Jumat, 22 November 2013

SBP, Jumat 22 Nopember 2013

Allah Hakim dan Penolong Sejati,
Mazmur 7:11-12.

Negara kita adalah Negara hukum. Artinya Negara yang diselenggarakan berdasarkan hukum dan undang-undang. Siapapun yang melakukan pelanggaran pasti akan kena sangsi hukum yang sama. Tetapi sudah rahasia umum, bahwa hukum di Indonesia belum ditegakkan secara adil. Hukum diterapkan secara tebang pilih, bahkan diperjual belikan. Bila pelanggaran dilakukan oleh jajaran aparat tinggi Negara atau orang kaya, maka sangsinya kecil, bahkan bisa bebas. Tetapi jika yang melanggarnya level menengah ke bawah, akan diganjar hukuman berat.
Ketidak adilan juga sering dialami oleh gereja atau orang-orang Kristen. Contoh dalam pengurusan izin membangun gedung gereja, yang acap kali dipersulit dengan birokrasi yang ketat. Atau harus meminta izin sejumlah anggota masyarakat setempat. Begitu juga bagi orang Kristen yang hendak berkarier, sering kali dihambat oleh karena ia Kristen. Pertanyaannya bagaimanakah seharusnya kita menghadapi masalah ini? Marilah kita belajar dari pemazmur.
Pemazmur, dalam bacaan kita ini mengisahkan dirinya yang sedang dikejar untuk dibinasakan. Mereka yang mengejarnya adalah saudara sebangsanya sendiri. Padahal pemazmur tidak merasa melakukan kesalahan atau telah merugikan mereka. Menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan seperti ini pemazmur hanya berharap pada pertolongan Tuhan. Sebab, demikian ikrarnya: "perisaiku adalah Allah".
Ia tahu tentang apa yang diperbuat pemazmur. Sebab Allah adalah hakim yang maha-tahu dan maha-adil. Karena itu ia percaya bahwa Allah akan menjadi pelindungnya.
Perlakuan yang tidak adil dari saudara-saudara kita sebangsa bahkan segereja, mungkin masih sering kita rasakan. Jika terjadi seperti itu, hadapilah dengan bijak dan andalkan Tuhan. Asal kita tidak melanggar dan menyusahkan orang lain, maka Tuhan pasti menolong kita.

SHP

Kamis, 21 November 2013

SBP, Kamis 21 Nopember 2013

Tuhan Pelita Hati Menerangi Rancangan Pemuda/i,
Amsal 20:27.

Manusia tidak hanya terdiri dari tubuh atau badan yang kelihatan. Melainkan juga memiliki roh dan jiwa. Meskipun roh dan jiwa tidak kelihatan, namun memiliki peranan yang amat menentukan bagi tubuhnya. Karena itu jika roh dan jiwa manusia meninggalkan tubuhnya, maka tentulah tubuhnyaakan berganti nama menjadi jasad atau mayat.
Dapat dikatakan bahwa tubuh itu adalah kendaraannya roh dan jiwa manusia; dengan tubuhnya manusia dapat menghadirkan diri dan mengekspresikan kehendaknya.
Pertanyaannya "Mampukah roh dan jiwa manusia mengontrol serta memberikan inspirasi positif supaya tubunya dapat melakukan sesuatu yang bermakna, bagi diri dan sesamanya terutama bagi Tuhan penciptanya?".
Pertanyaan ini perlu diajukan, mengingat bahwa sejak kejatuhan manusia kedalam dosa, Alkitab mencatat bahwa kerusakan manusia juga termasuk hati (roh) dan pikirannya (jiwa). Karena itu manusia tidak dapat lagi mengerti kehendak sang pencipta, bahkan sebaliknya, yaitu justru melakukan yang bertentangan dengan kehendakNya.
Amsal Salomo memberikan wejangan yang sangat teologis. Ia mengatakan bahwa roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya. Ternyata Tuhan pencipta masih berkenan memberikan cahayaNya. Dengan demikian maka hati yang didiami roh bisa mendapat pencerahan untuk merancang perbuatan yang baik, yang berkenan kepada Tuhan.
Kiranya wejangan Amsal ini dapat mengingatkan kita, sebagai pemuda/i, supaya roh (hati) dan pikiran (jiwa) kita tetap menjadi pelita Tuhan, jangan dipadamkan. Caranya tekun dalam Firman Tuhan dan berdoa. Sehingga ketika kita merancangkan sesuatu apapun, yang akan dikerjakan tubuh dapat menyenangkan hati Tuhan.

SHP 

Rabu, 20 November 2013

SBP, Rabu 20 Nopember 2013

Ratapan 3:55-57.

Dicampakkan ke dalam lobang lalu dilempari dengan batu, tentu ini merupakan pengalaman yang sangat menyakitkan, bahkan bisa mematikan. Membayangkan sajapun kita enggan, apalagi disuruh mengalami, pasti kita akan mengatakan "jangan sampailah yaow",
Tetapi peristiwa yang amat menyakitkan ini diceritakan penulis kitab Ratapan sebagai pengalamannya sendiri. Iakatakan, bahwa mereka melemparku hidup-hidup ke dalam lobang. Melontari aku dengan batu (Ayt.53). Siapakah sebenarnya penulis yang telah mengisahkan pengalaman tragisnya ini? Menurut tradisi gereja, penulis kitab Ratapan ini adalah nabi Yeremia, atau setidaknya hendak mengisahkan tentang pengalaman Yeremia. Jika memang benar begitu maka kita mendapat pelajaran bahwa seperti itulah tantangan seorang hamba Tuhan.
Dalam keadaan seperti itu Yeremia berseru memanggil nama Tuhan. Ia memohon supaya Tuhan tidak menutup telinga, tetapi mau segera menolongnya. Ia memohon karena percaya bahwa Tuhan, berada dekat dengannya. Allah, baginya hanya sejauh doa dan selalu akan memberi kekuatan. Sabdanya: "jangan takut!". Sabdanya ini merupakan pernyataan untuk meyakinkan bahwa Tuhan tidak berdiam diri terhadap hambanya yang berseru minta tolong.
Kemudian siapakah yang dimaksud dengan mereka? Ternyata tidak dijelaskan secara rinci dalam teks ini. Tetapi dapat kita pastikan bahwa mereka adalah orang-orang jahaat, sebab berniat menyakiti Yeremia.
Secara simbolik kata "Lubang" dapat juga berarti keadaan yang biasa membuat orang menderita. Sedangkan "lontaran batu" secara simbolik dapat diartikan sebagai lontaran cercaan, fitnahan, sinisme yang dapat membuat orang menjadi tersiksa. Jika penderitaan karena fitnahan dan sinisme menghujam hidup kita maka berserulah kepada Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan dekat denganMu dan akan segera menolongmu.

SHP

SBP, Selasa 19 Nopember 2013

Jangan Menunda-nunda Pekerjaan,
Kidung Agung 2:10-13.

Banyak sebab yang membuat seseorang menjadi malas untuk melakukan pekerjaan. Meski pekerjaan itu mudah dan sudah sering dilakukan. Salah satu penyebabnya adalah keadaan alam/cuaca, saat hujan deras atau panas terik. Bagi seorang petani yang rajin dan tekun, cuaca bukan alasan untuk bermalas-malasan atau menunda pekerjaan. Musim penghujan atau kemarau, ia tetap saja ke ladang untuk menanam atau merawat tanaman. Ketekunan dan kerajinan petani, sangat baik dijadikan contoh bagi pemuda-pemudi Kristen dalam berkarya dan melakukan tugas pemberitaan Injil.
Bacaan Alkitab hari ini, menegaskan tentang ajakan Tuhan Allah kepada Israel untuk segera beranjak (=bangun) melakukan sesuatu. Sebab sekaranglah saatnya kita bekerja melakukan banyak hal bagi Tuhan. Ajakan Tuhan ini disampaikan dengan perumpamaan atau gambaran pasangan muda/i yang sedang bercinta. Lalu pasangan pria yang memulai menyapa dan mengajak kekasihnya untuk bekerja sama (atau sama bekerja). ..."Bangunlah...marilah". Sebab musim memetik buah dan berburu sudah tiba. Ajakan yang sama pernah disabdakan Yesus. Ia bersabda "hari masih siang, saatnya akan tiba ,alam hari dimana kita tidak dapat melakukan apa-apa lagi".
Sahabatku, kita tahu bahwa zaman kini ditandai oleh persaingan yang amat ketat diberbagai bidang kehidupan. Hendaknya kenyataan ini tidak membuat kita terpuruk dan putus asa. Melainkan kita jadikan pendorong untuk lebih giat dan lebih kreatif.
Yesuspun pernah bersabda "bekerjalah bukan hanya untuk makanan dan minuman melainkan untuk kerajaan Allah". Apa yang kita kerjakan setiap hari tidak hanya kita lakukan berdasarkan impian dan kehendak kita, melainkan karena, untuk, bagi dan di dalam Tuhan Yesus.

SHP

SBP, Senin 18 Nopember 2013

Nama Yesus Dapat Memberikan Kekuatan, Benarkah?
Lukas 6:46-49.

Saudaraku, ketika kita menghadapi kesulitan hidup yang amat sangat, hingga seolah itu menjadi ancaman bagi studi, karier, harapan bahkan jiwa kita, kemanakah kita akan meminta pertolongan? Sebagai pemuda/i Kristen tentu kita akan menjawab: "kepada Tuhan Yesus" ! ...Benar. Kepada Yesuslah yang utama dan pertama kita datang dalam doa untuk memohon pertolongan-Nya. Sebab kita percaya bahwa Dia berkuasa atas segala itu.
Tidak hentinya kita berdoa dan meminta pada-Nya.
Tetapi jika sekian lama kesulitan itu belum juga teratasi, lalu apa yang terjadi?. Kita mulai gelisah dan meragukan pertolonganNya yang penuh kuasa. Jika kegelisahan dan keraguan itu terus menerus menyelimuti kita, kita pasti merasa disudutkan bahkan "dihancurukan" oleh kehidupan ini. Saat kita tersudut oleh kesulitan dan mengalami kehancuran, kita sering sukar untuk mengintrospeksi diri; "sudah terjalin dengan baikkah hubungan kita dengan Tuhan Yesus?".
Pada suatu kesempatan, seperti yang dicatat oleh Lukas, bahwa Yesus pernah memberikan pengajaran yang bersifat ilustratif tetapi jelas. Isi pengajaran-Nya menerangkan bahwa hubungan yang baik dan benar dengan Yesus tidak hanya ditandai oleh seringnya kita menyerukan nama-Nya. Melainkan jika kita mau melaksanakan perintah-Nya. Setiap orang yang datang mendengar dan melakukan perintahNya akan memperoleh kekuatan untuk menghadapi kesulitan dalam bentuk dan sebesar apapun. Sehingga ia tetap survive. Hal itu diumpamakan Yesus seperti orang yang mendirikan rumah di atas pondasi yang dalam dan kokoh.
Sebaliknya; orang yang tidak datang dan mendengar serta melakukan FirmanNya, maka ia rapuh terhadap kesulitan kecil sekalipun. Jadi Nama Yesus sungguh dapat memberikan kekuatan asal kita mau datang mendengar dan melakukan FirmanNya.

SHP

SBP, Minggu 17 Nopember 2013

Menjadi Pemuda-Pemudi Yang Tahan Uji,
Ayub 23:8-12.

Ada harapan yang masih belum dapat kita wujudkan. Sementara kesulitan dan tantangan tak juga bisa kita selesaikan. Biasanya kenyataan seperti itu dianggap sebagai ujian. Sebenarnya ujian merupakan kenyataan hidup yang dialami oleh semua orang, tidak terkecuali kita sebagai pemuda-pemudi Kristen. Tapi kenyataanya masih ada pemuda-pemudi Kristen yang menjadi skeptic ketika menghadapi ujian. Karena tidak sangguo bertahan, lalu menyelesaikannya dengan cara mengambil jalan pintas, meski harus melanggar Firman Tuhan. Menyelesaikan masalah dengan cara seperti itu meruoakan gambaran dari tindakan yang tidak tahan uji.
Teks Alkitab hari ini memberi pelajaran berharga untuk kita. Ayub adalah seorang tokoh Alkitab yang taat pada Tuhan. Meski iblis telah mengambil harta bendanya; juga merenggut kesehatannya, namun ketaatannya pada Tuhan tidak tergoyahkan. Para sahabatnya menuduh bahwa apa yang terjadi pada Ayub, yaitu penderitaannya adalah sebagai hukuman Tuhan. Tuduhan ini membuat Ayub ingin memberontak. Karena, menurut Ayub hal itu tidak benar Karena itu Ayub menyampaikan perkaranya kepada Tuhan. Namun Tuhan yang dicarinya di ke-empat penjuru mata angin tidak dijumpainya (ay.8) Walaupun begitu Ayub yakin bahwa Tuhan yang tidak kelihatan sangat mengetahui kesetiaan dan ketauhatan Ayub. Keyakinan seperti itulah membuat Ayub tidak mau melanggar Firman yang diucapkan bibir-Nya. Ayub menyadari bahwa penderitaan yang dialami adalah ujian. Namun ia juga yakin bahwa ujian ini pasti akan berakhir, sebab Tuhan pasti memulihkan keadaannya (10).
Masih banyak bentuk-bentuk ujian hidup yang biasa terjadi pada kita. Percayalah bahwa Tuhan mengetahuinya. Karena itu tetaplah setia dan taat melaksanakan perintahNya. Sebab ketaatanmu itulah yang akan menolongmu untuk dapat mengatasinya.

