Selasa, 19 November 2013

SBP, Selasa 5 Nopember 2013

Berkat Tuhan Nyata,
Hagai 2:19-20.

Umat diuji Tuhan untuk mengalami kelimpahan berkat dalam rentang waktu yang mereka jalani. Kenyataan pahit dialami umat saat hasil panen diserang hama, penyakit dan hujan batu. Pada kebudayaan tertentu, satu kampung bisa melakukan tradisi bersih kamoung atau ngalap berkah dengan mempersembahkan sesajian kepada dewa setempat. Situai buruk demikian harus segera diakhiri dengan ritual tertentu yang diyakini sebgaai solusi terbaik. Tanpa berbuat sesuatu, kehidupan terancam dan sama sekali tidak ada masa depan. Allah memberi diri-Nya diuji dalam memelihara umat yang sekarat. Keadaan mereka sangat memprihatinkan namun yang dibutuhkan adalah penyerahan diri. Mereka tidak perlu berkomentar bahwa kegagalan panen karena faktor alam atau cuaca ekstrem. Bukan karena alam, tetapi karena Allah. Allah Pencipta langit dan bumi tetap berkarya memperbaharui ciptaan-Nya secara berkesinambungan. Allah dapat mengurangi rejeki jika mereka memilih keinginan daging. Kerja keras mereka tidak cukup memelihara kebutuhan konkret rumah tangga. Lambat laun mereka diperhadapkan dengan kelaparan pangan dan kematian. Allah tidak menghendaki umat-Nya celaka setelah bertobat. Allah menjamin dan memberkati kerja mereka dengan kuasa-Nya.

Beribadah bukan sesuatu yang muda dilakukan. Jika mudah, pasti teman-teman GP dengan gembira pergi beribadah. Minimnya kehadiran pemuda dikomentari negatif: liturginya monoton, nyanyiannya tidak up to date, pengkhotbahnya kurang semangat dan seterusnya. Justru yang perlu kita renungkan bukan perangkat keras dalam ibadah itu, tetapi pribadi pemuda yang datang menghadap Tuhan. Beribadah bukan mencari kepuasan pribadi, tetapi menerima berkat Allah. Jelasnya, datang beribadah untuk menerima berkat Allah dan bersyukur atas setiap janji-Nya yang memberkati hidup kita. Pergilah beribadah dengan keyakinan bahwa hidup dan kerja saudara diberkati Allah.
SGRS

0 komentar:

Posting Komentar