Selasa, 27 Mei 2014

SBP, Selasa 27 Mei 2014

Ia Tahu dan Mengawasi,
Amsal 5:21-23.

Dalam suatu proyek pekerjaan pengecoran jalan, seorang mandor mengawasi para tukang yang bekerja agar sesuai dengan perencanaan dan juga waktu yang ditentukan. Namun pada suatu saat sang mandor ada keperluan lain sehingga tidak dapat melakukan pengawasan di lapangan sepanjang hari. Hasilnya para tukang bekerja dengan santai, sehingga baja beton baru terpasang sebagian. Hal itu membuat mandor marah besar, karena para tukang bekerja seperti anak TK. Kalau diawasi rajin, kalau tidak diawasi seenaknya sendiri. Mestinya para pekerja itu, tetap melakukan segala sesuatu sebaik mungkin.
Demikianlah yang diharapkan kepada kita sebagai orang percaya untuk melakukan dan memikirkan hal-hal yang baik, terlebih ketika kita memahami bahwa apapun yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari, Tuhan selalu mengawasi lho perbuatan-perbuatan kita. Hal inilah yang ditekankan oleh bacaan kita, di tengah maraknya perbuatan daging (hawa nafsu) dapam kehidupan umat Tuhan. Inilah yang menjerumuskan mereka ke dalam perangkap dosa. Maka Amsal ini mengingatkan kita, khususnya orang muda, agar tidak terjebak kepada bentuk-bentuk penyimpangan seksual yang nyata-nyata bertentangan dengan kehendak Tuhan. Biasanya penyimpangan seseorang dalam hal seksual berawal dari keinginan hawa nafsu yang tak terkendali, kemudian terungkap dalam tindakan lahiriah. Akibatnya kehidupan menjadi pahit, merasa bersalah, masa depan dan kehormatannya tercabik-cabik.
Saudaraku, Tuhan memang memberi kebebasan kepada kita. Namun dalam kenyataan seringkali disalahgunakan, yaitu untuk kesenangan atau kenikmatan pribadi dan kurang memperhatikan keselamatan jiwa, entah jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain. Salah satu ciri kita memiliki kedewasaan adalah, kita melakukan segala sesuatu yang seharusnya kita kerjakan dengan hasil terbaik. Sebab Tuhan selalu mengawasi dan mengetahui apapun perbuatan kita, sehingga selalu jaga hati dan tindakan kita agar menghasilkan perbuatan-perbuatan yang memuliakan nama-Nya.

Senin, 26 Mei 2014

SBP, Senin, 26 Mei 2014

"Dengan Siapa Kita Bergaul, Itu Penting Lho!"
1 Kor 15:34.

Orang bijak Betawi berkata: "Tunjukkin siape sohib ente, maka ane akan tunjukkin siapa ente sebenarnya." Artinya Sedikit banyak siapa kita ditentukan oleh siapa teman-teman kita, siapa diri kita ditentukan oleh bagaimana lingkungan pergaulan kita, sehingga mudah untuk menerka siapa diri kita, dan ukurannya adalah siapa teman kita dan dengan siapa kita bergaul. Mengapa demikian? Sebab dengan siapa kita bergaul sangat mempengaruhi cara kita berpikir, bersikap dan bertindak. Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.
Jadi yang namanya pergaulan, sangat berpengaruh dalam hidup kita. Maka Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, sebuah jemaat yang cukup besar dan jemaat yang dikaruniai banyak kasih karunia dari TUHAN. Supaya berhati-hati dengan Hedonisme dan pergaulan buruk yang mencakup pergaulan bebas dan perbuatan-perbuatan dosa, supaya segera dibuang dan ditinggalkan. Apa yang Tuhan kehendaki agar kita tidak jatuh dan terjerumus dalam pergaulan yang buruk. Karena pergaulan yang buruk akan merugikan kita. Orang yang setia bisa berubah menjadi tidak setia, orang yang rajin bisa menjadi malas, orang yang biasa melakukan yang baik bisa berubah menjadi pelaku kejahatan dan orang yang hidup benar di mata Tuhan bisa berbalik hidup meninggalkan Tuhan hanya karena pergaulan.

Diakui, entah karena pelarian atau karena pengaruh lingkungan, banyak anak-anak muda yang terjebak dalam pergaulan yang salah. Pergaulan bebas, free sex, pesta miras/alkohol, serta menggunakan narkoba dll yang membawa kehancuran. Meski sering dibahas, tetapi pergaulan buruk terus berkembang. Lalu apa yang mesti kita lakukan sebagai pemuda/i kristiani? Mestinya kita memiliki kebiasaan baik yang selaras dengan tujuan Allah dalam hidup kita? Kita harus tanamkan hal-hal ini dalam hati kita: 1. Mulailah membuat komitmen dengan Tuhan 2. Pisahkanlah dirimu dari hal dosa 3. Tentukan tujuan hidup barumu 4. Berdirilah di atas kebenaran Firman Allah.

SBP, Minggu 25 Mei 2014

Bersatu dan Stop Egoisme!
Yohanes 17:20-21.

Seperti halnya orang tua yang bijaksana ketika mengetahui bahwa saat kematiaanya tidak lama lagi tiba, maka dalam kesempatan yang ada biasanya akan memberikan pesan-pesan atau wejangan terakhir. Karena itu pantas untuk mendapatkan perhatian dan sebisa mungkin dituruti. Tidak jarang kita melihat bahwa isi nasehat yang disampaikan adalah, suatu harapan yang sangat dalam yaitu supaya sepeninggalannya semua anak-anak beserta menantu dan cucu-cucu, hidup dalam kesatuan dan kerukunan. Sebab ada faktor yang sangat potensial penyebab terjadinya konflik bahkan perpecahan dalam keluarga, yaitu masalah pembagian harta warisan. Inilah tentu yang harus dihindari.