SHP

SBP, Sabtu, 16 Nopember 2013

Carilah Tuhan,
II Tawarikh 26:3-5.

Memang benar apa yang tersurat dalam Maz 119:9 "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan Firman-Mu". Karena firman Tuhan adalah pedoman hidup yang benar. Hal yang sama diungkapkan dalam bacaan kita hari ini, II Taw 26:3-5, mengenai raja Uzia. Ia menjadi raja atas Israel (=Yehuda) ketika berumur 16 tahun dan belum mengerti apa-apa. Tetapi ia taat kepada Firman Tuhan yang diajarkan oleh Zakharia (ayat-5).

Tidak jelas, apakah Zakharia itu nabi atau imam atau ahli Torat. Tetapi yang jelas ia mengajarkan kebenaran firman Allah menjadi pedoman hidup kebenaran bagi seorang raja muda. Dan sebagai konsekwensinya adalah dia selalu berhasil dalam hal apapun.

GP-ers, dari kecil kita sudah terdidik dalam kebenaran firman Tuhan untuk menjadikannya pedoman hidup. Maka kini saatnya dengan kritis kita memberlakukan firman itu dalam menghadapi tantangan.
Kita ikuti langkah iman raja Uzia yang berjuang sesuai dengan firman Tuhan dan selalu berhasil.
Dalam Mat 4:1-11, Yesus menggunakan firman Allah untuk melawan pembelokan oleh iblis dan iblis kalah lalu pergi.
Oleh karena itu Yesus katakan "Firman Allah adalah kebenaran" (Yoh 17:17). Kebenaran Allah tidak bisa dibelokkan. Itu merupakan senjata ampuh melawan tipu daya iblis. Teristimewa untuk jiwa pemimpin yang penuh godaan.

JPT

SBP, Jumat 15 Nopember 2013

Dosa Mengintai,
I Timotius 5:1-2.

Di setiap perbuatan baik, selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh iblis untuk merusak segala perbuatan atau pekerjaan yang baik.
Iblis sebagai biang dosa, sanggup menjerat siapa saja yang tidak waspada dalam berbuat kebaikan.
Dalam bacaan kita hari ini, I Tim 5:1-2, rasul Paulus mengingatkan Timotius, anak binaannya yang ditugaskan memimpin jemaat di kota Efesus di Asia Kecil. Agar ia waspada dalam pelayanan, khususnya dalam menggembalakan umat untuk menghindari kejahatan atau dosa.
Cara yang paling aman adalah dengan: sopan terhadap orang yang lebih tua, dan dengan: etika pergaulan. Maksudnya, supaya tidak ada orang yang berfikir jahat dan memfitnahnya dalam melaksanakan pelayanan kepada umat.

GP-ers yang terkasih, pernahkah GP-ers merasa dipojokkan karena melakukan pelayanan yang maksudnya baik tetapi dituduhkan hal yang tidak baik? Memang hal itu  dimaksudkan untuk menghancurkan citra an menghambat pelayanan. Tetapi janganlah putus asa. Teruslah bekerja dan waspadalah karena dosa terus mengintai kesempatan. Hendaklah GP-ers melakukan pendekatan pelayanan dengan lebih sopan sesuai etika pergaulan, seperti pesan rasul Paulus kepada Timotius.
Jika Timotius berhasil, demikian juga kita akan berhasil dengan kesopanan dan etika. Jangan bertahan terhadap kritik, tetapi terimalah itu dengan rendah hati untuk membangun karya yang lebih sempurna dan efektif.

JPT

SBP, Kamis 14 Nopember 2013

Perbuatan dan Balasan,
Roma 2:9.

Peribahasa Indonesia mengatakan: "Ada ubi ada talas, ada budi ada balas". Maksunya adalah mengungkapkan bahwa ada perbuatan tentu akan ada balasannya, entah itu baik akan menerima anugerah atau jahat untuk menerima hukuman.
Dalam bacaan hari ini, Roma 2:9, Rasul Paulus mengungkapkan hal yang sama dalam iman kristen. Bahwa penderitaan akan menimpa setiap orang yang berbuat jahat. Dan biasanya, balasan berupa hukuman lebih berat dari pada kejahatan seseorang. Mengapa?
Karena perbuatan merupakan tindakan yang secara sengaja atau dengan sadar melawan kebenaran, yang seharusnya dilakukan. Ini berlaku bagis segala bangsa tanpa pandang bulu, apakah orang Yahudi (=Israel) sebagai umat Tuhan maupun bangsa lain. Tuhan tidak akan membebaskan orang berdosa dari hukuman-Nya.

GP-ers yang terkasih, ingatlah, pembalasan selalu lebih dahsyat dari pada perbuatan. Sebab itu, janganlah menyepelekan pesan tersebut.
Pikir dulu sebelum bertindak, sesal kemudian tidak akan mengubah nasib kita dari hukuman. Setiap penyesalan atas dosa akan diampuni, tetapi dosa yang disengaja atau secara sadar melawan Roh Kudus tentang kebenaran, tidak akan memperoleh anugerah pengampunan (Mat 12:31), melainkan dosanya akan mendatangkan hukuman kekal (I Yoh 5:16).
Peringatan yang sudah jelas dan hukumannya pasti tidak akan diubah sampai semuanya genap dilaksanakan Allah.

JPT

SBP, Rabu 13 Nopember 2013

Ada Rencana Allah,
Yohanes 9:1-7.

Banyak orang mengeluh hidup dalam penderitaan. Apa lagi bila ia merasa tidak bersalah dan harus menderita. Kadang-kadang mereka menggerutu bahwa Tuhan tidak adil.

Belajarlah dari orang buta, dalam Yoh 9 ini, ia tidak mengeluh apa yang menjadi nasibnya. Justru persoalannya diungkap oleh Tuhan Yesus sendiri. Kebuataannya bukan disebabkan dosa, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Ayat-3).
Orang itu buta ada dalam rencana Allah. Kebutaannya akan menjadi jalan Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya melalui mujizat pemulihan ilahi yang akan terjadi pada orang buta itu.
Ketika Yesus mencelikkan matanya, ia memberi kesaksian yang menggemparkan para pemuka Yahudi yang penuh kefasikan dan kemunafikan.

GP-ers, orang buta dicelikkan menjadi kiasan rohani bahwa jika mata hati kita terbuka kepada Tuhan Yesus, maka kita dapat melihat banyak perkara kemuliaan Tuhan dalam hidup kita.
Kita akan bersaksi tentang kebesaran Tuhan itu, sehingga akan ada orang yang tergugah untuk menjadi percaya.

Karena itu, hendak setiap GP-ers memandang dirinya ada dalam rencana Allah. Berdoalah dan minta Tuhan menyatakan maksud-Nya pada hidup saudara, sehingga saudarapun siap berkarya atau bersaksi bagi kebesaran nama-Nya. Hidup yang sederhana bisa merupakan kebesaran dalam rencana Tuhan.

JPT

SBP, Selasa 12 Nopember 2013

Terinduksi dan Sama,
I Tesalonika 4:7-8.

Sebuah logam bila didekatkan pada sebuah magnit, maka logam itu akan terinduksi oleh medan magnit dan akan mempunyai daya magnit yang sama dengan magnit itu sendiri. Demikian pula dengan hidup kita, ketika mendekat kepada Tuhan maka kitapun harus kudus seperti Tuhan.
Rasul Paulus mengungkapkan hal itu dalam I Tes 4:7-8, bahwa Tuhan memanggil kita untuk menjadi kudus seperti Dia. "Kudus" berasal dari bahasa Ibrani: "Qados", artinya "Dikhususkan hanya untuk hidup bagi Tuhan". Seperti yang terjadi pada orang lewi (Im 8).

Demikian pula dengan kita ketika menjadi percaya. Yesus menguduskan kita di hadapan Allah Bapa, agar kita hanya hidup bagi Tuhan. Artinya segala macam kejahatan duniawi harus kita jauhkan. Hidup kita menjadi bersih, terang, dan kemuliaan bagi Tuhan yang kita layani.

Pemuda gereja dipanggil dalam persekutuan dengan Tuhan untuk menjadi terang dan garam, yang mempunyai makna kudus.
Dengan kekudusan GP-ers hadir di tengah masyarakat untuk menginduksi dan merubah orang berdosa menjadi kudus seperti kita.
Terkadang, ada yang karatan tak bisa diinduksi. Doakanlah mereka supaya Roh Kudus bekerja dalam kehidupan mereka dan mengubah hati mereka menjadi percaya serta masuk persekutuan kudus.
Kita bersama selamanya hanya hidup bagi hormat dan kemuliaan Tuhan.

(JPT)

SBP, Senin 11 Nopember 2013

Menjadi Keluarga Yesus,
Matius 12:46-50.

Dalam suatu keluarga: ayah, ibu dan anak-anak, pasti kompak melakukan suatu keputusan keluarga yang disampaikan oleh sang ayah. Karena itu, seorang anak dari keluarga itu berani mengatakan: "siapa yang melakukan kehendak bapaku, ialah ibuku dan saudara-saudaraku".
Andai kata mereka satu sama lain tidak kompak, pasti tidak mungkin si anak itu akan berkata demikian.

Dalam Matius 12:46-50, ketika ada orang menyampaikan bahwa ibu-Nya dan saudara-Nya mencari Dia, Yesus mengatakan: "Barang siapa melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan dan dialah ibu-Ku".
Yesus bukan tidak mengakui ibu dan saudara-Nya secara lahiriah. Tetapi peristiwa itu digunakan-Nya untuk menyatakan kebenaran rohani. Yesus sebagai Juru selamat, selalu ada bersama dengan mereka yang beriman dan melakukan kehendak Allah Bapa di sorga.
Secara lahiriah, Yesus adalah anak Maria. Tetapi secara rohaniah, Yesus adalah Anak Allah dan Juru selamat manusia yang seharusnya dicari oleh semua orang demi keselamatan.

GP-ers yang terkasih, Yesus terus menerus merendahkan diri-Nya demi kita. Ia telah mengorbankan diri-Nya mati disalin untuk menyelamatkan kita, juga selalu hadir bagaikan saudara untuk menolong kita saat kesusahan. Jika Yesus saja mau menjadi saudara bagi kita, maukah GP-ers juga menjadi saudara rohani bagi sesama? Kasih adalah menjadi saudara bagi sesama dan penolong ketika ia menghadapi kesusahan.

JPT

Selasa, 19 November 2013

SBP, Minggu 10 Nopember 2013

Berjiwa Pahlawan,
Mazmur 45:4-5.

Hari ini, tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan Nasional Indonesia. Siapakah Pahlawan itu? Pahlawan adalah suatu gelar kehormatan yang diberikan kepada seseorang yang telah berjuang dan mempertaruhkan nyawanya demi memberla kepentingan masa depan bangsa.
Bacaan kita hari ini, Maz 45:4-5, mengungkapkan mengenai pengharapan Israel terhadap rajanya. Sebagai pemimpin umat Tuhan, raja harus takut akan Tuhan, dan mengayomi rakyatnya. Terutama membela rakyatnya dari segala kelaliman yang hendak merampas hak kebenarannya, kemanusiaanya dan keadilannya, agar umat hidup dalam damai sejahtera.
Tanpa damai sejahtera itu Israel tidak mungkin mengabdi kepada Tuhan dan negaranya dengan baik.
Israel berharap raja akan seperti pendahulunya, mewariskan kepemimpinan yang berjiwa pahlawan. Mengayomi dan membela umat Tuhan yang dipercayakan dalam kepemimpinannya.

Banga Indonesiapun berharap hal yang sama, tampilnya pemimpin yang beriman dan mengayomi rakyat dari semua kelaliman yang muncul akhir-akhir ini hendak merampas hak kebenaran, kemanusiaan dan keadilan.
GP-ers yang terkasih, kita bukan saja diharapkan berdoa untuk keadaan ini, tetapi juga semoga GP-ers dapat tampil dan berjuang sebagai pengayom dan pembela kaum yang lemah.

Janganlah kita mengejar predikat atau gelar Pahlawan, tetapi berjuanglah dengan tulus, jadilah pahlawan tanpa tanda jasa. Hasil perjuangannya dirasakan manfaatnya oleh mereka yang diayomi dan dibela.
JPT

SBP, Jumat 8 Nopember 2013

Bersorak di Dalam Tuhan,
Habakuk 3:17-19.

