Rabu, 12 Februari 2014

SBP, Rabu, 29 Januari 2014

Takluk,
Ibrani 11:17-19.

Saya membayangkan langkah laki-laki tua itu begitu lesu. Di sampingnya seorang anak remaja yang sedang tumbuh besar dan cakap, menjajari langkahnya dengan penuh tanda tany. Puncak gunung di tanah Moria masih samar di balik tatapannya yang gamang berkaca-kaca. Tuhan memerintahkannya mempersembahkan anaknya semata wayang sebagai korban bakaran. Ada rasa cemas dibalik dadanya yang renta. Aku ingin taat, tapi aku juga takut. Mungkin demikian jerit batin sang ayah.
Soren Kierkegaard, seorang filsuf asal Denmark, memotret peristiwa ini dalam tulisannya berjudul "Fear and Trembling". Judul buku ini dikutip dari Filipi 2:12. Secara khusus Kierkegaard membedah situasi batin seorang ayah yang harus melepas anak satu-satunya di mezbah persembahan. Di satu sisi sang ayah harus menaati perintah Tuhan, namun di sisi lain ia harus membunuh anak kandungnya sendiri. Sebuah ujian iman yang menakutkan dan menggentarkan, kata Kierkegaard.  Menakutkan karena peristiwa ini berpotensi menghadirkan tragedi berdarah: seorang ayah membunuh anaknya sendiri. Namun, sekaligus menggetarkan, karena di dalamnya terkandung sikap takluk kepada Allah secara utuh dan penuh.
Iman tanpa didasari sikap takluk, bukanlah iman yang sempurna. Takluk di sini berarti meletakkan segala-galanya pada kekuasaan Tuhan. Ini bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesiapan bergumul, kesiapan bergelut dengan rasa cemas, rasa takut, rasa gentar. Manusia memiliki kecenderungan narsistik, mencintai dirinya sendiri secara berlebihan, senantiasa dipenuhi keinginan duniawi. Olehnya, manusia terus bergumul melawan keinginan dirinya sendiri untuk bisa taat kepada Allah secara utuh dan penuh. Di sinilah pertempuran yang sesungguhnya. Keinginan daging yang membawa kepada kebinasaan harus tunduk di bawah keinginan Roh yang mendatangkan damai sejahtera, kata Paulus. Roh Tuhan yang kudus akan senantiasa menguatkan kita berada di bawah kuasa Tuhan dalam gentar dan takluk.

SBP, Selasa, 28 Januari 2014

Taat,
Efesus 6:1-2.

Sewaktu masih ABG dulu, saya tergolong anak yang keras kepala. Segala yang disuruh ibu saya, jarang sekali saya turuti. Disuruh menyiram tanaman, saya malah asyik membaca komik. Disuruh potong rambut, saya malah tetap membiarkan rambut saya panjang. Alhasil di sekolah malah guru saya yang mencukur habis rambut saya sampai coak-coak nggak karuan. Dengan bahasa belanda yang belum fasih, Ibu saya sering menyebut saya koppig: kepala batu. Tentu saja sikap kepala batu ini merupakan sebuah contoh yang buruk.
Kepada Jemaat di Efesus Rasul Paulus memberi penekanan mengenai kehidupan sebuah keluarga, dan bacaan kita pada hari ini penekanannya mengenai sikap taat yang harus dimiliki seorang anak kepada orang tuanya. Uraian ini sebetulnya sangat normatif, "karena haruslah demikian," kata Paulus. Akan tetapi hal yang normatif seperti taat dan hormat pada orang tua kita bukan sekedar sebuah "kewajiban", melainkan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Tuhan. Maka itulah Paulus memberi penekanan lagi: "Ini adalah suatu perintah yang penting." Perintah siapa? Tentu saja perintah Tuhan sebagaimana tercantum dalam Dasa Titah.

