Selasa, 19 November 2013

SBP, Kamis 7 Nopember 2013

Mengasihi Musuh,
Amsal 24:17-18.

Amsal berbicara bahwa kasih kepada sesama tidak boleh bersyarat. Jika kita hanya mengasihi mereka yang baik dan sepaham dengan kita, maka dengan mudah kita mencela setiap lawan yang berseberangan dengan kita. Jika saudara termasuk orang yang kurang dalam segalanya, bukan berarti kehidupan beriman saudara sebangun dengan kehidupan sosial dan intelektual yang minim itu. Saudara bisa memiliki nilai lebih yang positif dan mendatangkan berkat Tuhan dengan tetap mengasihi siapapun orang di sekitar hidup saudara. Tuhan Yesus mengajarkan oerkara yang sama: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44). Tindakan demikian ini bukan perbuatan biasa. Ada karya Tuhan ketika seseorang mengasihi musuh dan berdoa bagi orang itu. Tuhan memperhatikan sikap iman seperti itu. Bergembira ketika musuh jatuh, bukan sikap orang yang beriman yang berkenan bagi Tuhan. Kegembiraan semacam itu tidak mendatangkan keuntungan apapun kecuali kepuasan pribadi yang malah hanya mendatangkan murka Tuhan. Jika saudara menertawakan musuhmu yang jatuh, maka secara bertahap saudara sudah hidup dalam dosa dan dikuasai dosa. Kejahatan saudara itu bukan sedeharna karena saudara tidak lagi menjadikan hati, pikiran dan jiwa saudara dikendalikan Roh Tuhan. Ingat bagaimana orang seperti Kain bisa jadi jahat sebab ada kebencian dan keamarahan dalam hatinya.
Bagaimana kondisi saudara hari ini? Siapakah musuh saudara dan sudah berapa lama saudara bermusuhan? Sudahkah saudara mengampuni dan mengasihinya? Jangan katakan tidak bisa! Saudara yang perlu undang Roh Kudus berkarya memperbaharui pikiran dan sikap hati saudara. Mari kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Bukan dengan kebaikan sendiri tetapi dengan kebaikan yang bersumber dari kasih Tuhan Yesus.
SGRS

0 komentar:

Posting Komentar