Kudusnya Pelayanan,
Imamat 10:6-7.
Kekudusan begitu sentral dalam praktek ibadah bangsa Israel.
Allah menetapkan aturan dengan batasan jelas dan pelaku yang tak boleh
sembarangan. Penyelenggaraan ibadah hanya diberikan kepada orang-orang yang
sudah ditentukan dengan aturan yang mengikat. Tidak ada kebebasan dan
pengecualian. Jika semua diabaikan, hukuman fatal jadi kenyataan. Allah tidak
bermain-main dengan aturan-Nya. Kematian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu
menjelaskan akibat dari tindakan yang melanggar kekudusan Allah.
Ibadah kepada Allah jelas mengandung kekudusan dan
kebenaran. Kita hanya dapat berkenan kepada Tuhan selama kita hidup dalam
pertobatan dan mempraktekkan kasih Kristus dalam hidup dengan sesama.
Keterlibatan keluarga harus semata-mata anugerah Allah dan bukan kesempatan
untuk menyombongkan diri. Kedua anak Harun salah mengartikan panggilan
pelayanan yang dipercayakan Allah dengan bertindak serampangan dan melanggar
kekudusan. Murka Tuhan begitu dahsyat dan tidak terduga sama sekali. Api Tuhan
menghanguskan keduanya. Pelayanan mereka tidak menyenangkan hati Allah sehingga
Allah bertindak menyatakan kedaulatan-Nya. Tanpa rasa takut dan sikap hormat
pada Allah, pelayanan ibadah bisa disamakan dengan perbuatan duniawi yang
sifatnya sekuler. Kematian mereka bukan untuk ditangisi tetapi sebagai pembelajaran agar di kemudian hari siapapun
yang melayani Tuhan berhati-hati dan selalu menghormati kekudusan Allah.
Peristiwa ini mengajarkan kita untuk bertanggungjawab dalam
kerja pelayanan yang sudah diterima dan dipercayakan Allah. Kiranya kita tidak
seenaknya menghindar dari pelayanan gereja sebab alasan kesibukan dan melayani
tanpa persiapan yang mendalam. Sikap anggap enteng dalam pelayanan bukan tanpa
resiko. Allah memperhatikan kesungguhan kita dalam menghormati kekudusan
pelayanan. Jika anak-anak Harun mati terbakar oleh api Tuhan, maka sepatutnya
kita bertobat dan setia melayani dengan berlaku hormat kepada Allah.
0 komentar:
Posting Komentar