MENEROPONG KE DEPAN DARI HARI BURUH
Efesus 6:5-8
Basah karena air. Terbakar karena api. Segala sesuatu pasti ada penyebabnya dan segala sesuatu dapat melahirkan suatu akibat. Begitupun dengan Hari Buruh yang dikenal dengan sebutan May Day, ada penyebabnya dan ada akibatnya. May Day lahir dari sebuah perjalanan panjang perjuangan buruh dalam hak-hak industrial yang terkait dengan hak asasi manusia yang dimulai sejak awal abad 19 dengan isu pengurangan jam kerja menjadi 8 jam per hari. Di Indonesia, isunya tentang karyawan kontrak, upah dan hak-hak lainnya. Pemerintah sendiri menghormati hari Buruh dengan menjadikannya sebagai hari libur nasional setiap tanggal 1 Mei.
Menjadi pertanyaan berikutnya, yaitu apa akibat yang diharapkan dari May Day ini? Tentunya terjaganya hak-hak buruh. Peran serta buruh dalam pembangunan tidak dipandang sebelah mata. Peran serta buruh dalam pembangunan menjadi sama penting dengan para pemodal dan pembuat kebijakan. Belajar dari latar belakang lahirnya May Day sepertinya kita harus mengingat kembali hakikat keadilan antara hak dan kewajiban. Keadilan antara hak buruh dengan hak pemberi kerja. Keadilan antara kewajiban buruh dan kewajiban pemberi kerja. Segala sesuatunya bisa saja ada kendala, oleh karena itu kita diberikan oleh Tuhan berupa nurani dan nalar untuk memakai hikmat-Nya.
Semoga saja kita dapat memakai hikmat Tuhan. Bagi kita semua baik sebagai pekerja maupun pemberi kerja, mari kita melakukannya sebagai hamba Kristus yang sedang menuruti kemauan Allah dengan sepenuh hati. Mari kita melakukannya seolah-olah Tuhanlah yang kita layani. Kita patut mengingat bahwa setiap kita baik pekerja maupun pemberi kerja sama-sama mempunyai satu majikan, yaitu Tuhan yang disurga. Ia tidak memandang muka. MAY DAY!!!
0 komentar:
Posting Komentar