Pertanyaan klasik banyak orang, mengapa orang jahat hidupnya makin makmur? Tidakkah Tuhan menghukum mereka? Mengapa yang jujur justru mengalami kesukan? Dapatkah orang percaya bersyukur di hadapan Tuhan? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Mengapa? Sebab jawabannya bukan berdasarkan pikiran manusia, melainkan pada kehendak Allah. Kebanyakan orang tidak sabar untuk mengerti kehendak Allah. Mereka kecewa, lalu meninggalkan Tuhan dan bertindak sendiri.
Habakuk tiba pada kesimpulan bahwa sekalipun semuanya tampak tidak menyenangkan, selalu ada alasan untuk bersyukur kepada Tuhan. Kita dapat bersyukur sebab Tuhan adalah juruselamat dan sumber kekuatan. Keyakinan ini dibangun dengan pemahaman bahwa kasih Tuhan tidak pernah berkurang sama sekali. Sesuai dengan kehendak dan waktu-Nya, Tuhan berdaulat menyatakan keadilan-Nya. Ketika umat hidup dalam kejahatan dan enggan bertobat, Tuhan mendidik mereka lewat penderitaan berat agar mereka hidup bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Dengan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, maka kita dapat bersyukur. Kita dapat bersorak memuji Tuhan. Kita percaya bahwa kita tidak lemah, tetapi menjadi kuat karena pengasihan Tuhan.
Saudara bisa mengalami hari-hari yang tidak menyenangkan. Ditinggal kekasih, dihina teman, dipecat tanpa pesangon, dihambat dalam karir, diperlakukan  tak manusiawi dan seterusnya. Mungkinkah ada pertolongan dari Tuhan? Apa gunanya lagi menjalani hidup demikian? Solusinya, bukan pada alkohol, narkoba, atau hidup dalam keliaran. Percayalah bahwa saudara diijinkan mengalami semuanya bukan menjauh dari Tuhan, tetapi untuk melatih saudara setia mengandalkan Tuhan dalam mengatasinya. Bersyukurlah di dalam Tuhan, maka saudara tertolong dalam situasi demikian dan mengalami kekuatan menghadapi semuanya. Tuhan Yesus tetap mengasihi dan memelihara hidup saudara lebih daripada burung diudara.
SGRS

SBP, Kamis 7 Nopember 2013

Mengasihi Musuh,
Amsal 24:17-18.

Amsal berbicara bahwa kasih kepada sesama tidak boleh bersyarat. Jika kita hanya mengasihi mereka yang baik dan sepaham dengan kita, maka dengan mudah kita mencela setiap lawan yang berseberangan dengan kita. Jika saudara termasuk orang yang kurang dalam segalanya, bukan berarti kehidupan beriman saudara sebangun dengan kehidupan sosial dan intelektual yang minim itu. Saudara bisa memiliki nilai lebih yang positif dan mendatangkan berkat Tuhan dengan tetap mengasihi siapapun orang di sekitar hidup saudara. Tuhan Yesus mengajarkan oerkara yang sama: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44). Tindakan demikian ini bukan perbuatan biasa. Ada karya Tuhan ketika seseorang mengasihi musuh dan berdoa bagi orang itu. Tuhan memperhatikan sikap iman seperti itu. Bergembira ketika musuh jatuh, bukan sikap orang yang beriman yang berkenan bagi Tuhan. Kegembiraan semacam itu tidak mendatangkan keuntungan apapun kecuali kepuasan pribadi yang malah hanya mendatangkan murka Tuhan. Jika saudara menertawakan musuhmu yang jatuh, maka secara bertahap saudara sudah hidup dalam dosa dan dikuasai dosa. Kejahatan saudara itu bukan sedeharna karena saudara tidak lagi menjadikan hati, pikiran dan jiwa saudara dikendalikan Roh Tuhan. Ingat bagaimana orang seperti Kain bisa jadi jahat sebab ada kebencian dan keamarahan dalam hatinya.
Bagaimana kondisi saudara hari ini? Siapakah musuh saudara dan sudah berapa lama saudara bermusuhan? Sudahkah saudara mengampuni dan mengasihinya? Jangan katakan tidak bisa! Saudara yang perlu undang Roh Kudus berkarya memperbaharui pikiran dan sikap hati saudara. Mari kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Bukan dengan kebaikan sendiri tetapi dengan kebaikan yang bersumber dari kasih Tuhan Yesus.
SGRS

SBP, Rabu 6 Nopember 2013

Jaga Diri Sejak Muda,
Maleakhi 2:13-16.

Kitab ini berbicara dengan keras soal perceraian. Akarnya bukan soal perbedaan lahiriah dari pasangan, tetapi lebih pada kesungguhan menjadikan Firman Allah sebagai pedoman utama dalam bertindak dan menjalani hidup ini. Relasi umat dengan Tuhan ibarat relasi perkawinan. Perkawinan itu kudus dan bernilai kekal. Rancangan Allah dalam perkawinan Adam dan Hawa itu indah agar mereka beranak cucu dan menerima semua pemberian Tuhan. Keturunan mereka menjadi keturunan ilahi; menjadi keluarga yang mengucap syukur dan memuliakan Tuhan.
Tujuan perkawinan bisa salah arah jika yang dikejar adalah kenikmatan daging. Pemuda-pemudi Kristen yang meninggalkan Tuhan Yesus karena alasan pasangannya lebih cantik, lebih ganteng, gajinya besar dan keturunan orang kaya, pada akhirnya menuai kekecewaan dan duka mendalam. Mereka menjalani hidup tidak dengan dasar yang kokoh. Bayangkan hanya dalam tempo hitungan bulan, meninggalkan Yesus dan dengan kepercayaan baru hendak membentuk rumah tangga yang bahagia. Mungkinkah? Mustahil! Mengapa demikian? Sebab dalam perkawinan yang bersatu itu tidak hanyadaging, tetapi roh ikut bersatu pula. Jika dasar perkawinan itu rapuh, maka ujungnya hanya pertengkaran dan perceraian.
Kita diajarkan firman Tuhan untuk menjaga diri dari perbuatan yang tidak menyenangkan hati Tuhan. Jika saudara lebih mengasihi Tuhan Yesus, maka Dia menjadi segalanya dalam hidup saudara dan tidak ada oknum apapun yang dapat memisahkan saudara dari kasih Yesus, termasuk pujaan hati yang tidak seiman. Bagaimana saudara dapat membangun kehidupan perkawinan yang didasarkan dengan kesetiaan, jika saudara sendiri tidak setia kepada Tuhan Yesus? Mintalah Roh Tuhan datang memberi hikmat sorgawi agar saudara dapat mengambil keputusan penting lebih memilih Tuhan Yesus dan bukan yang lain.
SGRS

SBP, Selasa 5 Nopember 2013

Berkat Tuhan Nyata,
Hagai 2:19-20.

Umat diuji Tuhan untuk mengalami kelimpahan berkat dalam rentang waktu yang mereka jalani. Kenyataan pahit dialami umat saat hasil panen diserang hama, penyakit dan hujan batu. Pada kebudayaan tertentu, satu kampung bisa melakukan tradisi bersih kamoung atau ngalap berkah dengan mempersembahkan sesajian kepada dewa setempat. Situai buruk demikian harus segera diakhiri dengan ritual tertentu yang diyakini sebgaai solusi terbaik. Tanpa berbuat sesuatu, kehidupan terancam dan sama sekali tidak ada masa depan. Allah memberi diri-Nya diuji dalam memelihara umat yang sekarat. Keadaan mereka sangat memprihatinkan namun yang dibutuhkan adalah penyerahan diri. Mereka tidak perlu berkomentar bahwa kegagalan panen karena faktor alam atau cuaca ekstrem. Bukan karena alam, tetapi karena Allah. Allah Pencipta langit dan bumi tetap berkarya memperbaharui ciptaan-Nya secara berkesinambungan. Allah dapat mengurangi rejeki jika mereka memilih keinginan daging. Kerja keras mereka tidak cukup memelihara kebutuhan konkret rumah tangga. Lambat laun mereka diperhadapkan dengan kelaparan pangan dan kematian. Allah tidak menghendaki umat-Nya celaka setelah bertobat. Allah menjamin dan memberkati kerja mereka dengan kuasa-Nya.

Beribadah bukan sesuatu yang muda dilakukan. Jika mudah, pasti teman-teman GP dengan gembira pergi beribadah. Minimnya kehadiran pemuda dikomentari negatif: liturginya monoton, nyanyiannya tidak up to date, pengkhotbahnya kurang semangat dan seterusnya. Justru yang perlu kita renungkan bukan perangkat keras dalam ibadah itu, tetapi pribadi pemuda yang datang menghadap Tuhan. Beribadah bukan mencari kepuasan pribadi, tetapi menerima berkat Allah. Jelasnya, datang beribadah untuk menerima berkat Allah dan bersyukur atas setiap janji-Nya yang memberkati hidup kita. Pergilah beribadah dengan keyakinan bahwa hidup dan kerja saudara diberkati Allah.
SGRS

Kamis, 14 November 2013

SBP, Senin 4 Nopember 2013

Kasih Tuhan Itu Sempurna,
Hosea 11: 10-11.

Relasi manusia dengan Tuhan bisa berada dalam titik kritis jika manusia hidup dengan semaunya dan tidak peduli Firman Allah. Umat dapat mengalami petaka mengerikan yang sukar diterima akal sehat. Kehancuran bangsa Isael terjadi karena penolakan mereka terhadap ibadah kudus yang berkenan bagi Tuhan. Mereka telah menyimpang dalam menyembah berhala dan berlaku korup. Seolah-olah semuanya normal dan baik-baik saja. Perilaku umat sangat menyakitkan dan hanya mendatangkan murka Allah.

Pembuangan di Babel menjadi catatan historis buruk dan memalukan dalam perjalanan kolektid sebagai bangsa pilihan Allah. Mereka gagal memahami kehendak Allah dengan meragukan kehendak-Nya dan membanggakan diri. Hukuman Tuhan itu dahsyat dan tak dapat dibatalkan. Di sini proses pembelajaran menjadi penting. Allah tidak berkarya dalam satu titik tertentu dan melanggengkan penghukuman bagi umat selamanya. Allah berkarya pula dalam memberikan kesempatan baru sebagai anugerah dalam menikmati kasih-Nya. Allah memanggil umat-Nya sehingga mereka dapat kembali ke Yerusalem. Relasi Allah dengan umat diperbaharui. Bukan karena keinginan manusia, tetapi karena kehendak Allah. Roh ketaatan dicurahkan sehingga umat dapat bersyukur atas janji Allah yang kudus itu.

Hidup saudara adalah pemberian Tuhan. Dalam Yesus Kristus, hidup saudara sudah ditebus dan menjadi anak-anak Allah. Sebutan ini bukan sebutan kosong. Bukan sekedar kata-kata hiburan. Pesannya kuat: jadikan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan jangan andalkan kepintaranmu di luar kehendak Allah.
Saudara dengan hikmat Tuhan dapat mencari pekerjaan yang benar dan memuliakan Tuhan. Saudara dapat memutuskan pasangan hidup yang tepat dalam membangun keluarga yang mengasihi Tuhan Yesus. Saudara bertobat dari kehidupan seksual bebas yang memalukan dan hidup baru dalam pengampunan dan kasih Tuhan Yesus selamanya.
SGRS

SBP, Minggu 3 Nopember 2013

Kalahkan Kebencian,
Obaja 1:12

Kitab tersingkat dalam Perjanjian Lama adalah kitab Obaja yang menubuatkan kehancuran bangsa Edom sebab kelakuan jahat mereka kepada bangsa Israel.
Bangsa Edom itu adalah keturunan Esau yang bersaudara dengan Yakub dan ternyata tidak memiliki belas kasihan kepada bangsa Israel. Mereka ini memiliki sikap tinggi hati dan menganggap dirinya tidak mungkin jatuh (Ay.3). Sikap demikian itu tidak berkenan bagi Tuhan. Tuhan pasti menurunkan mereka sekalipun mereka terbang tinggi bagai rajawali dan membuat sarangnya di antara bintang-bintang (4).

Edom sama sekali tidak berbuat apa-apa dan malah mendukung kekejaman raja Nebudkanezar terhadap bangsa Israel. Mereka hanya memandang dari kejauhan saat kekayaan bangsa Israel dijarah bangsa Babel. Mereka justru memperlihatkan kesombongan, kegembiraan dan kata-kata bual untuk menunjukkan kebencian mereka kepada bangsa Israel (ay.12). Perbuatan jahat mereka diperhatikan Tuhan dengan cermat. Apa yang mereka lakukan kepada bangsa Israel menjadi dosa yang tidak terampuni sampai hukuman Tuhan datang. Bangsa Israel tetap menjadi bangsa yang dikasihi Tuhan walaupun mereka dihukum atas dosanya.

