Kamis, 30 Januari 2014

SBP, Minggu, 12 Januari 2014



Yesus dan Perceraian,
Matius 19 : 4-6.

Salah satu realitas sosial yang menonjol belakangan ini adalah perpecahan dalam rumah tangga yang menyebabkan perceraian antara suami dan isteri. Tidak sedikit suami-isteri Kristen yang memutuskan untuk mengakhiri perkawinan melalui perceraian. Ada yang secara sah bercerai melalui proses dan keputusan pengadilan negeri. Ada pula yang tidak sah karena salah satu – suami atau isteri – pergi meninggalkan pasangan dan keluarga begitu saja dan tidak kembali. Ketika ditanya, “Mengapa terjadi perceraian?” Berbagai alasan dikemukakan. Beberapa di antaranya : a) Salah satu merasa tidak cocok dengan pasangannya, sehingga menimbulkan ketidakharmonisan dalam hubungan; b) Terjadi tindakan kekerasan dalam rumah tangga; c) Perselingkuhan/perzinahan yang dilakukan suami atau isteri dengan orang lain; d) Perkawinan yang berlangsung tanpa cinta-kasih; e) Masalah ekonomi.

Dari dulu sampai sekarang, pemerintah maupun para pemimpin agama berusaha menyikapi masalah perceraian. Berbagai aturan dan hukum dibuat, yang umumnya melegitimasi perceraian. Aturan dan hukum itu juga lebih menguntungkan kelompok yang kuat, termasuk laki-laki dan mendiskreditkan kelompok lemah, yakni perempuan. Para pemimpin Yahudi juga memberlakukan aturan dan hukum seperti itu.

Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus ingin merekonstruksi semua aturan dan hukum agama Yahudi yang menurut-Nya, tidak adil, termasuk masalah perceraian. Menurut Tuhan Yesus, seperti tampak dalam jawaban-Nya kepada para pemimpi Yahudi bahwa perceraian merupakan penghinaan, bahkan penodaan terhadap lembaga keluarga yang dibentuk dan dibangun oleh Allah sejak semula. Tuhan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk mempersatukan mereka menjadi satu daging sebagai suami-isteri. Lembaga keluarga yang Tuhan Allah bentuk, menurut Tuhan Yesus, tidak boleh diceraikan manusia.

Para pemuda gereja perlu memahami hal ini, agar kelak ketika mereka kawin dan berkeluarga, mereka tetap menjaga keutuhan lembaga yang dibentuk Allah dan tidak bercerai. Mereka juga bisa meneladani Tuhan Yesus dalam hal merekonstruksi aturan dan hukum gereja yang dirasa tidak adil dan mendiskreditkan.

0 komentar:

Posting Komentar