Demikianlah harapan Yesus yang sangat dalam kepada murid-muridNya sehingga menjadi bagian dari doa yang diungkapkan Yesus di saat-saat menjelang penangkapan, atau saat kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Ia tidak hanya menegaskan bahwa Ia dan Bapak-Nya adalah satu, tetapi Ia menghendaki agar kita juga satu dengan Tuhan kita (ay 21). Satu dengan Allah berarti: satu dalam kehendak, satu dalam kasih, satu dalam komitmen. Apa yang dikehendaki Allah, juga menjadi kehendak kita. Jangan dibalik: apa yang kita kehendaki, dikehendaki Allah. Demikian juga kesatuan yang dimaksud bukanlah keseragaman atau bahwa semua orang Kristen harus berpikir dan melakukan hal yang sama. Kesatuan justru terlihat dengan baik di dalam keragaman.

Diakui bahwa membangun kesatuan dan kebersamaan dalam persekutuan tidaklah mudah. Setiap kita harus menyangkal diri, atau bagaimana mencegah supaya naluri ego kita tidak menjadi egoisme, yang berdampak salah satunya menjadikan kita manusia EGP. Bukankah dalam kesatuan kita dipanggil agar bersukacita dengan mereka yang bersukacita, menangis bersama dengan mereka yang menangis, dan melayani mereka yang membutuhkan. Rekan-rekan pemuda, kesatuan kita adalah kekuatan. Kesatuan kita bersama dalam GP ini sesungguhnya merupakan kekuatan yang memelihara keber-imanan dari ancaman dunia ini.

SBP, Sabtu 24 Mei 2014

Umat Berdoa Bagi Gereja,
Roma 16:19-20.

Jemaat Yahudi di Roma telah menjadi Kristen oleh peristiwa Pentakosta di Yerusalem (Kis 2:7-11+41). Namun belum ada rasul yang membinanya sebagai persekutuan Kristen. Rasul Paulus melaksanakan misi pekabaran Injil ke Roma agar menjangkau pembinaan jemaat di Roma, dan diharapkan jemaat berbuah sebagaimana jemaat lainnya (Roma 1:13).

Dalam bacaan hari ini, rasul Paulus mengungkapkan sukacitanya karena ia telah memenuhi target misinya. Karena itu harapan dan doanya adalah supaya  jemaat di Roma memancarkan kesaksiannya. Kesaksian adalah memberitakan hidup dalam Yesus yang penuh kasih, pengampunan dan pembaruan untuk menjadi manusia baru yang bersih dari segala yang jahat di dunia ini. Paulus menutup pesannya dengan ucapan berkat bagi jemaat. Dalam berkat itu ia memeteraikan masa depan kemenangan gereja bahwa iblis akan dihancurkan Allah dan diletakkannya di bawah kaki jemaat. Dengan itu, gereja di Roma akan tetap berdiri dalam segala zaman.

GP-ers yang dikasihi Tuhan, setiap hamba Kristus yang diutus untuk membina dan menggembalakan jemaat Tuhan di manapun, tidak akan pernah pergi begitu saja. Mereka selalu meninggalkan doa dan berkat Allah bagi jemaat. Mereka berharap jemaat akan berkembang dan menjadi terang yang membawa keselamatan bagi lingkungannya. Gereja harus menjadi berkat sampai Tuhan datang. Oleh karena itu, sebagai warga gereja janganlah kuatir bila di gereja terjadi masalah besar yang merisaukan. Itu pertanda bahwa iman gereja sedang diuji untuk menjadi kritis agar bisa tetap eksis di tengah masyarakat. Berdoalah kepada Tuhan bagi gereja-Nya dalam menyelesaikan masalahnya. Tuhan sebagai pemilik gereja akan campur tangan. Dengan kuasa-Nya Ia akan mengatasi kerisauan itu dengan keajaiban yang mengherankan kita semua.

SBP, Jumat, 23 Mei 2014

Jangan Munafik,
Yesaya 1:15-20.

Israel sesungguhnya umat pilihan Allah untuk menjadi saksi dan membawa berkat Tuhan bagi dunia ini. Nyatanya Israel malah hidup dalam dosa yang merendahkan kemuliaan Tuhan dan dinista segala bangsa waktu itu. Allah merencanakan perhitungan dengan Israel berupa penghancuran dan pembuangan ke Babel.

Dalam bacaan hari ini, sebelum Allah melaksanakan penghukuman itu, Ia masih memberi kesempatan kepada Israel. Firman Tuhan mengingatkan Israel untuk bertobat dan menerima keselamatan. Firman Tuhan mengingatkan Israel untuk bertobat dari kejahatannya, melakukan pembaruan hidup, menjadi orang yang memiliki hati nurani yang berbelas kasih dengan melakukan keadilan, membela hak anak yatim-piatu dan memperjuangkan perkara para janda. Allah menjamin kepada Israel bahwa oleh perubahan itu Allah akan memberikan anugerah pengampunan dan pengudusan bagi Israel. Untuk meyakinkan bahwa Allah bersungguh-sungguh, Allah memeteraikan peringatak kepada Israel itu dengan berkat dan penghukuman. Jika mendengar dan merespon, mereka akan diberkati dengan kelimpahan. Bila tidak merespon akan terima hukuman Allah, mereka dimusnahkan dengan pedang musuh. Sejarah mencatat bahwa Israel tetap keras kepala dan menerima hukuman. Israel ditaklukkan oleh Kerajaan Babel dengan pertumpahan darah, lalu dibuang ke Babel setimpal dengan dosa mereka. Di Babel baru ada keluhan dan penyesalan (bacalah Maz 137).