Kebencian itu jika dipelihara terus jadi dendam membara yang merusak diri sendiri dan melukai orang lain. Orang bisa hidup dalam kebencian sampai mati. Kebencian terpelihara sebab tidak ada kuasa pengampuanan. Mereka yang hidup dalam kebencian tidak peduli dengan kesusahan saudaranya. Di sini kita diingatkan untuk segera berdamai. Saling mengampuni dan mendoakan adalah perintah Tuhan. Tanggalkan kesombongan saudara. Tidak perlu menunggu siapa yang memulai. Taati perintah Tuhan. Mohon pimpinan Roh Kudus maka saudara dapat mengasihi dengan tulus. Tulus. Saar berdamai tak ada udang di balik batu bagi yang mengasihi Tuhan!
SGRS

SBP, Sabtu 2 Nopember 2013

Bernyanyi Untuk Tuhan,
1 Tawarikh 25:5-7

Ibadah yang diselenggarakan di Rumah TUHAN melibatkan orang-orang muda yang ditugaskan untuk memainkan alat musik dan menyanyikan pujian syukur kepada Allah. Anak-anak Asaf, Heman dan Yedutun mendapat bimbingan dari ayah mereka dalam bermusik dan bernyanyi bagi Tuhan. Dalam ketekunan dan pengabdian pelayanan bagi Allah, mereka menjadi orang yang ahli dalam musik rohani. Jumlah mereka yang 288 orang itu adalah bagian dari jumlah yang besar yakni 4000 orang yang bertugas sebagai pemuji Tuhan (1 Tawarik 23:5).

Pendidikan musik menjadi bagian integral dalam pelayanan ibadah. Daud mengembangkan ibadah yang melibatkan seluruh umat untuk memuji Tuhan. Ibadah bukan hanya soal pengampunan dosa tetapi juga soal pujian dan syukur atas segala karya Tuhan yang ajaib. Sungguh mengagumkan bahwa mereka yang memuji di rumah Tuhan memiliki keluarga-keluarga yang mengasihi Tuhan. Dengan teratur berlatih, mereka menjadi orang yang ahli dalam bidangnya. Jelas musik ibadah menjadi bagian penting dalam peribadahan umat kepada Tuhan.

Bayangkan saat saudara berada di tengah ibadah dengan sekumpulan anak muda yang terlatih dalam musik gereja. Saya percaya bahwa saudara sangat diberkati. Sayangnya suasa ibadah demikin masih terbatas. Kebanyakan ibadah diselenggarakan dengan iringan musik yang memprihatinkan. Bernyanyi dalam tempo lambat, kurang bersemangat dan kehilangan sukacita. Lalu bagaimana? Mulai dari diri sendiri dan ajak rekan pemuda lainnya sebagai pemusik gereja. Minta seseorang untuk melatih tim musik saudara serta berdoa kepada Allah agar saudara diberi hikmat dalam memuji Tuhan.
SGRS

SBP, Jumat, 1 Nopember 2013

Tuhan Itu Baik,
Nahum 1 : 7.

Kitab Nahum salah satu dari dua belas kitab nabi-nabi kecil yang menubuatkan penghakiman bangsa Asyur akibat kejahatan mereka yang luar biasa sehingga kota mereka, Niniwe akan dihancurkan. Satu abad sebelumnya, Allah melalui hamba-Nya Yunus, memperingatkan penduduk Niniwe untuk bertobat agar tidak dihukum. Sayangnya pertobatan mereka tidak bertahan lama. Kejahatan telah membuat bangsa ini menjadi sombong atas bangsa-bangsa lain. Sikap demikian dibenci Allah.
Kesabaran dan keadilan Allah tidak harus dipertentangkan. Dalam kesabaran-Nya, Allah menunjukkan kasih-Nya sehingga diberikan kesempatan bagi manusia bertobat dan memperbaharui hidup dalam ketaatan pada Firman Allah. Dalam kesabaran-Nya, Allah menyatakan penghakiman-Nya yang adil agar manusia tidak mengandalkan diri sendiri. Murka Allah mengakibatkan alam semesta dalam anomali di mana laut dan sungai kering (ay.4), tanaman layu (ay.4), gunung gemetar, bumi sunyi sepi (Ay.5) serta gunung-gunung batu roboh (Ay.6). Tak mungkin manusia bertahan pada penghakiman Tuhan. Hanya orang beriman yang percaya bahwa Tuhan satu-satunya tempat pengungsian pada waktu kesusahan. Perlindungan Tuhan berlaku sebab Yang Maha Kuasa mengenal orang-orang yang dikasihi-Nya yang membuat hiduo mereka aman dan selamat.
Jika hari ini saudara menghadapi masa-masa yang sukar, tidak pada tempatnya saudara menyalahkan orang lain, apalagi diri sendiri. Jauhkan dari pikiran saudara bahwa Allah itu tidak adil. Justru yang saudara perlu katakan bahwa Tuhan Yesus itu baik. Tuhan Yesus itu baik sebab Tuhan adalah Penasihat ajaib dalam persoalan cinta; Gembala baik yang menyediakan kebutuhan hidup; Tabib di atas segala tabib dideta sakit penyakit dan Sahabat sejati yang selalu hadir dalam suka dan duka.
SGRS

Minggu, 25 Agustus 2013

SBP, Minggu, 25 Agustus 2013

Hidup Dalam Kebenaran.
2 Yohanes 1 : 4

Kebenaran adalah sesuatu yang re-latif. Apa yang dipahami sebagai ke-benaran oleh orang muda tidak sama dengan kebenaran yang dipahami oleh orang tua. Orang muda memahami ke-bebasan hidup sebagai suatu kebenaran. Sementara orang-orang tua memahami keteraturan hidup sebagai kebenaran. Perbedaan pemahaman tentang kebenaran bisa menimbulkan konflik dan perpecahan antara orang muda dan orang tua. Oleh karena itu, perlu dicari dasar pemahaman bersama tentang kebenaran. Paham kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang sesuai perintah Tuhan seperti nyata dalam Alkitab.

Perintah Tuhan adalah kebenaran yang absolut/mutlak. Setiap orang yang melakukannya akan hidup dalam kebenaran. Sebaliknya, siapa yang tidak melakukannya akan hidup dalam ketidakbenaran atau di luar kebenaran. Meskipun begitu tidak semua orang mau hidup dalam kebenaran sesuai perintah Tuhan. Penulis surat mengatakan bahwa hanya separuh dari warga jemaat yang hidup dalam kebenaran; separuhnya tidak. Penulis bersukacita atas hal itu karena ia yakin bahwa separuh warga jemaat yang hidup dalam kebenaran tersebut mampu mempengaruhi banyak orang supaya mereka pun kembali hidup dalam kebenaran.

Banyak godaan yang mempengaruhi sehingga GP-ers tidak hidup dalam kebenaran. Karena itu, jika ada separuh GP-ers di jemaat tetap setia hidup dalam kebenaran, kita mesti bersukacita. Diharapkan bahwa yang separuh itu mampu mempengaruhi dunia sekitar agar makin banyak, bahkan semua orang hidup dalam kebenaran sesuai perintah Allah Bapa.

Sabtu, 24 Agustus 2013

SBP, Sabtu, 24 Agustus 2013

PATRIOT.IS.ME
Ester 10:3

Indonesia Unite adalah gerakan semangat anak muda untuk menciptakan perubahan yang lebih baik bagi Indonesia. Semangat ini diawali melalui tulisan #hastag tweeter tahun 2009. Ada satu ungkapan yang menarik dari Indonesia Unite yang dituangkan sebagai Amanat: "kami adalah generasi baru, yang menolak untuk hidup dan tumbuh dengan rasa takut. Kami memilih menjadi pemberani." Gerakan ini dapat dikatakan sebagai salah satu wujud dari sikap seorang pencinta tanah air (Patriot).

Mordekhai adalah seorang pencinta dan pembela tanah airnya. Dia adalah "Patriot" pada masanya. Hal ini nyata dalam perjalanan hidupnya, semua orang Yahudi termasuk sanak saudaranya sangat menghormati dan menyukainya (Ay.2a). Ia telah mengikhtiarkan yang baik bagi bangsanya dan berbicara untuk keselamatan bagi semua orang Yahudi dari keinginan jahat Haman (Ay.3b). Semua dilakukannya bukan untuk mencari kekuasaan atau penghargaan pribadi. Ia melakukannya hanya karena kecintaan pada bangsanya.

Saudaraku, ketika banyak orang mulai skeptis dengan situasi bangsa saat ini, sebagai generasi muda Kristen yang dihadirkan Tuhan di negeri ini, mari kita tetap memiliki spirit seperti Mordekhai. Ketika Tuhan menghadirkan kita di negeri ini, itu berarti ada tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita. Jangan patah asa melihat keadaan bangsa, tapi tetaplah mencintai bangsa ini dengan melakukan yang terbaik bagi kemajuan bangsa ini. Jadilah Mordekhai masa kini. Dalam bidang apa pun, tetaplah berkarya untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik karena PATRIOT.IS.ME.

SBP, Jumat, 23 Agustus 2013

HATI,
ESTER 7:1-6.

Kepercayaan Tibet Kuno meyakini bahwa hati yang murni adalah ibarat seorang raja yang memerintah dan otak adalah perdana menteri yang mengelola apa yang dikatakan raja. Kalau hati diliputi oleh kebaikan dan cinta, maka otak (kecerdasan) akan mengelola dan menuangkannya dalam tindakan nyata dengan hal-hal baik dan penuh cinta juga. Sikap dan perbuatan kita adalah pengungkapan dari apa yang ada di dalam hati kita.

Tindakan Ester yang memberanikan diri berbicara dengan raja Ahasyweros adalah wujud nyata dari hatinya yang dipenuhi oleh kebaikan dan cinta pada bangsanya. Ketika Haman berencana membinasakan semua orang Yahudi, Ester menggunakan otaknya untuk menemukan waktu yang tepat berbicara kepada raja. Ia berharap niat hatinya yang baik pada bangsanya, bisa didengar oleh raja. Dengan mengundang raja dan Haman pada perjamuan makan, Ester menggunakan momen tersebut untuk mengajukan pembelaan bagi bangsanya kepada raja. Ia mengatakan bahwa Haman adalah orang yang berniat jahat hendak membinasakan bangsanya. Setelah mendengar penjelasan dari Ester, raja Ahasyweros mengabulkan keinginan hati Ester dan memberi hukuman bagi Haman yang jahat (ay.7 dst).

Saudaraku, jika hati kita dipenuhi oleh kebaikan, maka otak kita pun akan berusaha mewujudkan niat hati itu sampai kebaikan dapat dinikmati oleh banyak orang. Sebaliknya, jika hati kita dipenuhi kejahatan maka otak kita pun akan berusaha mewujudkan kejahatan itu. Peliharalah hati untuk selalu diisi dengan kebaikan dan cinta, agar sikap dan perbuatan kita dapat memancarkan kebaikan dan cinta kasih juga.

Rabu, 21 Agustus 2013

SBP, Kamis, 22 Agustus 2013

Alat Tuhan.
Ester 4:12-17.

Sebuah Patung Kristus di Munster, Jerman rusak akibat perang dunia II. Ketika para serdadu Amerika memperbaikinya, mereka hanya dapat memperbaiki beberapa bagian yang rusak tetapi tidak pada kedua tangan patung itu. Kedua tangannya telah hancur dan sulit diganti. Tapi justru ketiadaan tangan patung itu telah memberi pesan tersendiri bagi banyak orang seperti yang dituliskan pada kalimat yang dipasang dibawah patung itu: Aku tidak punya tangan selain kamu. Kamulah tanganku.

Tuhanlah sumber keselamatan dan Ia dapat menggunakan siapa pun sebagai alatNya. Mordekhai sangat percaya akan hal tersebut. Oleh karena itu, ketika Ester hampir menolak menjadi alat Tuhan menyelamatkan orang  Yahudi dari ancaman pembinasaan, Mordekhai memperingatkan Ester bahwa Tuhan sanggup menggunakan siapapun untuk memberikan pertolongan bagi orang Yahudi dan bisa jadi justru kebinasaan akan menghampiri Ester. Mendengar peringatan itu, Ester sadar sehingga ia mau menjadi alat Tuhan. Hanya satu hal yang Ester minta dari orang-orang Yahudi, yaitu berpuasa untuknya.

Saudara, terkadang kita seperti Ester yang hampir menolak untuk menjadi alat Tuhan. Ada banyak alasan yang kita buat. Dari ketidakmampuan, kesibukan sampai pikiran yang mengatakan bahwa menjadi alat Tuhan akan membawa kita pada masalah dan persoalan baru. Tetapi, kisah Ester ini mengingatkan kita, bahwa ketika menolak menjadi alat Tuhan, Tuhan bisa menggunakan orang lain. Itu berarti kita kehilangan kesempatan untuk membuat hidup kita berguna. Berguna untuk sesama dan kemuliaan nama Tuhan. Jadi, jangan lewatkan kesempatan itu. Jadilah alatNya.

SBP, Rabu, 21 Agustus 2013

Ambisi.
Ester 3:1-6.

Tidaklah salah ketika seseorang memiliki ambisi. Ambisi adalah bahan bakar untuk mendorong seseorang mencapai keberhasilan. Kamus besar bahasa Indonesia mengatakan bahwa ambisi adalah keinginan (hasrat nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (Seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Namun jika ambisi itu tidak ditempatkan pada tempat yang semestinya maka ambisi itu akan menjadi lahan kejahatan dan malapetaka, baik bagi dirinya maupun orang lain. Orang bisa menghalalkan segala cara untuk menggapai ambisinya tersebut.