Dewasa ini tak sedikit kita mendengar konflik terjadi antara anak dan orang tua. Hal ini bisa jadi karena nilai-nilai Ketuhanan tadi belum sepenuhnya melingkupi kehidupan keluarga ini. Kehadiran Tuhan di tengan kehidupan keluarga hanya dipandang sambil lalu saja. Padahal, kita tahu, "berbahagia tiap rumah tangga, di mana Kaulah tamu yang tetap." Ketaatan dan sikap hormat kepada orang tua pun haru dilandasi nilai-nilai Ketuhanan tadi. Karena Tuhanlah yang menganugerahkan kedua orang tua kita, sehingga seyogyanya, kita menghormati mereka dengan sikap taat seperti kepada Tuhan.

Selasa, 11 Februari 2014

SBP, Senin, 27 Januari 2014

Tetap,
Bilangan 23 : 17-20.

Masih tertinggal dalam ingatan saya potongan lagu yang  diplesetkan itu: "Lauk pauk tidak berubah, tidak berubah, tidak berubah...." Aksi Bakti Sosial Pemuda di Cikaso, tahun 1997. Ratusan pemuda menyanyikan itu ketika tim konsumsi dari atas tronton atau mobil bak terbuka membagi-bagikan makanan yang isinya selalu sama dari hari ke hari. Nasi putih, sayur daun singkong dan telur rebus. Tentu saja plesetan yang berulang-ulang dinyanyikan saban menjelang makan siang itu sekedar guyon, bukan bermaksud nyinyir atas berkat Tuhan yang telah disediakan panitia.
Lauk pauk di kegiatan ABSP tadi tidak berubah. Begitu juga sikap TUHAN Allah terhadap umat Israel. Kendati umat Israel terkenal tegar tengkuk, janjiNya untuk senantiasa memberkati umat Israel tidak berubah. Itulah yang disampaikan Bileam kepada Balak, raja orang Moab, manakala Balak meminta Bileam menyerapahi umat Israel dengan kutuk. Dikatakan Bileam, bahwa firman Tuhan tak pernah berubah. Tiga kali banyaknya Balak meminta Bileam mengucapkan sumpah serapah yang diwarnai kutuk, berkali-kali pula Bileam mengatakan bahwa TUHAN Allah tetap memberkati Israel. Allah telah berjanji untuk memberkati umat Israel, dan janji itu tak akan lekang.
Barangkali kita merasa bahwa Tuhan telah ingkar janji karena kehidupan kita yang tak kunjung berhasil. Kegagalan demi kegagalan kadangkala kita alami. Justru ditengah situasi seperti itu, sebaiknya kita mengingat kembali Amanat Agung yang pernah disampaikan Tuhan Yesus. Ia akan menyertai kita sampai akhir zaman. Artinya, tidak sedikit pun peristiwa dalam hidup kita yang lepas dari campur tanganNya. Allah terus berkarya dalam hidup kita. Demikianlah inti iman kita, yakni dengan senantiasa membiarkan Allah berkarya dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang hidup dalam rencana Allah. Langit dan bumi akan lenyap, tetapi firman Allah tinggal tetap.

SBP, Minggu, 26 Januari 2014

Telaten,
Lukas 11 : 27-28.