GP-ers yang terkasih; Allah itu baik dan penuh pengasihan dan mau mengerti kelemahan umat-Nya serta mengampuninya. Roh Kudus yang Tuhan curahkan di hati kita sering membuat hati kita sadar akan kesalahan kita, tetapi kita berkeras untuk bertobat atau mengampuni. Berurusan dengan Tuhan bukanlah seperti dengan manusia, siapa kuat dia menang. Tuhan Yang Mahakuasa peringatan-Nya adalah kesempatan. Bertobat lebih baik dari pada hidup dalam kemunafikan.

SBP, Kamis, 22 Mei 2014

Nyanyian Rindu Umat,
Mazmur 42:7-12.

Mazmur sebenarnya adalah suatu curahan isi hati melalui nyanyian, dengan menggunakan iringan alat musik petik (dulu: kecapi, gambus, dsb). Sekarang alat musik petik yang populer adalah gitar. Dengan ditemani gitar, seseorang bisa bermazmur mencurahkan isi hatinya dalam nyanyian yang gembira atau sedih kepada Tuhan.

Bacaan kita hari ini, pemazmur mengungkapkan bahwa ia adalah umat Allah yang hidup di perantauan dan menderita, sehingga ia curhat kepada Tuhan bahwa ia rindu kepada Tanah Perjanjian Allah yang ditinggalkannya. Karena imannya berbeda dengan orang-orang di masyarakat, ia tidak disukai dan ditekan. Banyak orang mencemoohnya dan menjadi musuhnya. Ia merasa tertekan dan seakan Tuhan melupakannya dan tidak menolongnya. Namun dalam hatinya ia tetap percaya dan berharap kepada Tuhan bahwa Tuhan adalah Allahnya yang akan datang menyatakan pertolongan-Nya.

GP-ers yang dikasihi Tuhan. Saat di tanah rantau, keadaan kita sering tidak lebih baik dan mengalami banyak masalah pelik. Di perantauan kita tidak kenal siapa-siapa sebagai teman atau saudara dalam Tuhan, yang bisa mengajak kita beribadah pada suatu lingkungan jemaat yang baru. Akhirnya kita tidak pernah bersekutu dan iman kita goyah ketika menghadapi masalah kehidupan, termasuk memilih pacar, gadis atau pemuda idaman yang tidak seiman. Iman merupakan perkara yang sensitif bagi lingkungan dan pergaulan di mana kita merantau. Bisa terjadi reaksi yang menolak terhadap kita. Sebagai umat Allah diperantauan, adakah jiwa kita rindu untuk beribadah dengan sukacita kepada Allah? Keselamatan ditentukan oleh iman kita masa kini. Berfikirlah: nanti bagaiman? Bukan, bagaimana nanti saja! Melalui Mazmur ini, pemazmur mengajak kita merenungi masa depan dan nasib kita sebagai perantau.

SBP, Rabu, 21 Mei 2014

Fasik dan Bodoh,
Amsal 10:20-21.

Kitab Amsal boleh disamakan dengan pepatah, atau ucapan bijak yang berhikmat. Isinya merupakan panduan hidup atau teladan bagi penggemarnya agar menjadi orang yang berhasil. Pokok yang dibicarakan bermacam-macam tentang: orang malas, kemiskinan, kerajinan, kekayaan, raja, perempuan, anak-anak, dsb.
Bacaan kita pada hari ini, mengenai orang benar dan orang fasik. Kata fasik berasal dari kata Arab : al-fisk, yang artinya melanggar norma atau peraturan dan hukum. Orang fasik selalu keluar dari jalur kebenaran. Menurut Amsal 10:20, orang benar itu pemikirannya cemerlang. Diumpamakan seperti perak pilihan. Apabila dibakar, semakin nyata mutunya. Artinya pandangan orang benar itu bisa diuji kebenarannya, menjadi arahan hidup yang membawa ketentraman. Sementara pemikiran orang fasik sedikit nilainya, nilai adalah makna atau manfaatnya. Karena lebih banyak tidak benarnya dan menyimpang dari norma yang baik. Pemikiran mereka sangat beresiko pelanggaran dan mencelakakan. Pada ayat-21, orang fasik disejajarkan dengan orang bodoh, kurang pengetahuannya yang baik dan pendapatnya tidak bisa diharapkan dapat memberikan jalan keluar.

GP-ers yang dikasihi Tuhan, menjadi orang benar atau orang fasik bukan disebabkan oleh faktor keturunan. Penyebabnya ialah sikap hati dalam pergaulan. Seorang pemuda bisa menjadi fasik, jika ia membiasakan diri mengikuti sifat egois yang mau menang sendiri dan cemburu pada kesuksesan orang lain. Dia akan bertindak di luar kendali/kontrol. Kekristenan mengajarkan kita hidup berdasarkan firman Tuhan, sebab firman Tuhan itu merupakan kendali kelakuan kepada kebenaran dan suluh bagi jalan menuju hidup bahagia dalam anugerah Tuhan. GP-ers jauhilah kefasikan, sebab kefasikan itu adalah hidup yang menyimpang dari harapan sesama dalam pergaulan yang rukun dan damai.

