Yesus dan Perceraian,
Matius 19 : 4-6.
Salah satu realitas sosial yang menonjol belakangan ini
adalah perpecahan dalam rumah tangga yang menyebabkan perceraian antara suami
dan isteri. Tidak sedikit suami-isteri Kristen yang memutuskan untuk mengakhiri
perkawinan melalui perceraian. Ada yang secara sah bercerai melalui proses dan
keputusan pengadilan negeri. Ada pula yang tidak sah karena salah satu – suami
atau isteri – pergi meninggalkan pasangan dan keluarga begitu saja dan tidak
kembali. Ketika ditanya, “Mengapa terjadi perceraian?” Berbagai alasan
dikemukakan. Beberapa di antaranya : a) Salah satu merasa tidak cocok dengan
pasangannya, sehingga menimbulkan ketidakharmonisan dalam hubungan; b) Terjadi
tindakan kekerasan dalam rumah tangga; c) Perselingkuhan/perzinahan yang
dilakukan suami atau isteri dengan orang lain; d) Perkawinan yang berlangsung
tanpa cinta-kasih; e) Masalah ekonomi.
Dari dulu sampai sekarang, pemerintah maupun para pemimpin
agama berusaha menyikapi masalah perceraian. Berbagai aturan dan hukum dibuat,
yang umumnya melegitimasi perceraian. Aturan dan hukum itu juga lebih
menguntungkan kelompok yang kuat, termasuk laki-laki dan mendiskreditkan
kelompok lemah, yakni perempuan. Para pemimpin Yahudi juga memberlakukan aturan
dan hukum seperti itu.
Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus ingin merekonstruksi semua
aturan dan hukum agama Yahudi yang menurut-Nya, tidak adil, termasuk masalah
perceraian. Menurut Tuhan Yesus, seperti tampak dalam jawaban-Nya kepada para
pemimpi Yahudi bahwa perceraian merupakan penghinaan, bahkan penodaan terhadap
lembaga keluarga yang dibentuk dan dibangun oleh Allah sejak semula. Tuhan
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk mempersatukan mereka menjadi
satu daging sebagai suami-isteri. Lembaga keluarga yang Tuhan Allah bentuk,
menurut Tuhan Yesus, tidak boleh diceraikan manusia.
Para pemuda gereja perlu memahami hal ini, agar kelak ketika
mereka kawin dan berkeluarga, mereka tetap menjaga keutuhan lembaga yang
dibentuk Allah dan tidak bercerai. Mereka juga bisa meneladani Tuhan Yesus
dalam hal merekonstruksi aturan dan hukum gereja yang dirasa tidak adil dan
mendiskreditkan.
0 komentar:
Posting Komentar