Menuai Berkat,
Yohanes 4 : 34 - 38.
Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di Sikhar menghasilkan pertobatan dan respon positif dengan pengakuan Yesus adalah Juruselamat manusia. Dengan penyampaian lembut dan tepat, Tuhan Yesus menanamkan benih firman Allah pada perempuan yang hidup dalam penyembahan berhala. Dialog Yesus menukik pada persoalan iman. Yesus mengarahkan perempuan Samaria itu untuk percaya kepada Sumber Air hidup yang kekal. Sementara murid-murid didorong untuk menjadi penuai atas jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus.
Percakapan simpatik, persuasif dan mendalam mengalir dengan baik antara Yesus dengan perempuan Samaria itu. Tuhan Yesus menghancurkan tembok-tembok pemisah dan penghalang apapun dalam berkomunikasi. Bahasa yang digunakan tidak memperlihatkan arogansi kekuasaan, apalagi penghakiman yang keras. Yesus membuka semua sisi tersembunyi dari pribadi perempuan itu dan memberi undangan kepadanya agar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Percakapan Yesus telah menghancurkan hal-hal tabu yang selama ini dipelihara dan memberi wawasan baru agar murid-murid aktif menginjili manusia supaya bertobat dan menjadi milik Tuhan. Murid-murid diajarkan untuk hidup mengerjakan perintah Tuhan membawa manusia diselamatkan kepada Yesus dan melakukan tugas perutusan itu dengan sukacita.
Seringkali kita bertemu dengan orang-orang baru dan terlibat dalam percakapan. Apa yang perlu kita ingat bahwa pertemuan itu bukan sekedar pertemuan biasa. Pertemuan itu diatur Allah dan bisa jadi kesempatan melayani firman Allah sehingga siapa pun yang menjadi lawan bicara dapat mengenal Yesus dan lebih jauh mengikut Yesus dalam hidupnya. Tuhan mengutus kita untuk menuai berkat yang disediakan oleh-Nya. Mohon Roh Tuhan agar kita dapat menjadi penuai berkat Tuhan yang setia sehingga banyak orang diselamatkan dan kita dapat memberikan hormat serta kemuliaan hanya bagi Allah.
Yohanes 4 : 34 - 38.
Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di Sikhar menghasilkan pertobatan dan respon positif dengan pengakuan Yesus adalah Juruselamat manusia. Dengan penyampaian lembut dan tepat, Tuhan Yesus menanamkan benih firman Allah pada perempuan yang hidup dalam penyembahan berhala. Dialog Yesus menukik pada persoalan iman. Yesus mengarahkan perempuan Samaria itu untuk percaya kepada Sumber Air hidup yang kekal. Sementara murid-murid didorong untuk menjadi penuai atas jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus.
Percakapan simpatik, persuasif dan mendalam mengalir dengan baik antara Yesus dengan perempuan Samaria itu. Tuhan Yesus menghancurkan tembok-tembok pemisah dan penghalang apapun dalam berkomunikasi. Bahasa yang digunakan tidak memperlihatkan arogansi kekuasaan, apalagi penghakiman yang keras. Yesus membuka semua sisi tersembunyi dari pribadi perempuan itu dan memberi undangan kepadanya agar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Percakapan Yesus telah menghancurkan hal-hal tabu yang selama ini dipelihara dan memberi wawasan baru agar murid-murid aktif menginjili manusia supaya bertobat dan menjadi milik Tuhan. Murid-murid diajarkan untuk hidup mengerjakan perintah Tuhan membawa manusia diselamatkan kepada Yesus dan melakukan tugas perutusan itu dengan sukacita.
Seringkali kita bertemu dengan orang-orang baru dan terlibat dalam percakapan. Apa yang perlu kita ingat bahwa pertemuan itu bukan sekedar pertemuan biasa. Pertemuan itu diatur Allah dan bisa jadi kesempatan melayani firman Allah sehingga siapa pun yang menjadi lawan bicara dapat mengenal Yesus dan lebih jauh mengikut Yesus dalam hidupnya. Tuhan mengutus kita untuk menuai berkat yang disediakan oleh-Nya. Mohon Roh Tuhan agar kita dapat menjadi penuai berkat Tuhan yang setia sehingga banyak orang diselamatkan dan kita dapat memberikan hormat serta kemuliaan hanya bagi Allah.
0 komentar:
Posting Komentar