SBP, Selasa, 20 Mei 2014

Solider Terhadap Sesama,
Roma 12:1-2.

Hari ini, tanggal 20 Mei merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, yakni peringatan Hari Kebangkitan Nasional Indonesia. Pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo, sebagai akibat tumbuhnya semangat nasionalisme (kebangsaan). Mulanya Budi Utomo bertujuan meningkatkan kesejahteraan bangsa, kemudia merubah perjuangannya untuk mencapai Indonesia Merdeka (dari penjajahan Belanda). Karena penjajahan tidak sesuai dengan peri-keadilan dan kemanusiaan.

Berkenaan dengan itu, dalam bacaan kita pada hari ini rasul Paulus mengingatkan kita untuk menjadi manusia baru dalam Kristus yang hidup menurut kehendak Allah. Bukan menjadi serupa dengan dunia yang penuh nafsu yang pada akhirnya terseret dalam kejahatan.
Peringatannya itu penting bagi kita, karena dalam era Indonesia yang merdeka ini ternyata telah terjadi suatu kehidupan yang bertentangan dengan tujuan kemerdekaan. Yang pandai dan kuat hidup bahagia atas penderitaan yang lemah. Dalam hidup manusia Indonesia masa kini dirasakan bahwa terjadi penjajahan oleh bangsa sendiri yang lebih kejam daripada penjajahan bangsa asing. Tenaga kerja murah menjadi budak majikan, yang harus kerja keras untuk mencapai target yang dikehendaki untuk menjadikannya konglomerat terkaya. Konglomerat tetapi mengabaikan prinsip perburuhan Pancasila yang memperjuangkan kesejahteraan buruh sebagai penggerak perekonomian Indonesia.

GP-ers yang dikasihi Tuhan, jadilah pemimpin masa depan yang berhati nurani. Berpegang pada prinsip kesetaraan dan keadilan. Tolak suap yang membutakan hati nurani dan membiarkan penderitaan berlangsung terus. Jadilah pemimpin yang peduli pada kemajuan dan keadilan, solidaritas kepada yang lemah dan membela kesejahteraannya. Bukan menjadi pendemo bayaran yang hanya memikirkan perut sendiri saja tetapi membuat kemacetan, tersendatnya transportasi dan akhirnya berujung pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat.

SBP, Senin,19 Mei 2014

Tulus dan Jujur,
Kis 5:9-11.
Safira adalah isteri Ananias. Suami isteri ini telah sepakat untuk berbohong kepada para rasul mengenai hasil penjualan tanah mereka, yang akan diamalkan untuk pelayanan kasih. Nampaknya, mereka tidak tulus dan tidak jujur, hanya memikirkan perut sendiri bukan pro solidaritas. Dengan PeDe, Safira menjalankan niat berdusta kepada para rasul Tuhan.
Bacaan hari ini, mengungkapkan bahwa Safira meletakkan hasil penjualannya di kaki para rasul untuk didoakan dan dibagikan. Rasul Petrus mengenal Safira sebagai isteri Ananias dan menegur perbuatannya: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan ?" (Ayat-9) Benar kata rasul Petrus - berdusta kepada para rasul Tuhan yang dipenuhi oleh Roh Kudus untuk melayani pekerjaan Tuhan adalah mencobai Roh Tuhan yang menuntun para rasul itu. Mendustai Roh Kudus karena pementingan diri sendiri, menunjukkan bahwa iman belum tentu milik orang yang rajin ke persekutuan. Iman hanya akan menjadi miliknya bila sungguh bertobat dan menjadi manusia dalam Tuhan. Safira terkejut bahwa para rasul mengetahui perbuatannya. Ia merasa malu dan ketakutan, sehingga barangkali ia kena serangan jantung mendadak dan mati. Ananias dan Safira mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan ketidak tulusan dan ketidak jujurannya demi kepentingan sendiri yang bertentangan dengan kehendak Roh Kebenaran yang selama ini memimpin mereka dalam persekutuan.

GP-ers yang terkasih, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan menuntut pertobatan dari nafsu dan memasuki pembaruan. Roh Kudus yang dicurahkan Tuhan Yesus di hati kita selalu menghendaki agar hidup baru kita berbuahkan kebenaran, ketulusan dan kejujuran.
Berpura-pura dalam tuntunan Roh Kudus adalah menghujat Roh Kudus, suatu perbuatan melawan kebenaran yang sangat fatal.

Sabtu, 17 Mei 2014

SBP, Minggu, 18 Mei 2014

Bertumbuh dalam Persekutuan,
Kisah 2:44-47.

Kita tidak dapat melihat serbuk besi di antara pasir. Tetapi kalau kita taruh pasir itu di atas kertas dan dibawah kertas itu kita tempelkan besi magnet, maka serbuk besi akan diinduksi oleh magnet saling tarik menarik dan berdiri tegak dengan rapat. Lalu pasirnya bisa dibuang, tinggal serbuk besi yang murni.

Dalam bacaan hari ini, diungkapkan bahwa orang percaya sebagai gerwja bersekutu di sekitar firman Tuhan. Firman menumbuhkan dan mendewasakan iman gereja serta membentuk kepribadian baru orang percaya. Roh kudus bekerja dan menuntun hidup mereka dengan hikmat Tuhan. Mereka hidup bersatu, saling peduli san mengorbankan hartanya untuk pelayanan kasih (ay 44-45). Setiap hari mereka berkumpul di Bait Allah untuk memuliakan Allah dan menyambut Firman sebagai pedoman kehidupan. Mereka tampil dengan cara hidup baru, dengan gembira dan tulus hati secara bergilir dirumah masing-masing mengadakan jamuan kasih (ay 46a). Mereka bagaikan cahaya terang di tengah kegelapan pada waktu itu.
Karena itu mereka disukai banyak orang, seperti terinduksi magnet, tiap-tiap hari jumlah mereka bertambah dengan orang-orang yang diselamatkan (ay 47). Gereja berkembang pesat dan menjadi besar melalui misi pelayanan kasih/sosial terhadap masyarakat.