Kakak saya senang berkebun. Walaupun jenis tanaman yang dia miliki tidak terlalu banyak, namun ia merawatnya dengan telaten. Halaman rumah yang tidak seberapa luas jadi tampak asri dan enak dipandang. Kalau pagi datang, embun yang menetes di daun-daunnya menambah kesegaran mata. Saat senja menjelang, cahaya temaram sore menerpa daun-daun itu pula, memantulkan warna keperakan yang anggun. Segala keindahan itu bisa tetap terjaga tak lain karena kakak saya begitu peduli dengan tanaman-tanamannya, sehingga sebutir debu pun tak pernah luput dari perhatiaannya.
Segala sesuatu yang kita rawat dengan teliti lahir dari sikap peduli. Kepedulian itulah yang membuat kita begitu telaten memberi perhatian penuh. Kepedulian menjauhkan kita dari sikap setengah-setengah. Kalau hal-hal seperti layaknya tanaman saja bisa begitu kita pelihara, rawat dan jaga, terlebih lagi firman Allah. Memelihara firman Allah tak bisa setengah-setengah. Kata "memelihara" yang dipakai di Injil Lukas ini bisa juga berarti menjaga dengan sungguh-sungguh menjaga dengan penuh perhatian.
Firman Allah yang kita baca, dengar, renungkan, haruslah menjadi perhatian utama kita. Karena firman itu berasal dari Allah. Segala yang berasal dari Allah jangan pernah kita sia-siakan, atau kita pandang sambil lalu. Dikatakan bahwa mereka yang berbahagia adalah mereka yang mendengar firman Allah dan memeliharaNya. Hal ini mengandung pengertian, hidup kita akan senantiasa dipenuhi sukacita ketika kita membiarkan firman Allah melekat dalam hidup kita.

Memelihara firman Allah juga berarti kita peduli. Kita mendengarnya dengan penuh perhatian, bukan malah melantur dengan pikiran yang mengembara kemana-mana. Dunia  ini begitu penuh dengan berbagai hal yang sering mengalihkan kita dari firman Tuhan. Maka itu, belajarlah untuk terus peduli, tekun dan penuh perhatian terhadap firman Allah yang kita dengar, kita baca, kita terima.

SBP, Sabtu, 25 Januari 2014

Strategi Perang Israel,
Hakim-Hakim 7:17-18.

Bangsa Midian adalah anak Abraham dengan gundiknya: Ketura. Namun, Abraham tidak ingin anak-anak gundiknya menjadi umat perjanjian bersama anaknya, Ishak. Abraham memberi mereka kekayaan lalu menyuruh mereka pergi dan tinggallah mereka di timur Kanaan (Kej 25:1-6).
Bangsa Midian sebagai keturunan Abraham sakit hati tidak menjadi bagian dari perjanjian Allah dengan Abraham, maka bangsa Midian memusuhi bangsa Israel dan hendak menghancurkannya. Di samping itu, apa yang dialami Israel adalah karena dosa perilahannya di hadapan Tuhan.

Setelah bertobat, Israel mengusir bangsa Midian yang mengganggu ketentramannya dipimpin oleh Gideon.
Gideon dan pasukannya hanya memakai strategi : mengelilingi kemah bangsa Midian, lalu dengan kompak bersama-sama memasang obor - meniup sangkakala perang - sambil memecahkan buyung, dan berteriak "Pedang demi Tuhan dan Gideon" !
Bunyi sangkakala dan buyung pecah serta teriakan yang serba tiba-tiba itu mengejutkan bangsa Midian. Bangsa Midian berhamburan keluar kemah dengan pedang terhunus. Ketika melihat obor sekeliling kemah mereka, Tuhan membuat mereka saling ketakutan melihat kilat pedang sesamanya, dikira musuh hendak membantai mereka. Akhirnya mereka lari meninggalkan kemah.

GP-ers yang terkasih, Tuhan menghukum dosa perilahan Israel melalui kehadiran bangsa Midian untuk menjajah mereka. Tetapi pertobatan Israel membuat Tuhan berkenan memberikan strategi perang besar kepada Gideon dan pasukan Israel untuk memerangi bangsa Midian, tanpa saling membunuh atau pertumpahan darah.

Akar peperangan Israel dan Midian itu adalah dosa Israel. Perang berakhir karena pertobatan Israel. Perhatikanlah bahwa Tuhan dapat berbuat apa saja untuk menghukum umat-Nya yang berdosa. Jadi, janganlah berbuat dosa, supaya terhindar dari kesusahan.

Sabtu, 08 Februari 2014

SBP, Jumat, 24 Januari 2014

Strategi Misioner,
1 Korintus 9:19-23.