Haman adalah pribadi yang ambisius. Ia ingin semua orang berlutut dan sujud kepadanya sesuai perintah raja. Ketika Mordekhai tidak berlutut dan sujud kepadanya. Haman menjadi begitu sangat marah kepada Mordekhai. Kekuasaan dan jabatan yang telah diberikan raja, telah membuatnya tinggi hati dan tidak menghargai orang lain. Ia tidak bertanya terlebih dahulu mengapa Mordekhai tidak sujud kepadanya. Ia berniat jahat hendak membunuh Mordekhai. Tapi karena pikirnya terlalu hina kalau membunuh hanya Mordekhai maka ia berencana memusnahkan seluruh oang Yahudi yang ada di wilayah kekuasaan Persia. Bagi Haman, tidak berlutut dan sujud kepadanya adalah sebuah pelanggaran berat yang harus mendapatkan hukuman mati. Dalam bacaan selanjutnya, kita menemukan bagaimana usaha Haman untuk mewujudkan ambisinya itu.

Saudara, ambisi adalah dorongan untuk melakukan sesuatu demi sebuah tujuan. Tapi, kalau tujuannya salah dan hanya untuk pementingan diri sendiri maka ambisi itu tidak ubahnya penyakit yang membawa kita pada kejahatan & malapetaka. Janganlah seperti Haman. Tapi, milikilah ambisi yang positif agar kita berkembang ke arah yang positif juga.

Selasa, 20 Agustus 2013

SBP, Selasa, 20 Agustus 2013

Hero,
Ester 2:21-23.

Wimar Witoelar pernah menulis sebuah artikel yang berjudul "Hero". Dalam tulisannya itu, ia mengatakan "... bagi orang baik, tidak penting dia dinilai baik atau buruk, selama dia nyaman dalam keyakinan telah menjalankan hidup dengan baik. Bagi orang yang demikian, ..... kepuasannya ... perbuatan yang baik". Itulah yang disebutnya "Hero" sejati. Pahlawan sejati tidak menuntut penghargaan atau penilaian apa pun dari perbuatan heroik yang telah dilakukannya. Karena pada akhirnya, orang sendiri akan mengenal siapa "pahlawan sejati"nya. Kata Witoelar: "We didn't lose the game; we just ran out of time". Hanya soal waktu saja dan semua akan tersingkapkan dengan sendirinya.

Ketika Mordekhai sedang bersantai di depan gerbang istana raja, ia mendengar persengkongklan Bigtan dan Teresh untuk membunuh raja Ahasyweros. Ia memberitahukannya kepada raja melalui Ester. Setelah diperiksa dan ternyata benar, kedua orang itu dihukum mati dan peristiwa itu dicatat di buku sejarah kerajaan. Mordekhai tidak mendapat atau meminta penghargaan apa pun dari raja. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya baik. Ia adalah seorang "Hero" sejati.

Saudara, ketika kesempatan datang untuk melakukan yang baik bagi sesama, maka lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Lakukan saja tanpa mengharapkan apa pun. Itu adalah ciri seorang "Hero" sejati. Kita tidak perlu membicarakannya kepada siapa pun. Seperti raja Ahasyweros yang akhirnya pun tahu apa yang telah dilakukan oleh Mordekhai ketika membaca buku sejarah Kerajaan (Est 6 : 1-2), demikianlah waktu sendiri yang akan menampakkan siapa pahlawan sejatinya. Jangan-jangan itu adalah saudara! (AK)

Doa
Ya Bapa, kami ingin berbuat yang baik dengan sebaik-baiknya, tanpa mengharap apa pun, selain untuk kemuliaanMu. Amin.

Minggu, 18 Agustus 2013

SBP, Senin, 19 Agustus 2013

Kesempatan,
Ester 2:5-10.

Chairil Anwar pernah menulis sebuah puisi yang di dalamnya ada sebuah frase berbunyi "sekali berarti, sudah itu mati". Penggalan syair ini ingin mengatakan bahwa kesempatan itu hanya datang sekali. Sama seperti hidup, setelah berlalu, ia takkan kembali lagi. Maka, ketika kesempatan itu datang, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya. Kesempatan yang dimaksud di sini adalah kesempatan untuk menjadi lebih berarti dalam hidup bagi sesama. Kesempatan inilah yang tidak disia-siakan oleh Mordekhai, ayah angkat Ester.

Setelah ratu Wasti dilengserkan dari jabatannya sebagai permaisuri, raja Ahasyweros mengadakan sayembara untuk mencari ratu baru. Raja memerintahkan untuk mengumpulkan semua gadis yang elok rupanya di segenap daerah kerajaan untuk dipilihnya menjadi ratu ganti Wasti. Mordekhai yang tahu bahwa bahwa Ester elok perawakannya dan cantik parasnya, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia membawa Ester ke dalam istana raja untuk didandani oleh dayang-dayang di bawah pengawasan Hegai. Untuk kemudian diperkenalkan kepada raja. Walau ia tahu bahwa ia dan Ester adalah orang Yahudi, tapi itu tidak membuatnya mundur untuk mencoba. Mordekhai percaya jika Ester menjadi permaisuri, maka kehidupan Ester akan lebih berarti, bukan hanya bagi bangsa Persia tapi teristimewa bagi orang Yahudi yang hidup tersebar di wilayah kekuasaan raja Ahasyweros.

Saudara, kesempatan untuk menjadi lebih berarti dalam hidup ini adalah milik semua orang. Kesempatan itu adalah anugerah Tuhan. Kesempatan itu datang mungkin untuk mengembangkan bakat, talenta atau kelebihan yang kita punyai. Jangan karena sedikit kelemahan yang ada, kita melepaskannya begitu saja. Ambillah kesempatan itu dan selebihnya serahkan pada Tuhan. Buatlah hidup yang sekali ini, menjadi berarti! (AK)

Doa
Ya Bapa, bantulah kami untuk menggunakan kesempatan yang Engkau beri dengan bijaksana.
Amin

SBP, Minggu, 18 Agustus 2013

Keputusan.
Ester 1:20-22.

Apakah akan kuliah atau tidak, kuliah dimana, mau melamar pekerjaan dimana, menikah dengan siapa, menetap dimana, dan lain sebagainya. Semuanya ini menuntut sebuah keputusan sebagai jawaban. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kita tahu bahwa keputusan yang kita ambil telah tepat? Tepat atau tidak eputusan itu memang relatif dari sudut pandang mana kita melihatnya, tapi setidaknya yang harus diingat ada kalimat bijak mengatakan "Tidak seorang pun dapat membuat keputusan yang tepat kalau didasarkan pada ketakutan, kesedihan atau kekecewaan.

Dalam bacaan kita, Raja Ahasyweros juga mengambil sebuah keputusan yakni membuat undang-undang yang mengharuskan semua perempuan memberi hormat kepada suami mereka. Undang-undang ini disebarkan ke segenap daerah kekuasaannya dan ditulis menurut bahasa daerahnya masing-masing. Jika dilihat dari isi, undang-undang ini memang baik. Tapi, jika dilihat dari latarbelakang undang-undang ini dibuat, agaknya kita harus mengatakan bahwa keputusan ini tidak lebih dari sekedar luapan emosi raja Ahasyweros yang marah karena ratu Wasti tidak mau memenuhi keinginannya memamerkan kecantikan ratu kepada rakyat dan pembesar-pembesar.

Saudara, kita adalah penanggungjawab dari semua keputusan yang kita buat. Karenanya, jika diperhadapkan dengan sebuah pilihan yang harus diputuskan, bijaksananya pertimbangkan baik-baik terlebih dahulu dengan pikiran jernih, dengan disertai kepala yang tertunduk meminta pimpinan Tuhan dalam doa. Agar keputusan itu bukan merupakan luapan emosi, tapi keputusan yang telah kita pikir dengan masak-masak dari berbagai sudut. Ingatlah ketika kita mengambil keputusan dengan bijaksana, kita sedang memberi investasi yang baik untuk masa depan kita sendiri. (AK)

Doa:
Ya Bapa, bantulah kami untuk mengambil keputusan dengan bijaksana, Amin.

SBP, Sabtu, 17 Agustus 2013

Menjadi WNI Yang Baik.
Roma 13:1-5.

Menjadi Warga Negara Indonesia yang baik adalah kewajiban setiap orang Indonesia, apakah dia besar ataupun kecil. Warga Negara Indonesia yang baik adalah yang menghormati pemerintah dan menaati hukum/peraturan yang berlaku.

Dalam bacaan hari ini, Roma 5:1-5, Rasul Paulus menegaskan bahwa Pemerintah ditetapkan atas kehendak Allah (Ayat-1), untuk mengupayakan ketertiban hidup bangsa. Pedang adalah simbol kuasa untuk menghukum orang yang melakukan kejahatan (ayat-4), agar ketertiban dan kedamaian tetap terpelihara.

Hari ini, 17 Agustus, adalah hari peringatan proklamasi kemerdekaan RI. Enam puluh delapan tahun yang lalu, yakni tahun 1945. Allah telah menganugerahkan kita merdeka, lepas dari tangan mereka yang menjajah dan merusak masa depan kita.
Sekarang, sebagai pemuda dan generasi penerus kita harus memandang ke depan, mengisi kemerdekaan melalui pembangunan di segala bidang untuk memperoleh masa depan yang baik dan berbahagia.
Panggilan membangun masa depan yang adil dan kemakmuran tanpa perbedaan. Keadilan dan kebenaran kadang harus diperjuangkan melalui demonstrasi tetapi semua harus dilakukan dalam norma yang berlaku, bukan arogan yang merusak sarana umum kepentingan bangsa.

Berjuanglah dalam perjuangan yang benar dan songsonglah masa depan yang damai, adil dan sejahtera dalam rahmat Tuhan. (JPT)

Doa:
"Berkatilah kemerdekaan kami agar kami melakukan yang terbaik bagi kebersamaan bangsa ini", amin.

SBP, Jumat, 16 Agustus 2013

Pembenaran Bagi Kemuliaan.
Roma 5:1-5

Allah akan membenarkan manusia bukan karena memiliki pengetahuan hidup kekristenan, atau karena berbuat benar, dan sebagainya. Pembenaran Allah atas manusia adalah karena ia memiliki apa yang dikehendaki Allah.

Dalam bacaan hari ini, Roma 5:1-5, menurut Rasul Paulus bahwa pembenaran Allah atas manusia itu dasarnya adalah 2 hal, yaitu:
1. Iman/Percaya ; dan
2. bermegah dalam iman itu.
Apa maksudnya kedua hal itu?
Iman adalah percaya yang disertai dengan ketaatan kepada Tuhan Yesus (ayat 1-2); Bermegah adalah dengan mata iman dan ketulusan menjalani penderitaan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan mengerti maksud Allah, agar hidup dalam pergumulan tidak mengecewakan (ayat 3-5).

GP-ers, tahukah anda untuk ada Tuhan membenarkan manusia? Agar mereka dimuliakan karena imannya dalam suka dan duka kehidupan sebagai pengikut Tuhan.

Bukankah anda juga ingin dimuliakan sebagai pengikut Kristus ?
Turutilah jalan hidup pembenaran oleh Allah, yaitu tingkatkan iman pribadi untuk bermegah dalam suka-duka kehidupan sebagai orang percaya.
Seperti buku "Habis gelap terbitlah terang" (kumpulan surat R.A. Kartini yang dibukukan oleh temannya) begitulah juga yang akan dialami oleh kita setelah berbagai tekanan hidup yang terjadi untuk menghambat iman kita, tetapi kita selamat dan menang karena bersandar dengan iman kepada Tuhan (JPT)

Doa
"Tuhan yang pengasih dan penuh anugerah, berilah Roh Kusud menyertai kehidupan saya dalam suka dan duka, agar saya dapat menang atas segala cobaan dan saya memetik kemuliaan dalam Tuhan", amin.

Rabu, 14 Agustus 2013

SBP, Kamis, 15 Agustus 2013

Kebahagiaan Sejati.
Roma 4:6-8.

Apakah yang akan membahagiakan manusia dalam hidupnya? Itulah yang dicari dan akan dilakukannya selama hidupnya.
Kebahagiaan tidak ada pada kepandaian, atau pada kekayaan, atau pada kedudukan terhormat, atau pada kecantikan/ketampanan, dan sebagainya.

