Takluk,
Ibrani 11:17-19.
Saya membayangkan langkah laki-laki tua itu begitu lesu. Di sampingnya seorang anak remaja yang sedang tumbuh besar dan cakap, menjajari langkahnya dengan penuh tanda tany. Puncak gunung di tanah Moria masih samar di balik tatapannya yang gamang berkaca-kaca. Tuhan memerintahkannya mempersembahkan anaknya semata wayang sebagai korban bakaran. Ada rasa cemas dibalik dadanya yang renta. Aku ingin taat, tapi aku juga takut. Mungkin demikian jerit batin sang ayah.
Soren Kierkegaard, seorang filsuf asal Denmark, memotret peristiwa ini dalam tulisannya berjudul "Fear and Trembling". Judul buku ini dikutip dari Filipi 2:12. Secara khusus Kierkegaard membedah situasi batin seorang ayah yang harus melepas anak satu-satunya di mezbah persembahan. Di satu sisi sang ayah harus menaati perintah Tuhan, namun di sisi lain ia harus membunuh anak kandungnya sendiri. Sebuah ujian iman yang menakutkan dan menggentarkan, kata Kierkegaard. Menakutkan karena peristiwa ini berpotensi menghadirkan tragedi berdarah: seorang ayah membunuh anaknya sendiri. Namun, sekaligus menggetarkan, karena di dalamnya terkandung sikap takluk kepada Allah secara utuh dan penuh.
Iman tanpa didasari sikap takluk, bukanlah iman yang sempurna. Takluk di sini berarti meletakkan segala-galanya pada kekuasaan Tuhan. Ini bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesiapan bergumul, kesiapan bergelut dengan rasa cemas, rasa takut, rasa gentar. Manusia memiliki kecenderungan narsistik, mencintai dirinya sendiri secara berlebihan, senantiasa dipenuhi keinginan duniawi. Olehnya, manusia terus bergumul melawan keinginan dirinya sendiri untuk bisa taat kepada Allah secara utuh dan penuh. Di sinilah pertempuran yang sesungguhnya. Keinginan daging yang membawa kepada kebinasaan harus tunduk di bawah keinginan Roh yang mendatangkan damai sejahtera, kata Paulus. Roh Tuhan yang kudus akan senantiasa menguatkan kita berada di bawah kuasa Tuhan dalam gentar dan takluk.
Ibrani 11:17-19.
Saya membayangkan langkah laki-laki tua itu begitu lesu. Di sampingnya seorang anak remaja yang sedang tumbuh besar dan cakap, menjajari langkahnya dengan penuh tanda tany. Puncak gunung di tanah Moria masih samar di balik tatapannya yang gamang berkaca-kaca. Tuhan memerintahkannya mempersembahkan anaknya semata wayang sebagai korban bakaran. Ada rasa cemas dibalik dadanya yang renta. Aku ingin taat, tapi aku juga takut. Mungkin demikian jerit batin sang ayah.
Soren Kierkegaard, seorang filsuf asal Denmark, memotret peristiwa ini dalam tulisannya berjudul "Fear and Trembling". Judul buku ini dikutip dari Filipi 2:12. Secara khusus Kierkegaard membedah situasi batin seorang ayah yang harus melepas anak satu-satunya di mezbah persembahan. Di satu sisi sang ayah harus menaati perintah Tuhan, namun di sisi lain ia harus membunuh anak kandungnya sendiri. Sebuah ujian iman yang menakutkan dan menggentarkan, kata Kierkegaard. Menakutkan karena peristiwa ini berpotensi menghadirkan tragedi berdarah: seorang ayah membunuh anaknya sendiri. Namun, sekaligus menggetarkan, karena di dalamnya terkandung sikap takluk kepada Allah secara utuh dan penuh.
Iman tanpa didasari sikap takluk, bukanlah iman yang sempurna. Takluk di sini berarti meletakkan segala-galanya pada kekuasaan Tuhan. Ini bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesiapan bergumul, kesiapan bergelut dengan rasa cemas, rasa takut, rasa gentar. Manusia memiliki kecenderungan narsistik, mencintai dirinya sendiri secara berlebihan, senantiasa dipenuhi keinginan duniawi. Olehnya, manusia terus bergumul melawan keinginan dirinya sendiri untuk bisa taat kepada Allah secara utuh dan penuh. Di sinilah pertempuran yang sesungguhnya. Keinginan daging yang membawa kepada kebinasaan harus tunduk di bawah keinginan Roh yang mendatangkan damai sejahtera, kata Paulus. Roh Tuhan yang kudus akan senantiasa menguatkan kita berada di bawah kuasa Tuhan dalam gentar dan takluk.