Rasul Paulus bukan munafik kalau ia mengungkapkan bahwa ia bersikap seperti segala orang di lingkungannya. Sikap merendahkan diri dan penyesuaian, bagi rasul Paulus merupakan jalan masuk untuk diterima dalam masyarakat. Tujuannya agar memperoleh peluang bagi melaksanakan misi. Banyak cara yang baik dan tepat sesuai situasi sebagai strategi missioner dalam rangka memenangkan  jiwa bagi Kristus.

Sekarang ini, memberitakan injil kepada sesama di masyarakat telah dibatasi atau ditutup dengan berbagai peraturan, oleh pihak yang merasa kuatir kehilangan kwantitas umat. Mereka melarang pekabaran injil dan menggiring penginjilan ke pedalaman serta beribadah di hutan atau gunung. Sikap ini adalah tindakan yang mencegah orang untuk memperoleh keselamatan dalam Kristus.
Berbeda dengan sikap gereja, yang tidak perlu melarang misi agama apapun di sekitar gereja. Gereja mengutamakan pembinaan umat untuk memelihara kwalitas iman dan setiap orang bertanggungjawab atas iman pribadinya kepada Tuhan.
Gereja cukup mengingatkan umat tentang firman Kristus bahwa gereja hadir di dunia adalah seperti domba di tengah serigala, karena itu gereja harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat 10:16). Maksudnya, supaya umat selalu waspada, setia atau murtad ada risikonya.

GP-ers yang kekasih, kita harus mengabarkan injil kepada sesama di lingkungan masyarakat kita. Tetapi tidak perlu sakit hati atau melawan larangan misi yang ada. Berdoalah dan gunakan akal sehat untuk melakukan misi. Tuhan yang bersama kita akan membuka jalan bagi kita untuk memberitakan injilNya seperti sikap yang diungkapkan oleh rasul Paulus.

SBP, Kamis, 23 Januari 2014

Tuhan Menggenapi Janjinya,
2 Tawarikh 6:10-11.

Ada nyanyian: "Tinggi Gunung sribu janji, tak terbatas kata-kata." Itulah janji manusia, banyak bohongnya dari pada benarnya. Tetapi tidak demikian janji Tuhan. Tuhan berjanji kepada Daud bahwa Salomo akan menjadi raja menggantikannya dan akan mendirikan rumah bagi nama Tuhan. Tuhan menepati janjiNya kepada Daud dan Kebenaran janji Tuhan dialami oleh raja Salomo sendiri.

Dalam bacaan kita, 2 Tawarikh 6:10-11, raja Salomo bersaksi bahwa ia membangun rumah bagi nama Tuhan dan meletakkan tabut perjanjian Tuhan dengan Israel dalam nama Tuhan. Tabut berisi dua loh batu mengenai "Sepuluh Firman Tuhan" dan "tongkat Musa" yang bertunas. Makna tabut adalah kehadiran Tuhan yang mengikat perjanjian dengan Israel (pada "Sepuluh Firman" itu), akan selalu menjadi sandaran dan pedoman hidup bangsa Israel. Sebab janji Tuhan itu benar dan menjadi cermin pengharapan.
Dengan demikian Israel akan selalu setia pada Tuhan dan menjalankan kehidupannya bagi kebesaran nama Tuhan.
Ini merupakan suatu citra rohani seorang raja yang takut akan Tuhan dan memimpin rakyat sebagai umat Tuhan dalam terang kebenaran serta percaya kepada janji Tuhan.

GP-ers, bila anda melihat berkat Tuhan menyertai karya anda, maka hendaklah anda bersyukur dan bersandarlah pada firman Tuhan yang merupakan janji bagi kesuksesan anda. Janji Tuhan merupakan sandaran yang teguh bagi masa depan yang tidak mengecewakan.
Belajarlah dari iman raja Salomo dan sikap hidupnya yang memperhatikan perbuatan Tuhan dalam hidupnya, sehingga ia menyelaraskan hidupnya terhadap janji Tuhan. Dan raja salomo menjadi raja Israel yang besar dan sukses bahkan sebelum dan sesudahnya tidak ada yang seperti dia.