Dalam bacaan hari ini, Roma 4:6-8, Rasul Paulus mengatakan bahwa raja Daud mengungkapkan "Kebahagiaan itu bukan dibenarkan berdasarkan perbuatannya, melainkan karena: pelanggarannya diampuni, dan dosa-dosanya ditutupi, dan kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan" (ayat 7-8 yang dikutip dari Maz 32:1-2).
Jadi, bahwa kepandaian, kekayaan dan kedudukan tidak akan membahagiakan hidup manusia kalau dosa, pelanggaran atau kesalahannya tidak diampuni Tuhan.
Karena itu betapa pentingnya pengampunan Tuhan.
GP-ers, katakanlah di mana anda mencari kebahagiaan selama ini? Apakah anda telah mendapatkannya? Jujur saja, hanya kesia-siaan, bukan?
Raja Daud memberitahukan jalan kebahagiaan itu, yakni "Carilah anugerah pengampunan-Nya selagi mungkin kita lakukan".
Pengampunan itu adalah pengudusan oleh Tuhan dari segala dosa dan kesalahan yang sengaja atau tidak sengaja, besar atau kecil serta dalam pikiran, perkataan atau perbuatan.
Semua orang telah berbuat dosa perlu mencari anugerah pengampunan, karena upah dosa itu maut tetapi karunia atau anugerah Allah itu adalah hidup kekal dalam Kristus, Tuhan kita. Sekali lagi, carilah anugerah pengampunan itu dalam Tuhan agar kamu berbahagia selamanya. (JPT)

Doa:
"Tuhan, ampuni dosa saya dan kuduskanlah saya bagi rencana-Mu di dunia ini", amin.

SBP, Rabu, 14 Agustus 2013

Kebenaran Allah.
Roma 3:1-3.

Bangsa Yahudi atau orang Israel adalah umat perjanjian Allah. Kepada mereka dipercayakan firman Allah untuk diberitakan kepada segala bangsa. Kelebihan bangsa perjanjian Allah ialah bahwa sekalipun bangsa itu tidak setia tetapi Allah tetap setia pada perjanjian-Nya. Itulah kebenaran Allah.

Ketika kita membaca Roma 3:1-3, mungkin kita berpikir bahwa Allah seperti manusia yang tunduk kepada kedagingan. Allah tidak mungkin bersifat kedagingan karena keberadaan-Nya adalah Roh. Ia adalah Roh Kebenaran. Perbedaan yang antara Allah dan Israel (manusia) adalah bahwa Allah itu benar dan Israel (manusia) itu adalah pembohong (perhatikan ayat-4 sebagai kutipan kesaksian Maz 51:6).

GP-ers, sudah saatnya kita menyadari keberadaan kita yang tidak jauh dari sifat bangsa Israel. Kita sering tidak setia bahkan senantiasa berbohong. Namun, Allah itu adalah kasih dan oleh kasih itu Ia tidak pernah tidak setia terhadap kita yang berdosa kepada-Nya.
Karena perjanjian yang telah dimeteraikan-Nya dalam Yesus melalu Baptisan Kudus, maka Ia senantiasa menunjukkan kesetian-Nya untuk membuka hati dan menopang kita agar dapat memperoleh kesempatan baik bagi kehidupan yang benar bersama Dia.
Dosa kita adalah batu sandungan bagi keselamatan kita, tetapi kesetiaan-Nya membuka pintu rahmat-Nya bagi keselamatan kita.

Kemauan yang tidak sempurna orang benar disempurnakan Tuhan bagi keselamatannya. Itulah kebenaran Allah dalam kesetiaan perjanjian dengan manusia dalam kelemahannya. (JPT)

Doa:
"Kiranya sifat setia Tuhan, menjadikan saya juga orang yang setia kepada Tuhan", amin.

Selasa, 13 Agustus 2013

SBP, Selasa, 13 Agustus 2013

Karya Roh Kudus.
Roma 2: 29.

Rasul Paulus menghadapi kefanatikan orang-orang Yahudi yang selalu membanggakan dirinya karena perbuatannya berdasarkan pada Hukum Taurat Allah dan sunat sebagai tanda hidup dalam perjanjian Allah. Demikian juga kefanatikan orang-orang Yunani yang mengutamakan moral yang baik. Keduanya selalu mengutuk kelakuan jahat orang-orang kafir.

Dalam bacaan hari ini yang cuma satu ayat, Roma 2:29, Rasul menjelaskan mengenai keyahudian dan sikap moral sejati. Menurut Paulus, keyahudian sejati dan moral sejati bukan yang kelihatan, sebab hal itu bisa merupakan suatu manipulasi. Keyahudian dan moral sejati itu adalah dalam hati karena Roh Kudus ada dan bekerja di hati mereka. Sehingga mereka tidak perlu bersikap fanatik.

Dengan menekankan hal itu, Paulus mau menyatakan bahwa seperti itulah hidup Kristen. Hidup oleh iman karena Roh Kudus hadir dan bekerja dalam hati setiap orang percaya. Ia tidak hidup dalam kebanggan tetapi hidup dalam kebenaran oleh Roh Kudus.

GP-ers yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, janganlah bersikap sombong rohani dengan firman Tuhan. Bukan itu yang Tuhan kehendaki. Tetapi bersyukur dan memuliakan Tuhan dengan hati, mulut dan perbuatan sesuai tuntutan Roh Kudus yang bertakhta di hati kita.

Karya Roh Kudus itu nyata bukan dengan kesombongan tetapi kerendahan hati dan hidup dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan yang memakai kita dalam rencana-Nya bagi dunia untuk memperkenalkan kebenaran kepada yang hidup dalam kesesatan atau jauh dari kehendak Tuhan.(JPT)

Doa
"Teguhkan hatiku dalam rencana-Mu, Tuhan, agar kebenaran bersinar bagi kemuliaan Tuhan", amin.

Minggu, 11 Agustus 2013

SBP, Senin, 12 Agustus 2013

Berhala Kebebalan.
Roma 1:21-25.

Allah menciptakan kehidupan bagi manusia dan memimpin kehidupan ini melalui Roh-Nya, Roh itu menyebabkan manusia mengenai hal yang benar dan hal yang baik yang dikehendaki Allah.

Bacaan kita hari ini mengungkapkan bahwa banyak orang hatinya bebal (= susah/tidak bisa mengerti) kehendak Allah. Mereka mengikuti keinginan hatinya yang bodoh dan seakan berhikmat, dengan menyembah ilah seperti menyembah Allah. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang abadi dengan gambaran fana yang mirip dengan binatang-binatang dan disembahnya. Kebebalan mereka menyebabkan mereka hidup dalam kegelapan yang dimurkai Allah.

GP-ers, mungkin kita tidak melakukan apa yang diperbuat oleh orang bebal itu, tetapi hidup kita bisa merupakan bukti kebebalan kita seperti mereka. Lebih mengutamakan ego dari pada kasih, atau lebih mengutamakan nafsu dari pada taat kepada firman, atau mungkin juga karena cinta kepada sang kekasih maka kita mengabaikan pengabdian kepada Tuhan.
Kita tahu apa yang seharusnya tetapi kita tidak melakukannya atau melakukan yang sebaliknya, itu adalah kebebalan dan dosa.

Kebebalan menyeret kita kepada perilahan nafsu yang membangkitkan murka Allah. Karena itu hendaklah rohmu menyala-nyala oleh terang Roh Kudus Allah yang selalu menyertai kita agar kita tahu yang benar dan melakukan yang baik bagi Allah. (JPT)

Doa
"Tuhan, berilah saya hati yang taat dan tulus supaya saya sanggup melakukan apa yang Tuhan kehendaki", amin.

SBP, Minggu, 11 Agustus 2013

Dasar Keselamatan.
Roma 1:16-17.

Paulus mulanya anti Kristus. Ketika ia berupaya mencari dan membinasakan orang Kristen di kota Damsyik, ia berjumpa dengan Tuhan Yesus. Peristiwa itu menyebabkan ia mengalami goncangan batin dan kebutaan. Namun Tuhan mengutus seorang pengikutNya untuk mencelikkan matanya melalui mujizat ilahi (Kis. 9). Sejak itu Roh Kudus menguasai hidup Pauus dan membuat ia percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, Juru Selamat.

Paulus baru menyadari bahwa Yesus adalah inti Kabar Sukacita (= injil) dari Allah. Roma 1:16-17 inti pokok injil adalah keselamatan bertolak dari iman. Hidup Kristen merupakan persoalan iman atas anugerah Allah. Keyakinan inilah yang menyemangati misinya kepada segala bangsa tanpa takut terhadap apapun. Sikap Paulus merupakan cerminan iman dan pengabdian yang sejati.

GP-ers, kitapun seharusnya memiliki iman dan pengabdian seperti Paulus, bukan setengah-setengah seperti yang terjadi sekarang ini. Setelah percaya, karena ragu oleh adanya cobaan dan setengah mengabdi karena adanya berbagai kepentingan kita yang tidak bisa diabaikan.

Iman dan pengabdia kepada Kristus harus merupakan segalanya dan yang utama bagi hidup kita. Jangan menomor duakan Dia daripada segala urusan kita. Percayalah bahwa Ia akan memberik yang terbaik bagi kita dari apa yang telah kita korbankan karena iman dan pengabdian kita kepada Dia. (JPT)

Jumat, 09 Agustus 2013

Bina Pengurus Gerakan Pemuda Bukit Zaitun (Part I)

Selesai sudah rangkaian kegiatan Bina Pengurus Gerakan Pemuda Bukit Zaitun hari pertama yang dimulai dengan ibadah pembukaan pada pukul 09.00 dan kemudian dilanjutkan dengan materi-materi.
Hari pertama ini ada 4 materi, yang pertama adalah "Menyusun,Mempersiapkan dan Menyampaikan khotbah" yang dibawakan oleh Pdt. W.T.C. Melatunan, S.Th., M.Min, yang kedua adalah "Manajemen Waktu" yang dibawakan oleh Pnt. Melky Dores, yang ketiga adalah Interpersonal Skills Improvement yang dibawakan oleh Sdri. Wanda Silanno S.Psi, dan yang terakhir adalah "Cara Membuat Ibadah yang Kreatif" yang dibawakan oleh Pdt. Nitis P. Harsono M.Th. Setelah materi selesai, kegiatan ini ditutup dengan Bedah Film "Courageous" yang didampingi oleh Sdr. Steven Lengkey.
Satu yang berbeda pada Bina Pengurus kali ini adalah Pesertanya tidur di lantai 3 GSG Bukit Zaitun, beralaskan karpet. Mungkin bakal ada pro dan kontra disini, tapi menurut saya, disinilah keunikannya, jangan kita  menganggap suatu Bina Pengurus itu harus di tempat yang istimewa, di tempat seperti gedung dengan sejumlah kamar, di sebuah tempat rekreasi ataupun diadakan digereja tapi hanya dari pukul 10.00-21.00 seperti yang biasa diadakan, hal yang dilakukan oleh PTJ Gerakan Pemuda Bukit Zaitun ini adalah suatu hal yang dapat membangun hubungan yang akrab antara pengurus yang satu dengan yang lain dan dapat menjadi suatu cerita yang unik untuk bisa di share ke Pengurus Gerakan Pemuda di jemaat lain.
Kegiatan ini akan dilanjutkan pada pagi hari sampai sore hari sebentar, yaitu dari pukul 06.00-15.00, bakal ada outbond dan materi lain yang akan didapatkan lagi.

Sabtu, 29 Juni 2013

SBP, Minggu, 30 Juni 2013

Puzzle Kehidupan,
Efesus 2 : 19-22.

Mungkin pada saat kecil, kita mengenal permainan puzzle. Seperti kita ketahui puzzle merupakan permainan merangkai suatu gambar yang bagiannya terlepas-lepas untuk menjadi suatu gambar yang utuh. Mungkin kita mempunyai Persepsi yang sama mengenai permainan puzzle ini bahwa sebelum jadi dengan gambar yang utuh maka kita tidak bisa membayangkan potongan-potongan ini mau ditaruh.
Pada bacaan kita hari ini mengenai Efesus 2 : 19-22, sebenarnya berbicara hal yang sama mengenai ilustrasi puzzle di atas. Pada jaman dahulu begitu banyak dosa yang dilakukan oleh jemaat Efesus dan mereka pun masih kurang mengenal Tuhan Yesus. Pemikiran mereka juga masih terkotak-kotak, itu bisa dilihat pada ayat 11 di mana ada pemisahan antara orang Yahudi dan bukan orang Yahudi dan juga ada yang sunat dan tidak sunat sehingga hal ini menimbulkan perselisihan. Puzzle kehidupan dalam pelayanan sebelumnya tidak bisa dirangkai dengan baik karena tidak bisa disatukan sehingga tidak menjadi suatu gambaran yang baik. Hal ini membuat rasul Paulus membuat surat untuk jemaat di Efesus agar mereka semua bersatu di dalam Kristus, ini dikatakan bahwa "Tidak ada lagi orang asing dan pendatang melainkan sudah menjadi keluarga Allah di mana Yesus Kristus sebagai batu penjurunya sehingga di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan dan rapi tersusun menjadi bait Allah yang kudus dan juga di dalam Dia kita juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam roh" (Ayat 19-22)
Hal seperti kondisi di kota Efesus pada saat itu masih sering terjadi pada saat ini, dimana kita masih sering mengkotak-kotak pelayanan yang ada. kita masih sering memilih-milih pelayanan, kita juga masih pilih-pilih teman dalam bergaul sehingga gerak pelayanan kita di GP menjadi tidak maksimal. Kita lupa bahwa yang punya pelayanan ini adalah Tuhan. Marilah kita rangkai puzzle itu dalam kehidupan pelayanan GP dan biarkan Tuhan sebagai batu penjurunya. (DFG)

Doa
Ya Tuhan jangan biarkan GP kami terpecah-pecah dan semakin berkurang karena adanya pengkotak-kotakan, kiranya Tuhan mau menyatukan kembali GP yang terpecah-pecah karena satu dan lain hal supaya kami kembali bersatu. Dalam namaMu Yesus kami berdoa. Amin

Jumat, 28 Juni 2013

SBP, Sabtu, 29 Juni 2013

Komitmen kita kepada Tuhan,
I Korintus 16:5.

