Rabu, 20 November 2013

SBP, Rabu 20 Nopember 2013

Ratapan 3:55-57.

Dicampakkan ke dalam lobang lalu dilempari dengan batu, tentu ini merupakan pengalaman yang sangat menyakitkan, bahkan bisa mematikan. Membayangkan sajapun kita enggan, apalagi disuruh mengalami, pasti kita akan mengatakan "jangan sampailah yaow",
Tetapi peristiwa yang amat menyakitkan ini diceritakan penulis kitab Ratapan sebagai pengalamannya sendiri. Iakatakan, bahwa mereka melemparku hidup-hidup ke dalam lobang. Melontari aku dengan batu (Ayt.53). Siapakah sebenarnya penulis yang telah mengisahkan pengalaman tragisnya ini? Menurut tradisi gereja, penulis kitab Ratapan ini adalah nabi Yeremia, atau setidaknya hendak mengisahkan tentang pengalaman Yeremia. Jika memang benar begitu maka kita mendapat pelajaran bahwa seperti itulah tantangan seorang hamba Tuhan.
Dalam keadaan seperti itu Yeremia berseru memanggil nama Tuhan. Ia memohon supaya Tuhan tidak menutup telinga, tetapi mau segera menolongnya. Ia memohon karena percaya bahwa Tuhan, berada dekat dengannya. Allah, baginya hanya sejauh doa dan selalu akan memberi kekuatan. Sabdanya: "jangan takut!". Sabdanya ini merupakan pernyataan untuk meyakinkan bahwa Tuhan tidak berdiam diri terhadap hambanya yang berseru minta tolong.
Kemudian siapakah yang dimaksud dengan mereka? Ternyata tidak dijelaskan secara rinci dalam teks ini. Tetapi dapat kita pastikan bahwa mereka adalah orang-orang jahaat, sebab berniat menyakiti Yeremia.
Secara simbolik kata "Lubang" dapat juga berarti keadaan yang biasa membuat orang menderita. Sedangkan "lontaran batu" secara simbolik dapat diartikan sebagai lontaran cercaan, fitnahan, sinisme yang dapat membuat orang menjadi tersiksa. Jika penderitaan karena fitnahan dan sinisme menghujam hidup kita maka berserulah kepada Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan dekat denganMu dan akan segera menolongmu.

SHP

0 komentar:

Posting Komentar