GP-ers yang terkasih, hari minggu ini kita belajar dari kehidupan gereja pertama yang dipimpin oleh para rasul Tuhan. Kesetiaan bersekuty di sekitar firman Tuhan mengarahkan hidup baru kita semakin sempurna. Kisah itu mengajar kita untuk meneruskan misi injil sosial, untuk membantu orang susah yang disebabkan oleh kemiskinan. Kemiskinan sering kali merupakan penghambat bagi banyak orang untuk mengikut Tuhan. Dengan mengatasi kesusahannya, hati mereka akan terbuka untuk mengerti makna keselamatan.

Jumat, 16 Mei 2014

SBP, Sabtu, 17 Mei 2014

Menjadi Teladan,
Efesus 5:15-16.

Mahatna Gandhi, sudah pernah begitu dekat dengan Kristus. Ketika ia ditembak mati, di sakunya ada secarik kertas yang isinya adalah khotbah Yesus di Bukit. Ia mengatakan bahwa Yesus adalah teladan di dalam perjuangannya. Tetapi sampai ia mati ia dengan sadar menolak untuk menjadi Kristen. Mengapa? Bukan karena apa yang dikhotbahkan oleh orang-orang Kristen, terutama di Afrika Selatan, tetapi karena apa yang mereka perlihatkan melalui tingkah-laku mereka.

Ayat 15 dan 16 menggambarkan keteladanan sebagai hidup, saat orang tidak menjalani hidupnya sebagai orang yang bebal, tetapi sebagai orang arif dan yang dapat mempergunakan waktu yang Tuhan sediakan dengan bijak. Kearifan dan kebijaksanaan dalam bersikap bisa nampak dalam sikap hidup dimana semua orang dapat hidup damai, rukun, harmonis. Tidak saling benci, saling dengki, saling iri, saling mendepak. Hidup ketika yang kuat tidak menindas yang lemah, yang kaya tidak memakan yang miskin, yang pintar tidak mencurangi yang bodoh, yang berkuasa tidak menekan rakyat kecil. Keteladanan itu nyata, tidak hanya dalam omongan yang muluk-muluk, tetapi dalam perbuatan, dalam tindakan nyata (bdk ay. 17 dyb). Lebih lanjut Paulus juga mengingatkan untuk mempergunakan waktu yang Tuhan berikan dengan semakimal mungkin. Artinya jangan sampai ada hari yang terlewatkan untuk menyatakan kebaikan dan menjadi teladan bagi orang lain.

Sebagai amggota GP baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, harus mampu menjadi teladan, menjadi contoh, menjadi panutan-tidak cuma menjadi sorotan. Sebagai orang Kristen dan AGP diajak untuk menyadari tugas keteladannya di tengah-tengah masyarakat, sehingga tidak menjadi beban atau batu sandungan melainkan menjadi berkat melalui sikap hidup yang arif.

Kamis, 15 Mei 2014

SBP, Jumat, 16 Mei 2014

Rumah Tuhan,
Hagai 1:9-11.

Tanpa disadari, kehidupan manusia dipenuhi dengan kegiatan membangun. Kegiatan membangun tidak hanya secara fisik, manusia berusaha untuk membangun karir dari nol hingga mencapai kesuksesan. Kita berusaha keras membangun reputasi dan citra baik agar orang lain menghormati kita. Kita juga berusaha menbangun kekuatan finansial yang kokoh. Kita terus sibuk membangun dan membangun kehidupan kita sehingga kita melupakan satu pembangunan yang seharusnya juga menjadi fokus kita yaitu pembangunan rumah Tuhan.
Pasca Pembuangan, Israel mempunyai prioritas untuk membangun Bait Suci. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah adanya sikap pro dan kontra dari rakyat Israel mengakibatkan pekerjaan pembangunan Bait Suci terhenti selama 16 tahun lamanya. Bukan hanya sikap pro dan kontra, tetapi mentalitas dan gaya hidup Umat Israel, sepertu: sibuk dengan kepentingan diri sendiri, adanya kelesuan rohani yang mengakibatkan umat Israel bersikap acuh tak acuh terhadap pembangunan Bait Suci. Dampak kelalaian pembangunan Bait Suci mengakibatkan kehidupan sosial-ekonomi Israel tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tuhan menegur dengan keras orang-orang yang melupakan pembangunan rumah Tuhan karena sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Rumah Tuhan bukan hanya menjadi urusan pelayan Tuhan ataupun warga jemaat dewasa, namun adalah kewajiban setiap orang percaya termasuk AGP. Itulah sebabnya mengapa kita seringkali mengalami keadaan "pundi-pundi yang berlobang".
Yang terpenting dari hal ini adalah keseimbangan. Bekerja keras adalah kehendak Tuhan dalam hidup kita, namun demikian jangan biarkan kesibukan itu menggeser hal terutama dalam hidup kita yakni "memperhatikan rumah Tuhan". Ketika bangunan rumah Tuhan kuat, percayalah kita akan selalu dapat menikmati buah pekerjaan kita dengan rasa syukur.