Korintus pada waktu itu adalah kota yang angkuh secara intelek, kaya secara materi, dan bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa nafsu mereka. Dan dosa-dosa dari lingkungan sekitar ini sedikit banyak telah masuk dan mempengaruhi jemaat yang dibangun sendiri oleh Paulus. Paulus mendirikan jemaat Korintus itu pada masa perjalanan misinya yang kedua (Kis 18:1-17). Sebelumnya Paulus memang mengatakan kepada jemaat Korintus tentang rencananya mengunjungi mereka setelah ia ke Makedonia (1 Korintus 16:5). Ternyata perjalanan itu dibatalkan, dan kemudian memang terjadi perubahan dalam realisasi perjalanannya (15-16). Karena hal ini, jemaat Korintus jadi salah mengerti dan menganggap Paulus sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Sebab itu, mereka meragukan juga kasihnya pada mereka. Tentu saja Paulus tidak ingin mendiamkan kesalahpahaman itu. Langkah bijak yang dilakukan Paulus dengan hikmat yang diberikan Roh kudus adalah dengan cara mengirim surat-surat yang tegas kepada jemaat di Korintus bukan dengan datang dan pada akhirnya menegor secara langsung ketidakdisiplinan mereka. Ia menjelaskan pada suratnya bahwa ia membuat perencanaan bukan berdasarkan ambisi pribadi, tetapi berdasarkan tuntutan Roh Kudus. Perubahan rencana bukanlah tanda bahwa dirinya tidak konsisten. Sebagai pelayan Tuhan ia harus bijak.

Disadari ataupun tidak disadari bahwa segala tindakan, perkataan, gagasan dan sebagainya yang ada pada seseorang selalu ada konsikuensinya. Termasuk keputusan, maupun tindakan yang dilakukan oleh rasul Paulus dalam melayani pekerjaan Tuhan. Paulus melayani Tuhan dari kota satu ke kota lainnya, diantaranya Makedonia, Efesus, Korintus dan banyak kota lainnya. Memang, secara fisik bahwa pelayanan yang dilakukan oleh rasul Paulus itu sangat melelahkan, belum lagi ditambah dengan persoalan-persoalan lainnya. Inilah konsekuensi yang harus diterima oleh rasul Paulus, dan rasul Paulus menyadari akan hal itu. Tetapi semuanya itu tidak melemahkan rasul Paulus dalam melayani Tuhan, justru bagi rasul Paulus hal tersebut sangat menyenangkan sebab melayani Tuhan merupakan kehormatan yang tidak ada bandingnya. Untuk itu ia menulis surat yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, katanya : "sebab disini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang." Pertanyaan bagi kita (red:GePeers)..... apa yang sudah kita rencanakan untuk mendukung program kerja di 2013-2014........ jangan pernah berubah hanya karena ambisi dengan sesuatu yang pada akhirnya merusak persekutuan. Tapi belajar dari rasul Paulus tetap komitmen serta konsisten dan bertanggung jawab..... inga-inga kalau sudah komitmen dengan Tuhan harus Finishing well... (JJCU/CS)

Doa
Ajarkan kami untuk selalu menjadi pelayan Tuhan yang bertanggung jawab dan berkomitmen

SBP, Jumat, 28 Juni 2013

Pedoman Kehidupan,
Mazmur 119:9.

Nelayan tradisional ketika melaut berpedoman kepada bintang. Kaptal laut dalam pelayaran modern berpedoman kepada Kompas atau computer.
Demikian pula dengan hidup ini ada pedoman arahnya.

Bacaan Alkitab hari ini, Mazmur 119:9, menyatakan bahwa firman Tuhan adalah pedoman arah dan tindakan setiap manusian percaya terhadap sesamanya di masyarakat, terutama terhadap Tuhan yang diimaninya. Mengapa?
Karena Firman Tuhan adalah kebenaran dan sempurna Allah, oleh karena itu Ia menjadi dasar yang kekal dan tak ada yang setara dengan firman. 
Setiap perbuatan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan adalah tindakan di luar kebenaran dan merupakan dosa.

GP-ers, sebagai Pemuda milik Tuhan Yesus, kita dihadirkan di dunia ini untuk menjadi Terang Berkat bagi dunia. Sudah seharusnyalah kita menyadari untuk setia di dalam Tuhan dan hidupnya berpadanan dengan firmanNya. Artinya, firman Tuhan menjadi ukuran hidup dan tindakan kita setiap saat.
Tepatnya, Firman Tuhan menjadi dasar etika pemuda Kristen milik Tuhan Yesus.
 
Hidup tanpa firman Tuhan merupakan hidup tanpa iman yang mudah disesatkan oleh berbagai kejahatan. Tetapi yang setia dan taat kepada firman tidak akan disesatkan oleh kejahatan.
(JPT)

Doa
"Tuhan, bimbinglah saya oleh Roh Kudus agar sebagai pemuda milik Tuhan, saya mampu hidup setia dan taat pada firman Tuhan dan saya tidak melanggar kehendak Tuhan", amin.

Kamis, 27 Juni 2013

SBP, Kamis, 27 Juni 2013

Rencana Tuhan,
Ayub 33:9.

Sesaat setelah gempa bumi dan tsunami melanda kota Banda Aceh, rekan saya menjadi relawan untuk ikut serta membawa bantuan ke Aceh khususnya kepada umat kristiani yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami tahun 2004 tersebut. Rekan saya pun menceritakan pengalamannya disana saat dia bertemu dengan seorang bapak yang juga merupakan petugas gereja yang ada di Banda Aceh.
Seperti yang kita tahu bahwa Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh yang lalu terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, tepat pada hari minggu. Bapak ini adalah seorang petugas gereja dimana pada hari Minggu itu harus mempersiapkan ruang ibadah yang akan digunakan. Karena harus melakukan persiapan di gereja,  bapak ini pun harus bangun pagi-pagi dan meninggalkan istri dan anaknya yang masih tertidur pulas dirumah. Disaat bapak ini sedang melakukan persiapan di Gereja, Tsunami pun datang dan menghantam kota Aceh dan menghanyutkan istri dan anaknya yang masih tertidur. Bapak ini mempertanyakan akan kehadiran Tuhan terutama saat Tsunami melanda Banda Aceh. "Dimana Tuhan? Disaat saya bangun pagi-pagi untuk mengurusi Gereja kenapa Tuhan tidak memperhatikan dan melindungi istri dan anak saya yang sedang tertidur dirumah"
Sebagai manusia terkadang kita tidak dapat mengerti akan maksud dan rencana Tuhan untuk kita. Itu pula yang dirasakan Ayub sehingga dia berkata dalam ayat 9 "Aku bersih, aku tidak melakukan pelanggaran, aku suci, aku tidak ada kesalahan." Ayub merasa bahwa dia sudah hidup sesuai dengan perintah Allah tetapi kenapa pencobaan harus tetap dialami oleh dia.
Teman-teman yang terkasih, walaupun kita sudah hidup setia didalam Tuhan tidak berarti kita lepas dari pergumulan dan cobaan. Terkadang melalui pergumulan tersebut, Allah ingin membentuk kita atau bahkan orang lain disekitar kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berkenan dihadapanNya. Seperti ada tertulis "Sebab Allah Setia, dan karena itu ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu" (1 Korintus 10:13b). (RL)

Doa
Bapa, terkadang kami tidak mengerti akan maksud rencanaMu, namu kami imani dan percaya bahwa rancanganMu adalah rancangan Damai Sejahtera.

Selasa, 25 Juni 2013

SBP. Rabu, 26 Juni 2013

Menjadi Rajawali Bersama Tuhan,
Mazmur 103:5.

Tentu kita pernah melihat burung Rajawali, baik secara langsung ataupun melalui tayangan pemberitaan. Betapa gagahnya burung tersebut, terlebih saat ia terbang diudara, sayapnya yang lebar dan kokoh, kakinya yang kuat mencengkeram mangsanya, dan warna bulunya yang indah mengkilat. Begitu indah ciptaan Tuhan.
Demikianlah orang-orang muda yang berada dalam perlindungan Tuhan. Mereka diumpamakan seperti burung rajawali, yang kokoh, mengatasi segala persoalan hidup, bahkan sanggup mengalahkan segala musuh-musuhnya dengan cengkramannya yang kuat. Allahlah yang membuat kita kuat, Allahlah yang membuat kita sanggup melewati segala perjalanan kehidupan, suka maupun duka.
Pemazmur dalam bacaan kita saat ini mengungkapkan hal yang sama. Melalui pujiannya, ia mengungkapkan pengakuan imannya tentang kuasa Allah yang besar dalam kehidupannya. Kebaikan Tuhan meluputkannya dari bahaya maut (ay.4), mengampuni segala dosanya (ay.3), dan memberikannya kehidupan baru yang penuh dengan kebaikan (ay.5). Inilah sebabnya pemazmur menaikkan syukur kepada Allah.

Betapa penting bagi kita berjalan bersama Tuhan, mengandalkan Dia di segala waktu, karena hanya bersama Tuhan kita sanggup lalui segala persoalan hidup ini. Dimasa sekarang ini, banyak tantangan bahkan ancaman yang dihadapi oleh kaum muda, khusunya bahaya narkotika, individualisme hedonisme, dan seks bebas. Realitas ini mengingatkan kita untuk sadar dan berjaga-jaga dengan perlengkapan senjata Allah (baca : Ef : 10-18).
Bangunlah  hubungan yang intim dengan Tuhan, setiap saat melalui doa dan pembacaan firman Tuhan, niscaya kita akan dibimbing olehNya dan dikuatkan seperti burung rajawali. Tuhan Yesus memberkati. (ET)

Doa
Ya Tuhan bimbinglah hambaMu ini agar selalu mengandalkan Engkau dalam kehidupan sehari-hari dalam namaMu yesus aku berdoa. Amin.

Senin, 24 Juni 2013

SBP, Selasa, 25 Juni 2013

Channel Berkat Allah.
Ulangan 29:18-20.

Pernah suatu kali saya mengalami kesulitan takkala mencari channel televisi kesukaan saya. Rupanya channel itu diacak  frekuensi sinyalnya. Akhirnya saya harus mencari di om Google, dan menemukan frekuensi yang tepat untuk channel tersebut. Setelah saya menyetel kembali televisi dan menyamakan frekuensinya, saya dapat kembali menikmati siaran itu.
Sobat GPers yang diberkati Tuhan, kisah ini merupakan sebuah perbandingan tentang kasih dan berkat Allah bagi umatNya. Jika Allah diibaratkan seperti channel, yang dapat memberikan tayangan-tayangan yang disukai oleh penontonnya, maka frekuensi harus disamakan. Untuk dapat menikmati berkat dan kasih Allah, kita harus hidup segambar dan serupa denganNya. Sama seperti Allah itu kudus, maka kita pun harus menguduskan kehidupan kita bagiNya, agar kita dilayakkan untuk menerima berkat-berkatNya.

Yang menghalangi kita menikmati kebaikan Tuhan, berasal dari kita sendiri. Firman Tuhan : "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu (Yes 59:1-2). Dosa adalah segala jenis pelanggaran dihadapan Allah. Melakukan apa yang dilarang, disebut dosa aktif (active sins) mis: mencuri, membunuh, merokok, narkotika, seks bebas, minuman keras, dan segala bentuk penyembahan berhala modern seperti kecintaan yang berlebihan kepada uang. jabatan, pekerjaan, pria/wanita, hingga melupakan Tuhan. Tidak melakukan apa yang diperintahkan, itu juga berdosa, disebut dosa pasif (passive sins, baca : Yakobus 4:17), mis : tidak berbuat kebaikan, padahal punya kesempatan.
Tubuh adalah bait Allah, dimana Roh Allah diam di dalamnya, karena itu marilah menjaga tubuh kita menjadi persembahan yang hidup kepadaNya. Samakan channel kita dengan Tuhan, baik dalam pikiran dan tindakan, niscaya melalui pertolongan RohNya yang kudus, kita dimampukan untuk hidup berkenan kepadaNya dan menikmati berkat-berkatNya. Tuhan Yesus memberkati. (ET)

Doa
Ya Tuhan kiranya Kau mengkuatkan kami menghadapi cobaan yang membuat kami goyah dan jatuh dalam dosa, dan kiranya kami selalu mengingat kasih karunia yang Engkau berikan dan bersyukur senantiasa dalam namaMu Yesus kami berdoa, amin.

Minggu, 23 Juni 2013

SBP, Senin, 24 Juni 2013.

SENANTIASA,
Ibrani 13:15-16.

