Minggu, 11 Mei 2014

SBP, Senin, 12 Mei 2014

Uang tidak menentukan baik buruknya seseorang. Jadi, tidak benar kalau orang kaya selalu diidentikkan dengan orang yang diberkati Tuhan, dan orang miskin selalu dianggap sebagai orang yang dikutuk Tuhan. Betul, Tuhan bisa melimpahi seseorang dengan kekayaan sebagai wujud berkatNya. Tetapi jangan lupa, iblis juga bisa memberi kekayaan asal mau sujud menyembah iblis (Ma. 4:8-9). Bila iblis menawarkan begitu, berarti ia bisa memberikannya.

Keliru kalau kita mengagung-agungkan uang; menganggap uang sebagai yang pertama dan utama dalam hidup. Tapi juga keliru kalau kita menganggap uang sebagai benda jahat dan harus dijauhi. Yang harus dijauhi bukan uangnya, tetapi sikap yang salah terhadap uang, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka" (1 Tim. 6:10). Uang memang penting, tapi bukan yang terpenting. Dalam hidup ini ada banyak hal lain yang lebih penting dari uang. Keluarga, misalanya. Kita boleh punya banyak uang tapi kalau keluarga kita berantakan, hidup kita tidak akan bahagia. Kesehatan juga lebih penting dari uang. Bahkan seandainya pun kita mempunyai segudang uang, tapi kalau tubuh kita rapuh dan sakit-sakitan, kita tidak akan bisa menikmatinya. Hal lain yang lebih penting dari uang adalah martabat, harga diri, kepercayaan orang lain, dan tentu juga iman.

Hidup seumpama perjalanan mengumpulkan bekal untuk keperluan perjalanan selanjutnya. Dalam kaitannya dengan uang; yang akan menjadi bekal bukan berapa banyaknya, tetapi bagaimana cara kita mempergunakannya. Tuhan tidak akan bertanya, berapa banyak uang yang kita miliki; Dia akan bertanya, apa yang sudah kita perbuat dengan uang yang kita miliki.

0 komentar:

Posting Komentar