Rabu, 14 Mei 2014

SBP, Kamis, 15 Mei 2014

Nama Tuhan,
Kejadian 27:20.

Ambisi adalah hasrat yang kuat terhadap sesuatu. Sesuatu itu bisa apa saja -kekuasaan, ketenaran, kekayaan, pangkat, jabatan, dll. Namun apapun itu, ambisi adalah dorongan yang memotivasi orang untuk mengejar apa yang mereka inginkan. Tergantung pada apa sasarannya, ambisi itu bisa baik maupun buruk. Untuk mewujudkan ambisinya tidak jarang orang rela menghalalkan berbagai macam cara, termasuk memakai nama Tuhan.

Kisah ini menggambarkan bagaimana untuj mewujudkan ambisinya, Ribka bersama Yakub memakai segala cara untuk mengelabui Yakub demi mendapatkan dan merebut hak kesulunhan yang seharusnya diberikan kepada Esau. Bahkan Yakub sampai mengucapkan nama Tuhan demi melancarkan ambisinya. Mengucapkan nama Tuhan dengan sembarangan adalah lebih daripada mengutuk. Itu sama saja dengan tidak menghargai nama Allah. Itu sama saja dengan mengejek Allah, menghinaNya ketimbang memperlihatkan sikap hormat kepada-Nya. Ada lebih dari satu cara untuk menghinakan nama Allah. Setiap kali kita membicarakan Allah dengan cara yang tidak terhormat, kita menghina-Nya. Setiap kali kita melakukan hal-hal yang tidak kudus dengan memakai nama Tuhan, kita mempermalukan nama Allah.
Tuhan menuntut kita untuk serius dalam berkata-kata mencerminkan kekudusan dan kemuliaan-Nya. Menurut Amsal 6:16-19. 'Enam perkara ini dibenci Tuhan, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya; mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara". Karena itu, jangan asal bicara! Berbicara memang gampang. Tinggal membuka mulut. Tapi akibatnya itu lo!

Selasa, 13 Mei 2014

SBP, 14 Mei 2014

Terlihat Seluruhnya,
Amsal 5:21-23.

Tak ada gunanya berpura-pura di hadapan Allah! Tak ada yang tersembunyi dari-Nya. Ia mengetahui segala yang anda pikirkan, katakan, dan lakukan. Anda bisa saja menyembunyikan hal-hal dari orangtua, guru, teman anda. Mereka tidak dapat membaca pikiran anda, dan anda dapat menyembunyikan perbuatan-perbuatan anda dari mereka. Anda mungkin saja berpura-pura sehingga mengecoh semua orang yang anda jumpai. Sekali-sekali, anda bisa saja menghibur diri denhan pikiran: untung tak seorangpun tahu seperti apa aku sebenarnya. Betapa leganya bahwa tak seorangpun tahu apa yang kupikirkan atau kurasakan. Jangan terlalu yakin!

Jika anda menyembunyikan dosa anda, Allah melihatnya. Tidak ada gunanya untuk mencari-cari alasan mengapa anda melakukannya: Ia juga tahu motif-motif anda. Sungguh menghibur mengetahui bahwa Alah selalu mengawasi anda untuk melindungi serta membimbing anda. Namun kadang-kadang juga terasa mengganjal hati mengetahui bahwa Ia melihat segalanya yang anda lakukan jelas. Nasehat ini ditujukan bagi orang muda berkaitan dengan pergaulan yang tidak bermoral dengan perempuan pelacur. Tuhan bukan saja mengetahui, tetapi juga mengawasi dalam arti menimbang dan mengadili serta menyatakan hukuman atas tingkah laku yang buruk. Pergaulan yang menyesatkan ini tergolong kejahatan, tindakan orang fasik yang berdosa, yang akan menjadi malapetaka baginya. Malapetaka yang akan menimpa si orang bodoh, yaitu maut. Makna kata "maut" bukan saja berarti "umur yang pendek", tetapi juga "hidup penuh kekurangan dan kesusahan".

Lain kali anda perlu mempertimbangkan sesuatu yang anda tahu tidak benar. Ingatlah bahwa ada yang melihatnya. Sebelum anda melakukan sesuatu yang anda rasa tidak benar, tanyakanlah kepada diri sendiri, apakah aku mau Allah melihatku melakukannya? Karena Ia selalu mengawasi.

SBP, Selasa, 13 Mei 2014

Bersedia Menderita,
2 Timotius 2:1-7.

2 Timotius 2:3 mengatakan, "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus". Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk ikut menderita bersama Kristus dan untuk Kristus. Karena itu sering dikatakan, kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi pemberita injil, tetapi juga untuk menjadi penderita injil. Ayat 9 dari 2 Timotius 2 berkata,"karena pemberitaan injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat.

Dipanggil tidak hanya menjadi pemberita, tetapi juga untuk menjadi penderita. Pertanyaannya adalah: kok mau-maunya? Kalau dipanggil untuk pesta, siapa yang tidak mau? Dipanggil untuk menerima hadiah, semua orang mau. Tetapi kalau dipanggil hanya untuk menderita siapa yang mau? Kerahu-raguan inilah yang melahirkan antara lain ajaran Injil sukses itu ! Siapa yang tertarik kalau orang dipanggil untuk menderita? Tetapi kalau dipanggil untuk sukses-asal percaya, sakit penyakit akan hilang, persoalan akan lenyap, masa depan terang benderang!- siapa yang tidak mau? Mengikut Yesus jelas bukan dijanjikan hidup yang sukses, gampang, enak, segala sesuatu beres! Ini perlu ditekankan karena ada kekuatiran : keadaan orang Kristen yang semakin lama semakin sulit. Tantangan semakin besar. Oleh karena itu, kita harus menjadi orang Kristen yang gigih, yang kuat, yang ulet, yang tahan banting ! atau kita akan tersisih dan bukan tidak mungkin tersapu bersih !
Orang Kristen itu bukan orang yang menikmati penderitaan. Namun kalau demi iman kita harus menderita, jangan lari ! Mengapa? Dalam surat 2 Korintus 4:17, Paulus menulis "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami". Setialah sampai akhir!

