunanya sebab sukar dikonsumsi dan kemungkinan beracun. Mereka bertanya kepada Musa dan butuh jawaban segera. Mereka menuntut Musa memberikan solusi. Musa berseru kepada Allah dan datang jawaban. Dengan sepotong kayu yang dilemparkan Musa sesuai perintah Tuhan, air pahit berubah jadi manis.

Fakta iman ini menjelaskan bahwa Tuhan menyertai umat-Nya dalam menghadapi persoalan genting. Kepekaan Musa terhadap pergumulan umat dikomunikasikan kepada Allah, Allah memberikan solusi. Musa dilibatkan mengerjakan perintah Tuhan. Yang sama dapat kita lakukan jika kita mau memberi diri dipakai Allah agar pertolongan Tuhan nyata. Maukah saudara mendoakan mereka yang dalam kesukaran besar? Beri diri saudara menjadi alat bagi datangnya berkat Allah.

SBP, Minggu, 5 Januari 2014

Menyerukan Nama Tuhan.
Mazmur 80 : 18-20.

Pemazmur dengan realistis mengungkapkan bagaimana hidup orang yang mengasihi Tuhan diperhadapkan dengan ejekan dan hinaan dari musuh-musuh Tuhan. Umat berada dalam bahaya dan karena itu pemazmur mengajak dan mendorong umat Tuhan untuk memohon pertolongan Tuhan dalam doa sehingga mereka mengalami pembebasan dan mujizat Allah yang dahsyat. Mereka diingatkan untuk mengandalkan Tuhan di saat tekanan berat datang dan tetap hidup dalam kesetiaan agar mereka tetap mengalami keselamatan dari Tuhan.

Di Iran diberitakan bahwa pada Oktober 2012 empat warga Kristen dihukum cambuk 80 kali karena minum anggur setelah mengikuti perjamuan kudus. Penganiayaan terhadap umat Kristen berlangsung selama sejarah kekristenan dengan berbagai alasan yang tujuannya adalah menghancurkan kekristenan dan menolak ketuhanan Yesus. Salah satunya cara menghentikan perkembangan kekristenan dengan menggunakan perangkat hukum. Beberapa jemaat GPIB di Bekasi sama seperti jemaar Tuhan di tempat lain, membutuhkan kesabaran dan hikmat Tuhan agar beroleh ijin dalam membangun rumah ibadah. Sekalipun tekanan terasa di kalangan gereja-gereja Tuhan, umat Tuhan tetap setia dalam ibadah, bertekun dalam doa dan giat dalam menyebarkan kasih Kristus lewat pelayanan diakoni. Persekutuan yang intim dengan Allah dalam konteks persekutuan, menguatkan ikatan kasih di antara jemaat Tuhan dan sikap berserah sepenuh pada kuasa Allah yang ajaib.

Sebagai pemuda Kristen, kita tidak bisa bersembunyi dan takut menghadapi penganiayaan. Kita perlu mengorganisir persekutuan doa secara rutin dan menjalin komunikasi dengan kaum beragama lain yang menghargai kemajemukan. Mengikut Yesus selalu menuntut harga mahal. Mari kita pertahankan anugerah keselamatan yang Tuhan berikan. Jangan saudara jual kekristenan saudara hanya demi uang, jabatan dan kepentingan pribadi supaya saudara tidak menyesal dikemudian hari seperti Esau yang kehilangan berkat Tuhan.

SBP, Sabtu, 4 Januari 2014

Berjaga-jaga,
Markus 13:33-37.

Kedatangan Tuhan selalu menjadi pertanyaan menarik. Murid-murid bertanya dan mereka membutuhkan penjelasan atas segala sesuatu yang kelak terjadi saat kedatangan Tuhan. Yesus memberi jawaban yang gamblang dengan gambaran tentang pemilik rumah yang bepergian dan menugaskan hamba dan penunggu pintu untuk berjaga-jaga sampai si pemilik rumah pulang sesuai keinginannya. Tugas semua hamba dan penunggu pintu adalah berjaga-jaga dan bukannya tertidur. Jika mereka lalai dan tertidur pasti dihukum pemilik rumah.