Melihat lebih dalam maksud dari nasihat dan doa selamat seperti yang tertulis pada Ibrani 13 adalah bagaimana menyenangkan hati Allah. Siapa mereka? Rupanya sekelompok orang Kristen di Ibrani yan bisa saja mereka berpaling dari Yesus Kristus karena terus-menerus mengalami tekanan.

Dalam ayat 15 dan 16-nya, mereka dinasihatkan agar memuji kemuliaan Allah, berbuat baik dan memberi bantuan. Hal-hal tersebut sebaiknya secara senantiasa dijadikan persembahan korban syukur kepada Allah dengan perantaraan Yesus Kristus. Begitulah inti dari bagian akhir Surat tentang nasihat dan doa selamat kepada mereka yang terus-menerus mengalami tekanan.

Sejarah membuktikan dalam keadaan tertekan tetapi pengikut Kristus semakin bertambah. Dikenal dengan semakin dibabat semakin merambat. Nasihat dan doa selamat itu berlaku bagi mereka dulu dan teruji. Buktinya Kristen sampai sekarang masih ada. Harapannya ke depan, terus masih ada dan berkembang bertumbuh. Bukan sekedar kuantitasnya tapi juga kualitasnya.

Kaum muda gereja punya peran yang strategis dalam hal ini. Kita dapat belajar dari para orang tua kita dan kita meneruskan & menanamkan serta menjadi contoh yang baik bagi adik-adik kita maupun anak-anak kita nanti.

Tetaplah memuji kemuliaan Allah, berbuat baik dan memberi bantuan hanya bagi kemuliaan Tuhan melalui Yesus Kristus apapun tantangan yang kita hadapi. Senantiasa kita jadikan persembahan syukur kita. Semoga di hari tua nanti kita tersenyum melihat anak cucu kita juga senantiasa melakukannya. (ES)

Doa
Kami hanya mampu memuji kemuliaan bagi Allah, berbuat baik dan memberi bantuan, ya Allah! Tidak lebih kemampuan kami dari pada itu sebagai persembahan syukur kami. Karena hanya Engkaulah yang mampu menumbuhkan buah-buahnya. Dan, biarlah buah-buah itu hanya bagi kemuliaan Engkau melalui Yesus Kristus. Amin.

Sabtu, 22 Juni 2013

SBP, Minggu, 23 Juni 2013

Kita Orang Percaya kan?
I Timotius 5:16.

I Timotius 5:16 merupakan bagian dari petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Paulus melalui suratnya kepada Timotius. Petunjuk-petunjuk kepada Timotius mengenai pekerjaannya, khususnya tentang janda.

Yang menjadi konsentrasi dalam renungan ini adalah "... hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban jemaat."Dalam konteks yang lebih luas, 'ia' bisa menjadi kita yang percaya, 'mereka' bisa menjadi orang yang perlu ditolong dan 'jemaat' sudah tentu gereja.

Ada harapan apa atas isi Alkitab tersebut di atas? Selanjutnya ada kalimat "Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda." Hal inilah yang menjadi harapannya. Dalam konteks yang lebih luas dapat diartikan menjadi harapannya. Dalam konteks yang lebih luas dapat diartikan menjadi gereha dapat lebih fokus lagi membantu orang-orang yang memang benar-benar perlu ditolong. Berkat gereja benar-benar terasa mengalir bagi mereka secara maksimal. Ada yang bermasalah dalam keluarga, dalam masyarakat, kesehatan, pekerjaan, keuangan dan lain-lain. Korban perceraian, sebagainya. Bagaimana gereja mengambil posisi dan sikap tindak atas permasalahan itu? Bagaimana gereja mempersiapkan dirinya untuk menghadapi segala permasalahan itu? Bagaimana gereja mempersiapkan barisan mudanya agar siap di masa depan? Bagaimana barisan muda gereja mempersiapkan dirinya agar gereja kita mampu menghadapinya?

Paulus telah menuliskannya yaitu "... hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban jemaat." Dalam konteks yang lebih luas, 'ia' bisa menjadi kita yang percaya. Kita orang yang percaya kan?
(ES)

Doa
Mampukan kami ya Tuhan bukan sekedar menjadi orang percaya akan Engkau saja tapi juga mampu menjadi berkat bagi saudara kami yang memerlukan pertolongan bagi kemuliaan Engkau.

Jumat, 21 Juni 2013

SBP, Sabtu, 22 Juni 2013

Kisah Para Relawan.
2 Korintus 8:7.

Saat rintik  hujan menjadi luapan air yang besar membuat semua hal menjadi sulit dan menjadi bencana. Mengingatkan bencana banjir melanda Jakarta di bulan Februari lalu dan jebolnya salah satu tanggul membuat Jakarta terendam banjir sampai ke harmoni dan sekitarnya. Daerah kampung Melayu pun banyak rumah yang hanya terlihat atapnya saja. Banjir tidak hanya mempengaruhi warga miskin di sekitar sungai tetapi rumah-rumah mewah pun ikut menjadi korban. Karena besarnya banjir banyak posko-posko yang didirikan termasuk Crisis Center GP GPIB.
Pampers, susu, obat-obatan, perlengkapan bayi, baju-baju dan makanan untuk para korban disumbangkan dari berbagai pihak, disalurkan oleh para relawan banjir, sampai ke tempat yang sulit dijangkau dengan perahu karet dan rekan-rekan muda yang datang menyumbangkan tenaganya menyortir, mengotong, tim survey, dan penyaluran bala bantuan untuk para korban banjir. Semua di kerjakan oleh para relawan dengan sukacita, penuh kasih dan kesungguhan untuk membantu.
Sungguh nyata kepedulian pemuda pada saat itu, sama dengan Jemaat Kristus di Makedonia, dijelaskan bahwa ditengah-tengah keterbatasan serta pencobaan yang berat, jemaat di Makedonia hidup didalam persekutuan yang teguh, serta pengharapan kepada Tuhan. Bahkan sukacita mereka meluap untuk bisa mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka miskin yang diharapkan Paulus. Memberikan kemurahan hati dengan memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan, kemurahan hati terhadap Kristus, Iman dan kasih kepada Kristus memang bukan hanya nyata melalui doa atau ibadah pribadi, tetapi juga tampak dalam kepedulian kita pada orang lain. Kepedulian yang terwujud melalui pertolongan. (VS)

Doa
Ya Bapa, Puji syukur kami diberikan kesempatan untuk memberi, bimbinglah kami untuk kami dapat memakai kesempatan itu untuk menyalurkan pertolongan dengan sukacita dan tulus. Amin

Kamis, 20 Juni 2013

SBP, Jumat, 21 Juni 2013

Berantem Itu Rugi
Matius 5:25

Berantem atau pertengkaran itu akibat dari kurangnya kendali diri kita terhadap emosi, amarah perkepanjangan. Ketika dua orang berantem mereka berteriak satu sama lain, menandakan hati mereka menjadi jauh satu sama lain meskipun secara fisik mereka berdekatan. Berbeda dengan orang ketika sedang dilanda jatuh cinta, suara halus pun pasti didengarnya karena hati mereka berdekatan.

Kisah dua bocah bermain bersama. Bocah pertama melihat ada buah kacang tergeletak di tanah. Sebelum ia memungutnya, bocah kedua berhasil mendahuluinya. Bocah pertama protes, "Berikan kacangnya. Itu punyaku. Aku yang lihat duluan." Bocah kedua jawab,"Ini punyaku. Aku yang mengambilnya." Akhirnya dua bocah itu bertengkar. Saat itu lewat seorang bocah berbadan gede. Begitu melihat pertengkaran kedua bocah itu, berkatalah dia, "Sini berikan kacangnya. Biar aku yang beresin masalah kalian." Bocah itu bagi kacang itu jadi dua. Ia keluarin buahnya. Lalu  pada bocah pertama, diberikannya separuh kulit kacang dan separuhnya lagi diberikan pada bocah kedua. Sementara, bijinya dimasukkannya ke dalam mulutnya sambil ngomong, "Ini buatku yang udah beresin masalah kalian."

Tuhan Yesus Kristus mengajarkan kita agar segera berdamai dengan lawan karena itu baik buat dirimu sendiri maupun orang yang berselisih paham denganmu. Dahulu menjadi kewajiban bila seseorang mau menyembah kepada Allah harus berdamai dulu dengan orang yang tersinggung itu agar persembahannya berkenan. Nggak enak banget musuhan karena setiap kali bertemu dengan orang yang kita musuhin, perasaan tidak tenang, ada keinginan untuk berbuat jahat. Bila dibiarkan terus menerus, berantem atau berkelahi itu ruginya sangat banyak, efek sampingnya bukan hanya menyebabkan hati orang dihadapannya menjadi sedih karena kata-kata umpatan atau kata-kata tuduhan tetapi juga merugikan kesehatan, kepala pusing, darah tinggi, sakit jantung bahkan dapat melakukan tindak kejahatan dan jatuh dalam dosa, hanya gara-gara tidak mau berdamai. Jagalah persaudaraanmu atau pertemananmu dengan segera berdamai jika terjadi pertengkaran dan bersedia meminta maaf kalau kita sudah berbuat salah atau melakukan  sesuatu yang menyakiti hati saudara atau temanmu. Jika ada di antara teman-teman tengah mengalami sebuah hubungan yang rusak karena suatu kesalahan yang pernah anda buat atau katakan, ini saatnya untuk mengambil inisiatif. Datangi mereka dan mintalah maaf. Perbaiki segera hubungan itu, berdamailah saat ini juga, sebelum hubungan anda semakin terputus dengan Tuhan. Segeralah berdamai, jangan tunda kemarahanmu hingga matahari terbenam, karena hari esok mungkin saja jauh lebih sulit. (VS)

Doa
Ya Bapa yang maha kuasa, berikanlah kami roh kudus-Mu supaya bila amarah memasuki hati kami, kami dapat cepat-cepat berdamai dan meminta maaf terlebih dahulu. Kasih-Mu selalu menaungi kami. Amin.

Hebat, Makassar Kembali Jadi Tuan Rumah Pertemuan GP GPIB

CELEBESONLINE (Makassar): Memasuki usia ke-63 tahun di bulan Juli 2013, Gerakan Pemuda GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) akan melaksanakan program bentuk syukur atas eksistensi Gerakan Pemuda GPIB di Indonesia sejak berdirinya pada tahun 1950. Tahun ini Gerakan Pemuda GPIB pun mengagendakan perayaan hari jadi ‘Pemuda Biru Benhur’ ini dengan pembagian tiga sentra /wilayah besar.
Kota Makassar turut berbangga dan bersyukur karena dapat dipilih oleh Dewan Gerakan Pemuda GPIB (pusat) untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan HUT Gerakan Pemuda GPIB ke-63 SENTRA A yang meliputi Musyawarah Pelayanan (Mupel) Wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah – Yogyakarta,  Bali-NTB, Kaltim 1, Kaltim 2, Kaltim 3, dan Sulselbara sendiri.
“Ini merupakan kali kedua Makassar ditunjuk sebagai tuan rumah pelaksanaan HUT GP GPIB sejak tahun 2008. Ini merupakan apresiasi dari Dewan GP-GPIB yang harus senantiasa kami jaga dan akan laksanakan agar Gerakan Pemuda GPIB dapat tetap eksis dan bermanfaat bagi semua kalangan baik pemuda, gereja dan masyakarakat,” tambah Korwil GP-GPIB Mupel Sulselbara, Prisilia Korompis.
Untuk pelaksanaan HUT Gerakan Pemuda GPIB ke-63 SENTRA A-Makassar akan berlangsung pada bulan Juli 2013. Kegiatan yang dipersiapkan oleh panitia penyelenggara di Makassar sendiri akan lebih menitikberatkan kepada pedoman Tema GP-GPIB tentang Kemitraan & Kesetiakawanan Sosial. Kegiatan yang direncanakan antara lain anjangsana ke panti asuhan, Panti Rehabiitasi Narkoba BNN Sulsel, TPA Antang, Bersih Losari pada medio Juli 2013 dan juga kegiatan Bina Pengurus GP-GPIB dari 7 wilayah Sentra A dan akan ditutup oleh puncak acara Ibadah Syukur HUT ke-63 di Balai Prajurit pada 27 Juli 2013. Penutupan juga akan dihadiri oleh Majelis Sinode GPIB, Dewan Gerakan Pemuda GPIB hingga Gubernur Sulsel dan Walikota Makassar.
Sekitar 2000 anggota GP-GPIB dari wilayah Sentra-A akan hadir di kota Makassar dan menghadiri acara tahunan dari GP-GPIB ini. Melalui rangkaian kegiatan ini, GP-GPIB Mupel Sulselbara berharap dapat diberkati dan menjadi berkat bagi kota Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya.(*)
Laporan (:
Ronald Richard Samson
Ketua Panitia HUT GP GPIB ke-63 Sentra A- Makassar

posting via CELEBES ONLINE
http://www.celebesonline.com/2013/06/15/hebat-makassar-kembali-jadi-tuan-rumah-pertemuan-gp-gpib.htm