Minggu, 11 Mei 2014

SBP, Senin, 12 Mei 2014

Uang tidak menentukan baik buruknya seseorang. Jadi, tidak benar kalau orang kaya selalu diidentikkan dengan orang yang diberkati Tuhan, dan orang miskin selalu dianggap sebagai orang yang dikutuk Tuhan. Betul, Tuhan bisa melimpahi seseorang dengan kekayaan sebagai wujud berkatNya. Tetapi jangan lupa, iblis juga bisa memberi kekayaan asal mau sujud menyembah iblis (Ma. 4:8-9). Bila iblis menawarkan begitu, berarti ia bisa memberikannya.

Keliru kalau kita mengagung-agungkan uang; menganggap uang sebagai yang pertama dan utama dalam hidup. Tapi juga keliru kalau kita menganggap uang sebagai benda jahat dan harus dijauhi. Yang harus dijauhi bukan uangnya, tetapi sikap yang salah terhadap uang, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka" (1 Tim. 6:10). Uang memang penting, tapi bukan yang terpenting. Dalam hidup ini ada banyak hal lain yang lebih penting dari uang. Keluarga, misalanya. Kita boleh punya banyak uang tapi kalau keluarga kita berantakan, hidup kita tidak akan bahagia. Kesehatan juga lebih penting dari uang. Bahkan seandainya pun kita mempunyai segudang uang, tapi kalau tubuh kita rapuh dan sakit-sakitan, kita tidak akan bisa menikmatinya. Hal lain yang lebih penting dari uang adalah martabat, harga diri, kepercayaan orang lain, dan tentu juga iman.

Hidup seumpama perjalanan mengumpulkan bekal untuk keperluan perjalanan selanjutnya. Dalam kaitannya dengan uang; yang akan menjadi bekal bukan berapa banyaknya, tetapi bagaimana cara kita mempergunakannya. Tuhan tidak akan bertanya, berapa banyak uang yang kita miliki; Dia akan bertanya, apa yang sudah kita perbuat dengan uang yang kita miliki.

SBP, Minggu, 11 Mei 2014

Pilihan Iman,
Matius 22 : 15-22.

Dalam hidup ini kita tidak pernah lepas dari suatu pilihan. Suatu keputusan yang harus dipilih dengan mengatakan "ya" atau "tidak". Persoalannya menjadi lebih sulit jika pilihan yang ada bukan hanya yang bersifat dualitis-dikotomis, baik-buruk, atau benar-salah. Namun jika apa yang ada di hadapan kita sama-sama baik atau sama-sama buruk, kita ditantang memilih mana yang lebih baik di antara yang baik atau yang lebih sedikit bernilai buruk di antara yang sama buruk.
Kisah di mana Yesus dicobai dalam soal membayar pajak (Mat 22:15-22), mengajak kita untuk mampu bersikap bijaksana dalam suatu pilihan. Yesus tidak langsung menjawab persoalan itu dengan hanya melihat secara benar-salah, baik-buruk, persoalan surgawi-duniawi; melainkan Ia mengajak orang untuk menempatkan perkara yang ada secara bijaksana dan ditempatkan pada porsinya yang sesuai. Arahnya pada kebaikan bersama. "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisan dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" (ayt. 21). Yesus ingin mengatakan bahwa Allah telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; kalau uang yang menunjukkan gambar Kaisar harus dikembalikan kepada Kaisar, pastilah manusia yang menunjukkan gambar Allah, wajib memperhambakan dirinya kepada Tuhan karena Tuhan lebih tinggi daripada Kaisar. Jelas bahwa menurut Yesus kewajiban terhadap Tuhan merupakan kewajiban yang tertinggi.

Bersama Yesus kita belajar melihat pilihan dalam hidup ini bukan sebagai kebebasan dari peraturan, kewajiban dan tanggungjawab tetapi kita ditantang untuk mampu bersikap mengembangkan kebebasan sesuai dengan ukurannya. Selain itu, kita pun ditantang untuk memiliki keterbukaan dalam menempatkan segala perkara duniawi demi kepentingan bersama dan terarah kepada kemuliaan Allah.

SBP, Sabtu, 10 Mei 2014

Ideku Baik, Belum Tentu Baik Bagi Tuhan,
Yeremia 29:11-13.