Ajaran Tuhan Yesus ini menolong kita untuk menjadi anak-anak Tuhan yang menyadari tugas mulia yang dipercayakan Yesus yakni memberitakan Injil Kristus, kabar sukacita tentang keselamatan di dalam Yesus yang mati tersalib dan yang menganugerahkan kehidupan kekal. Kehendak Allah bahwa kita berjaga-jaga dan bukannya asyik dengan kesenangan diri sendiri dan mengabaikan perintah Tuhan. Jika saudara jujur tentang masa lalu saudara, maka mudah kita akui betapa hidup kita jauh dari menyenangkan hati Tuhan Yesus. Kita gagal dalam menjalankan tanggungjawab kita sebagai anak Allah untuk hidup dalam kesucian. Kita diingatkan untuk tidak malu mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan yang tidak menyangkali kuasa-Nya yang memberkati hidup, kerja, studi dan karir. Dengan berjaga-jaga, kita bertumbuh dalam kasih karunia Allah dan menjadai serupa dengan Kristus. Kita mau mempersembahkan diri kita untuk melayani Raja di atas segala raja, Yesus Kristus.

Tahun ini jika kita hidup sungguh mengandalkan Tuhan, maka orientasi hidup kita bukan lagi memuliakan diri sendiri melainkan hanya Tuhan Yesus. Adalah tindakan bodoh jika kita terpengaruh pada ajaran yang menghitung datangnya hari Tuhan. Tugas kita bukan untuk menghitung tanggal kedatangan Yesus, tetapi melaksanakan semua tugas yang Tuhan berikan dengan penuh tanggungjawab.

SBP, Jumat, 3 Januari 2014

Bijak Dalam Tuhan,
Matius 7:24-27.

Persoalan selalu datang setiap hari. Mulai saat bangun, bekerja dan ketika hendak beristirahat di malam hari. Mereka yang masa bodoh, menghadapi persoalan dengan pola pandang biasa dan menganggap semua selesai dengan sendirinya. Mereka tidak pernah mengevaluasi, mencari titik lemah dan menemukan solusi tepat untuk mengatasinya. Akibatnya,  kesalahan selalu terulang dan dibutuhkan biaya yang besar untuk memperbaikinya. Bayangkan jika tahun ini kuliah saudara tidak tuntas dan saudara mengulang dari semester awal.. Berapa banyak waktu dan biaya terbuang percuma? Bukan tidak mungkin peristiwa ini begitu memalukan dan tidak patut ditiru.

Tuhan Yesus mengajarkan pentingnya kita mendengar firman Allah. Mendengar firman Tuhan adalah tindakan bijaksana sebab hal demikian sama seperti orang yang membangun rumahnya di atas fondasi batu yang kokoh. Apa yang Yesus katakan adalah kebenaran mutlak sebab hanya firman Allah yang dapat menjadikan hidup kita bersukacita, berpengharapan dan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan hidup. Tidak ada cara lain agar kita selamat dari amuk badai kehidupan yang mengancam, kecuali kita setia kepada Allah dan mendengarkan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Disini Tuhan Yesus mengungkapkan rahasia dari kehebatan firman Tuhan bagi mereka yang setia kepada Allah.

Tentu saja bangunan dari batu membutuhkan biaya besar dalam membangunnya dibanding bangunan yang fondasinya pasir. Jika perkataan Tuhan Yesus ini dimengerti dengan baik, kita dapat sepakat untuk memberi diri kita dikuasai kebenaran firman Tuhan yang memberkati hidup kita. Jika setiap hari kita baca dan renungkan firman Tuhan, semakin kita bijak dalam Tuhan. Berbagai persoalan hidup bisa datang silih ganti, namun tidak menghancurkan hidup kita.

SBP, Kamis, 2 Januari 2014

Setia Pada Yesus,
Yosua 24:27.