Aldrich ponakan saya saat sedang belajar berjalan, berpegang pada meja makan dan senang menarik taplak tersebut. Sedikit demi sedikit sambil tertawa kegirangan, ia pun bertambah semangat menarik taplak itu. Saya bergegas mengambil Aldrich dan melepaskan genggaman tangannya dari taplak meja. Ia menangis sebab ia merasa terganggu. Aldrich tidak tahu bahwa ia sedang menarik taplak meja itu beserta barang-barang diatasnya. Bila sedikit terlambat barang pecah belah tadi menimpa dan mencelakakannya.
Pernahkah GP-ers merencanakan sesuatu untuk masa depan dalam study, kerja atau rencana lainnya dan tiba-tiba terjadi sesuatu peristiwa dimana impikan itu gagal total dan Anda harus memulai semuanya dari awal? Anda sedih dan mempertanyakan pada Tuhan, mengapa semuanya bisa gagal padahal sudah dibawa dalam doa? Tidak selamanya rencana atau ide baik kita sejalan dengan rencana Tuhan yang sempurna. Kalau pun rencana kita tidak sebagaimana yang kita impikan, ingatlah selalu bahwa Tuhan merupakan Bapa yang penuh kasih. Ia tahu apa yang akan terjadi. Bila itu membahayakan kita maka Ia akan segera turun tangan menyelamatkan kita dari mara bahaya. Pembuangan ke Babel adalah final, Yeremia meyakinkan umat di pembuangan untuk menerima situasi mereka dengan percaya bahwa hal itu adalah rancangan damai sejahtera Allah untuk mereka bukan rancangan mencelakakan. Hanya dengan menerima ajaran Allah untuk menuntun mereka kepada pertobatan, mereka dapat kembali merasakan tangan kasih dan penyertaan-Nya.
Janji pemulihan bagi kita akan digenapi oleh Tuhan, jika kita setia datang mencari wajahNya, berseru kepadaNya dalam doa dan setia berada di dalam hadiratNya. Masa depan yang penuh harapan dan rancangan damai sejahtera telah disediakan bagi kita.

SBP, Kamis, 8 Mei 2014

Musim Kehidupan,
Amsal 10:5.

Di Indonesia dikenal ada dua musin, musim hujan dan musim kemarau. Terkecuali musim panen buah-buah yang sangat banyak macamnya. Berbeda dengan musim yang ada di negeri lain, musim semi, musim gugur, musim dingin dan musim panas. Meskipun hanya dua musim tapi akhir-akhir ini malah membuat penduduk dan pemerintah kita gelisah dibuatnya. Musim kemarau yang sangat lama, atau musim hujan yang menyebabkan banjir sampai banjir bandang. Apakah sebabnya? Banyak hal yang menyebabkan hal-hal tersebut terjadi.
Demikian jugalah kita. Segala musin dlam kehidupan kita akan menjadi indah kalau kita sadar di musim apa kita berada dan siap menghadapinya. Apakah GP-ers sadar sedanh berada di musim kehidupan yang bagaimana GP-ers sekarang ini? Kalau kita menyadarinya dan siap dengan musim yang sedang kita hadapi saat ini, maka kita akan bisa menghadapinya dengan baik. Kalau saat ini kita sedang menantikan janji Tuhan, maka kita bisa lebih sadar dalam menantikan janji Tuhan itu, sehingga masa penantian itu menjadi indah. Kalau saat ini kita sedang berada di masa kesempatan, maka kita tidak akan bersantai ria, tapi kita akan berjuang dengan segenap kekuatan untuk menangkap kesempatan yang ada, sehingga kita mengalami kemajuan yang pesat.

Kalau saat ini kita sedang berada di masa kehilangan dan percaya bahwa Tuhan sedang mempersiapkan yang lebih baik, maka kita akan kuat menghadapi masa kehilangan ini, bahkan tanggap dalam menerima berkat baru yang lebih baik. Biarlah mata roh kita terbuka dan bisa memahami di musim apa kita berada sekarang ini, sehingga kita bisa meresponi dengan benar, dam mengalami anugerah Tuhan yang besar dalam hidup kita.

SBP, Rabu, 7 Mei 2014

Belajar Sederhana,
Roma 12:16.

"Jelas saja Mama dan Papa beda zaman" jawab seorang anak manja kepada orang tuanya pada saat diceramahi akan kebiasaan hidup high teknologi bahkan pada saat makan bersama keluarga ia tidak bisa lepas dari gadget yang dimilikinya. Kehidupan moderen saat ini jika tidak disikapi dengan benar maka akan menjerumuskan kita pada pola hidup yang tidak sesuai kehendak Allah Modernisasi banyak menawarkan beragam pola hidup yang pada esensinya adalah kesenangan sementara.
Ada banyak hamba Tuhan yang tidak lagi antusias melayani dikarenakan tergiur pola hidup mewah padahal manusia disekelilingnya memerlukan terang berita Allah . Seorang hamba yang sejati pastilah meneladani kesederhanaan Yesus serta cinta kasihNya pada tiap orang tanpa pandang bulu. Pribadi hamba sejati bukan mencerminkan kepongahan, kebencian, serta sifat pemuja materi. Pantas memang jika kita kecewa apabila mendapati atau menemukan hamba Tuhan yang tak lagi mencerminkan teladan Kristen. Rasul Paulus mengatakan, "Arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana" (Roma 12:16). Jika kita hidup menuruti kesederhaan Yesus maka disitulah sebenarnya kita dikehendaki Allah.
Memang sikap yang diperintahkan dalam nats ini, di mana kita mengabaikan orang kecil, sangat sulit bagi manusia di luar Kristys, tetapi jutru merupakan wujub pembaharuan pikiran yang dikerjakan oleh Roh Allah. Dengan mudah sekali kesombongan yang dilarang dalam nats ini merusak kesatuan jemaat dan sikap saling menghargai yang mutlak diperlukan untuk merealisir pemakaian karunia-karunia rohani secara efektif. Jangan sampai menyakiti Allah atas perbuatanmu. Hiduplah sesuai kesederhanaan Yesus, saling mengasihi, melayani Tuhan, bersukacita senantiasa, sabar dan tekun dalam doa.