Yosua memimpin bangsa Israel melewati berbagai macam pertempuran yang heroik dan mengalami kemenangan yang luar biasa untuk memperoleh berkat yang dijanjikan Allah. Yosua menarik kesimpulan atas semua peristiwa yang dialami sebagai karya Tuhan yang memberkati hidup mereka sebagai satu bangsa dan dalam kehidupan keluarga. Ada campur tangan Allah yang nyata. Pertolongan Yang Mahakuasa itu menyertai Yosua dalam menjalani tugas berat dan begitu mustahil dapat diatasi.

Kebersamaan menjadi perkara penting dalam hidup beriman. Yosua berada bersama dengan saudara-saudara seimannya. Yosua bersaksi tentang kebaikan Allah dan pimpinan-Nya yang menjadikan Yosua kagum atas semua tindakan Allah yang ajaib. Perjalanan hidupnya bersama Allah sama seperti yang dialami para pendahulu iman yang setia dalam mengikuti perintah dan janji Allah seperti Abraham, Ishak, Yakub dan Musa. Yosua meminta semua saudaranya untuk berkomitmen hidup dalam kesetiaan kepada Allah dengan berlaku taat terhadap firman Allah. Ketaatan menjadi kata kunci bahwa kita hidup dalam persekutuan yang benar dengan Allah dan tidak menyangkal Tuhan. Dengan komitmen, Yosua berharap bahwa mereka menjadi saksi-saksi Allah dan mempertahankan imannya dalam kesungguhan sehingga tidak tergoda dan terjatuh dalam dosa penyembahan berhala yang menyakitkan hati Tuhan.

Tahun 2014 menjadi tahun kemajuan dalam hidup rohani jika kesetiaan kita kepada Allah diperbaharui janganlah di tahun ini semangat ibadah, doa dan pelayanan kita hanya menggebu di awal dan kemudian merosot ke titik terendah. Bersama dengan saudara seiman, rekan sepelayanan dan hamba Tuhan. Kita perlu memperbaharui komitmen dan kesetiaan kita kepada Allah dan tidak terbersit sedikitpun pikiran dan niat menyangkal Tuhan Yesus.

SBP, Rabu, 1 Januari 2014

Perlindungan Allah
Kejadian 28:20-22.

Menapaki hari pertama di tahlun baru, kita diliputi suasana gembira. Di tahun 2014 ini, kita berharap segala yang kita rencanakan berhasil. Kita berdoa agar kegagalan di masa lampau tidak terulang dan berkomitmen hidup selaras dengan firman Tuhan. Komitmen iman menjadikan hidup kita memiliki tujuan luhur seperti yang dilakukan Yakub. Dalam pengalaman baru dengan segala kebebasannya, dibutuhkan visi yang mendalam agar masa depan yang diberikan Allah menjadi kesempatan untuk mengalami segala kebaikan Tuhan yang ajaib.

Yakub di usia muda membuat komitmen iman yang penting. Janji Allah telah diterimanya dan ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Pertama bahwa Yakub percaya terhadap jaminan Allah atas hidup dan masa depannya. Kedua, Yakub berjanji untuk mengucap syukur dan memberikan persepuluhan dari kekayaannya. Yakub tidak sedang bermain-main dengan ucapannya. Yakub mempercayai segenap hati apa yang dinyatakan Allah baginya. Persekutuannya dengan Allah bukan sesaat dan sekedar perasaan emosional. Yakub mempercayai kehadiran Allah dan janji-Nya yang mengagumkan itu dengan sikap syukur dan penyerahan diri pada kehendak-Nya. Yakub percaya bahwa Tuhan memberikan segala keperluannya yang paling mendasar, yakni makan dan pakaian.

Usia muda bukanlah waktu untuk melampiaskan hasrat kedagingan. Belajar dari sikap hati Yakub, yang segera menanggapi kasih Allah dan bernazar atas semua kebaikan Tuhan. Yakub memiliki harapan didalam Tuhan, dan berani berjanji untuk memberi persepuluhan kepada Tuhan. Yakub membesarkan harapan dan semangatnya di dalam janji Allah yang dahsyat. Hanya dengan percaya pada janji Allah, kita dipelihara dan diberkati Allah secara berkelimpahan. Mari berkomitmen dengan iman yang teguh dalam Yesus Sumber segala berkat.